Ghosting, Centang Dua
#Tagur 1100/1840
Cerita Anak Kampus: (12) Ghosting, Centang Dua
UTS Baru saja berakhir.
Koridor kampus yang seminggu terakhir dipenuhi wajah tegang kini kembali ramai oleh tawa. Ada yang mengajak makan bakso, ada yang berburu es kopi, ada pula yang sibuk menghitung kemungkinan nilai.
Namun bagi Alya, selesai ujian berarti satu hal yang paling ia tunggu.
Pesan dari Raka.
Selama hampir tiga bulan terakhir, mereka seperti memiliki dunia sendiri. Belajar bersama di perpustakaan, saling mengirim rangkuman materi hingga tengah malam, dan menyemangati satu sama lain sebelum ujian dimulai.
"Semangat ya. Setelah UTS kita makan sepuasnya."
Begitu janji Raka dua hari sebelumnya.
Alya masih menyimpan tangkapan layarnya.
Sore itu Alya mengirim pesan.
"UTS-mu gimana?"
Centang satu.
Beberapa menit kemudian berubah menjadi centang dua.
Tidak dibalas.
"Mungkin masih di jalan," pikirnya.
Malam datang.
Tak ada balasan.
Esok paginya Alya kembali mengirim pesan.
"Sudah istirahat?"
Centang dua.
Tetap sunyi.
Hari berganti.
Seminggu berlalu.
Raka seperti menghilang ditelan kesibukan.
Yang lebih menyakitkan, ia masih sering terlihat online.
Namun bukan untuk Alya.
Berkali-kali Alya membuka ruang chat yang sama. Membaca ulang percakapan lama. Tersenyum pada candaan yang dulu terasa hangat, lalu perlahan menitikkan air mata karena sadar... semua itu kini tinggal jejak digital.
Yang paling menyakitkan ternyata bukan kata "selamat tinggal".
Melainkan tidak ada penjelasan sama sekali.
Suatu siang, Alya melihat Raka berjalan di halaman fakultas.
Ia tampak sehat.
Tertawa bersama teman-temannya.
Tidak terlihat seperti seseorang yang kehilangan ponsel atau sedang mengalami masalah.
Alya memberanikan diri menghampiri.
"Rak..."
Raka menoleh.
Wajahnya berubah canggung.
"Hai..."
"Aku salah apa?"
Pertanyaan itu meluncur pelan.
Bukan dengan nada marah.
Melainkan dengan suara yang hampir patah.
Raka menarik napas panjang.
"Aku minta maaf."
"Lalu?"
"Aku takut."
Alya mengernyit.
"Takut apa?"
"Ayahku terkena PHK seminggu sebelum UTS. Aku harus pulang ke kampung. Kemungkinan aku cuti kuliah semester depan. Aku malu. Aku tidak tahu harus menjelaskan apa."
Alya terdiam.
Selama ini ia mengira dirinya ditinggalkan.
Padahal, orang yang menghilang itu sedang berjuang menahan runtuhnya dunia.
"Aku berpikir... kalau aku menjauh, kamu akan lebih mudah melupakanku."
Alya menggeleng pelan.
"Kamu tahu yang paling menyakitkan?"
"Apa?"
"Bukan karena kamu pergi."
"Tapi karena kamu membuatku menebak-nebak kesalahan yang tidak pernah kulakukan."
Raka menundukkan kepala.
Matanya memerah.
"Aku salah."
"Aku kira diam adalah cara paling baik."
"Padahal diam juga bisa melukai."
Beberapa bulan kemudian, bangku di sebelah Alya tetap kosong.
Raka benar-benar mengambil cuti kuliah.
Sesekali ia mengirim kabar dari kampung, membantu ibunya berjualan dan bekerja serabutan sambil menabung agar bisa kembali kuliah.
Hubungan mereka tidak lagi seperti dulu.
Namun tidak ada lagi luka yang menggantung tanpa jawaban.
Alya akhirnya mengerti bahwa tidak semua orang yang menghilang berhenti peduli.
Sebagian sedang berjuang menyelamatkan hidupnya sendiri.
Sedangkan Raka belajar satu hal yang tak pernah diajarkan di ruang kuliah.
Gemurung_27 Juli 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan