Surat yang Tak Pernah Kukirim
#Tagur 1101/1841
Cerita Anak Kampus: (13) Surat yang Tak Pernah Kukirim
"Kalau lagi capek, pulang saja."
Kalimat itu selalu diucapkan Ibu setiap kali menelepon.
Dan seperti biasa, Fajar selalu menjawab dengan kebohongan yang sama.
"Aku baik-baik saja, Bu."
Padahal, baik-baik saja adalah kalimat yang paling mahal untuk diucapkan seorang anak rantau.
Fajar kuliah dengan beasiswa.
Nilainya bagus.
Ia aktif di organisasi.
Di media sosial, hidupnya tampak sempurna.
Foto presentasi.
Foto nongkrong, sambil ngopi.
Foto senyum bersama teman-teman.
Tak ada yang tahu bahwa setelah foto itu diambil, ia menghitung sisa uang di dompet sebelum memutuskan apakah esok masih bisa makan.
Tak ada yang tahu ia pernah berjalan kaki hampir satu jam karena motornya kehabisan bensin.
Tak ada yang tahu ia sering minum air putih lebih banyak agar rasa lapar tak terasa.
Satu-satunya tempat ia jujur hanyalah sebuah buku tua.
Melainkan kumpulan surat.
Semua diawali dengan kalimat yang sama.
"Untuk Ibu..."
Setiap kali hidup terasa terlalu berat, Fajar menulis.
Tentang rasa lelah.
Tentang rasa takut.
Tentang ingin menyerah.
Lalu surat itu dilipat.
Disimpan.
Tidak pernah dikirim.
Baginya, lebih baik menahan sesak sendiri daripada membuat ibunya kehilangan tidur.
Empat tahun berlalu.
Hari wisuda akhirnya tiba.
Fajar dinobatkan sebagai lulusan terbaik fakultas.
Seluruh aula berdiri memberikan tepuk tangan.
Ia mencari satu wajah di antara lautan manusia.
Ibu.
Di barisan depan, perempuan sederhana itu tersenyum bangga sambil menggenggam tas kain lusuh yang selalu dibawanya ke mana-mana.
Setelah acara selesai, teman-teman mengerumuni Fajar.
Berfoto.
Memberi selamat.
Dosen menyalami.
Suasana riuh oleh tawa.
Sampai tiba-tiba...
Ibu datang sambil membawa sesuatu.
Buku tulis cokelat.
Jantung Fajar seperti berhenti.
Itu buku suratnya.
"Bu... itu dari mana?"
Ibu tersenyum pelan.
"Tadi jatuh dari kardus waktu Ayah kosmu membantu membereskan barang."
Wajah Fajar mendadak pucat.
Seluruh tubuhnya kaku.
"Maaf..."
"...Ibu membacanya."
Dunia seakan kehilangan suara.
Tepuk tangan.
Obrolan.
Musik wisuda.
Semuanya lenyap.
Yang tersisa hanya rasa takut.
Takut melihat ibunya kecewa.
Takut mengetahui bahwa selama ini ia telah membohongi perempuan yang paling mencintainya.
Air mata mulai jatuh.
"Maaf, Bu."
"Aku nggak pernah cerita kalau aku sering kelaparan."
"Aku nggak pernah cerita kalau uang beasiswaku pernah terlambat."
"Aku nggak pernah cerita kalau aku hampir berhenti kuliah."
"Aku cuma nggak mau Ibu sedih."
Ibu memeluknya erat.
Sangat erat.
Lalu berkata lirih,
"Yang membuat Ibu sedih..."
"...bukan karena kamu pernah menderita."
"Tapi karena kamu memilih menderita sendirian."
Fajar menangis seperti anak kecil.
Namun ternyata, bukan itu kejutan terbesar hari itu.
Ibu membuka halaman terakhir buku tersebut.
Di sana ada satu surat yang belum selesai ditulis.
Tintanya berhenti di tengah kalimat.
'Bu... kalau suatu hari aku gagal lulus...'
Kalimat itu terputus.
Ibu mengeluarkan selembar kertas kecil dari tasnya.
"Itu bukan tulisanmu."
Fajar mengernyit.
Ibu menyerahkan kertas itu.
Tulisan tangan itu sangat dikenalnya.
Tulisan milik ibunya.
“Fajar... Ibu memang membaca semua suratmu hari ini. Maaf karena tidak sengaja. Tapi sekarang giliran Ibu yang menjawab. Nak, kamu tidak pernah gagal membanggakan Ibu. Gelarmu bukan hadiah terbesarmu. Hadiah terbesar bagi Ibu adalah melihatmu tetap menjadi anak yang jujur, baik hati, dan tidak menyerah. Kalau suatu hari hidupmu kembali berat, jangan lagi menulis surat yang hanya disimpan. Teleponlah Ibu. Sebab seorang ibu tidak pernah keberatan menjadi tempat pulang anaknya.”
Fajar tak lagi sanggup membaca.
Tangisnya pecah.
Bukan karena ia diwisuda.
Bukan karena menjadi lulusan terbaik.
Melainkan karena baru hari itu ia menyadari satu kenyataan yang selama ini ia abaikan.
Selama empat tahun, ia sibuk menulis surat agar ibunya tidak terluka.
Padahal...yang paling melukai seorang ibu bukanlah mengetahui penderitaan anaknya, melainkan mengetahui bahwa anaknya merasa harus menanggung semuanya sendirian.
Di tengah riuh tepuk tangan wisuda, Fajar akhirnya memeluk ibunya lebih lama dari biasanya.
Karena ada pelukan yang tak akan pernah bisa digantikan oleh seribu lembar surat.
Dan sejak hari itu, setiap kali hidup terasa berat, ia tidak lagi membuka buku tulis cokelat itu.
Ia membuka daftar kontak.
Lalu menekan satu nama.
Ibu....
Gemurung_28 Juli 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan