Effi susanti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Langkah yang Tak Terbayar (14)

#Tagur 1105/1845

Cerita Anak Kampus: (14) Langkah yang Tak Terbayar

"Selamat. Anda diterima sebagai peserta magang."

Dika membaca kalimat itu tiga kali.

Lalu tersenyum lebar.

Akhirnya...

Setelah mengirim belasan lamaran dan berkali-kali ditolak, ada juga pintu yang terbuka.

Ia langsung menelepon ibunya.

"Bu... aku diterima magang!"

Suara ibunya terdengar begitu bahagia.

"Alhamdulillah. Nanti kalau sudah dapat gaji pertama, jangan lupa traktir adikmu."

Dika terdiam sesaat.

Ia belum sempat membaca seluruh isi surat elektronik itu.

Matanya kembali menelusuri paragraf terakhir.

Program ini merupakan program pembelajaran. Peserta tidak memperoleh uang saku maupun gaji.

Senyumnya perlahan memudar.

"Jadi... kamu tetap ambil?"

Reno mengernyit ketika Dika bercerita di kantin.

"Ngapain capek-capek kalau nggak dibayar?"

"Iya. Mending cari kerja part time."

"Capeknya sama."

"Minimal dapat uang."

Dika mengaduk es tehnya pelan.

Ia juga memikirkan hal yang sama.

Uang tabungannya tinggal sedikit.

Ongkos pergi-pulang bukan angka kecil.

Belum lagi makan siang.

Namun di sisi lain...

Perusahaan itu adalah tempat yang selama ini hanya bisa ia lihat dari layar laptop.

Hari pertama magang.

Dika datang paling pagi.

Ruang kerja belum ramai.

Ia duduk di meja kecil dekat jendela.

Tak ada kursi ergonomis.

Tak ada ruang khusus.

Bahkan kartu identitasnya bertuliskan kecil:

INTERN

Beberapa pegawai lalu-lalang tanpa sempat menyapanya.

Ada yang bahkan mengira ia kurir.

"Mas, paketnya taruh sana saja."

Dika hanya tersenyum.

Ia memilih menyimpan gengsi di dalam tas bersama laptopnya.

Hari-hari berikutnya tidak lebih mudah.

Teman-temannya mengunggah foto nongkrong.

Dika mengunggah foto layar Excel.

Teman-temannya berburu promo kopi.

Dika berburu bus terakhir agar ongkos tidak membengkak.

Pernah suatu siang ia hanya makan roti isi karena uang di dompet tinggal cukup untuk ongkos pulang.

Saat itu ponselnya berbunyi.

Video call dari ibu.

"Sudah makan, Nak?"

Dika tersenyum lebar.

"Sudah, Bu."

Padahal botol air mineral di mejanya jauh lebih penuh daripada perutnya.

Memasuki minggu keenam, sebuah proyek penting mendadak bermasalah.

File presentasi klien hilang beberapa jam sebelum rapat.

Ruangan panik.

Semua orang mencari cadangan data.

Tak ada.

Dika mengangkat tangan pelan.

"Maaf, Pak..."

"Saya punya salinan."

Semua kepala menoleh.

"Sejak awal saya selalu membuat backup di penyimpanan awan. Takut kalau ada kejadian seperti ini."

Ruangan mendadak sunyi.

File berhasil dipulihkan.

Presentasi berjalan lancar.

Klien tetap menandatangani kerja sama.

Sore itu, untuk pertama kalinya, manajer menghampiri meja kecil Dika.

"Terima kasih."

Dika hanya mengangguk.

Baginya, ucapan itu terasa lebih mahal daripada uang makan hari itu.

Hari terakhir magang tiba.

Peserta lain sibuk berfoto.

Sebagian mengeluh karena tidak mendapat uang saku.

Sebagian lagi berkata,

"Capek-capek dua bulan, hasilnya cuma sertifikat."

Dika tersenyum.

Ia memasukkan sertifikat itu ke dalam map.

Dalam hati ia juga bertanya, Apa benar hanya ini hasilnya?

Sebelum pulang, bagian HR memanggilnya.

"Mas Dika, ada titipan."

Sebuah amplop?

Bukan.

Sebuah kotak kecil berisi kartu nama.

Di belakangnya terselip secarik catatan.

"Hubungi saya setelah wisuda."

Tanpa nama.

Tanpa penjelasan.

Enam bulan kemudian.

Dika lulus.

Ia hampir melupakan kartu itu.

Iseng ia menghubungi nomor yang tertera.

Suara di seberang langsung menjawab.

"Dika?"

"Masih ingat meja kecil dekat jendela?"

Dika tersenyum.

"Tentu, Pak."

"Saya sengaja menempatkanmu di sana."

Dika terdiam.

"Saya ingin melihat satu hal."

"Apa, Pak?"

"Apakah kamu tetap bekerja sungguh-sungguh saat merasa tidak diperhatikan."

Jantung Dika berdetak lebih cepat.

Manajer itu melanjutkan,

"Backup file bukan alasan utama kami menghubungimu."

"Yang kami lihat adalah kebiasaanmu datang paling pagi."

"Tidak pernah mengeluh."

"Merapikan ruang rapat meski bukan tugasmu."

"Dan tetap menghormati semua orang, bahkan ketika ada yang mengira kamu hanya kurir."

Dika menelan ludah.

"Sebenarnya..."

"...selama magang itu kami sedang menilai karakter, bukan sekadar kemampuan."

Beberapa hari kemudian, sebuah surel resmi masuk.

"Selamat. Anda diterima sebagai Management Traineer."

Gajinya jauh melampaui bayangan Dika saat pertama kali membaca pengumuman magang.

Ia teringat ucapan teman-temannya.

"Ngapain magang kalau nggak dibayar?"

Kini ia mengerti.

Tidak semua imbalan datang di hari yang sama dengan usaha.

Ada yang baru mengetuk pintu ketika orang lain sudah berhenti menunggu.

Dika menelepon ibunya.

"Bu..."

"Kali ini benar."

"Traktiran pertamaku bukan dari uang magang."

"Melainkan dari kesempatan yang lahir karena aku tidak memilih menyerah."

Di ujung telepon, ibunya tertawa bahagia.

Sementara Dika menatap kartu identitas lamanya yang bertuliskan INTERN.

Ia tidak membuangnya.

Karena benda sederhana itu selalu mengingatkannya bahwa langkah-langkah yang tampak tidak menghasilkan apa-apa, sering kali sedang mengantarkan seseorang menuju pintu yang jauh lebih besar.

Dan ia akhirnya paham...

Tidak semua perjuangan dibayar lebih dulu. Ada yang dibayar setelah kita membuktikan siapa diri kita ketika tak ada seorang pun yang sedang bertepuk tangan.

Gemurung_1 Agustus 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post