' Akan aku bawa pulang TANAH dan AIR ku ke Indonesia..!! '.
" Akan aku bawa pulang TANAH dan AIR ku ke Indonesia..!! ".
Itulah kata kataku yang aku bisikkan pada sahabat Karibku, Raden Imam Wahyudi, yang sedikit terlihat mengantuk karena kecapekan,di saat kereta api yang membawa kami menjelang memasuki kota Amsterdam, Belanda.
Kami menyempatkan diri untuk mengunjungi negara ini setelah menghadiri undangan dari Alva Aktiv German Language School di Kota Heidelberg dan Presentasi program undergraduate untuk lulusan SMA di kampus Kalsruhe Institute for Technology and Science - KIT di kota Kalsruhe Negara Jerman.
Oh, iya,..Kota Amsterdam ini merupakan ibukota Kerajaan Belanda dengan populasi sekitar 7 juta jiwa yang menyebar sampai pinggiran kota di mana lokasinya sebelah utara di barat negara Belanda. Kota yang berarti danau, bendungan atau sungai lebar yaitu Amsterle, yang sekarang menjadi Amsterdam. Perlu untuk diketahui kota yang hanya setinggi 2 meter dari permukaan air laut ini rawan banjir terutama jika air laut pasang naik dan curah hujan tinggi pada saat awal musim gugur, musim semi dan akhir musim panas.
Oleh karena itu, dibuatlah banyak kanal untuk menahan air sekaligus untuk transportasi sungai yang menjadi Ikon di banyak kota di Negara Belanda. Maka sekarang, jadilah kota Amsterdam, selain juga ada kota lain yaitu Rotterdam, Volendam..wow, pokoknya bayangin aja, jika kota yang sering bermasalah dengan banjir, namanya ada DAM-nya..,keren kan?. Namun jangan lantas merubah nama Jakarta menjadi Jakartadam, atau Terendam... aah,nggak enak jika didengarkan. 😄.
Karena sudah hampir malam, kami memutuskan menginap di losmen kuno yang bangunannya semuanya dari kayu itupun tingkat 4. wow..tanpa lift, ..ya sudah, karena dapat dilantai 3. ya jadilah ikut fitness malam hari dengan sangat terpaksa. Saat memasuki kamar, aku memperhatikan kayu kayu yang dipakai untuk membangun hotel itu. 'Ini kayu jati niih ?!..,'.Kataku pada pak Imam. 'Hutan jati terbesar di Asia itu ada di Indonesia,pak ! ". Tambahku lagi.
"Waah,..ini pasti 1 abad yang lalu diambil dari negaraku dan dibawa dengan kapal ke Belanda saat jaman penjajahan dulu..!".
Pak Imam dengan wajah serius menjawabku: " Lha, terus.. ,gimana..?.
" Lihat,..akan aku bawa pulang ke Indonesia !..". Tegasku pada beliau. Dan kami tertawa berdua. Aah..,gimana juga caranya membawa pulang..hufs ..sambil cari akal nih". Pikiranku segera berputar.
Keesokan harinya,kami pergi ke Amsterdam Centraal, yaitu stasiun terbesar yang bangunannya terlihat seperti hotel jika dilihat dari kejauhan. Udara di kota ini sangatlah dingin,yaitu berkisar 3 derajat diwaktu siang dan 1 derajat di waktu malam,serta angin bertiup kencang dengan curah hujan tipis karena sedang musim dingin pada saat saya datang.
Segera, Kami pergi ke kota Volendam karena ada sesuatu hal yang harus kami kerjakan di sana. Perjalanan kurang lebih ditempuh sekitar 36 menit dari stasiun centraal dengan naik bus. Sepanjang perjalanan, aku mengamati daerah pedesaan dimana rumah rumah yang saling berjauhan satu sama lain. Juga banyak kincir angin besar di kanan kiri jalan yang berfungsi untuk menaikkan air dari kanal yang bawah ke kanal yang lebih tinggi sebelum dialirkan ke laut.
Luar biasa sistem pengairannya. pantas saja,.Ibu Risma,Walikota Surabaya yang sekarang, pernah menempuh studi di Belanda untuk mengatasi banjir di kota Pahlawan itu dan buktinya,.Surabaya, hampir semua sudut kota bebas banjir bila musim hujan.
Lagi,dalam hatiku,aku bertanya tanya, Dengan negara sekecil ini, dengan jumlah penduduk yang tidak banyak,..kok bisa menjajah bangsaku kurang lebih 350 tahun ?. Mungkin apa saat itu rasa persatuan dari bangsaku belumlah solid dan erat, mudah diadu domba, juga dipecah belah ya..masak sampai sekarang bangsaku masih belum sadar akan hal itu? ..Aah .sudahlah, apalah artinya diriku,sendirian juga nggak mampu merubah apa apa.
Tak terasa,tiba juga akhirnya di kota Volendam,.kota kecil yang indah dipinggir laut. Begitu turun dari bus, dengan semangat membara karena rasa nasionalismeku,. mungkin sih.., aku segera menuju ke tanah kosong dipinggir jalan. Aku ambil bongkahan TANAH, aku genggam dan segera juga menuju ke kanal dipinggir jalan satunya, aku celupkan tanah itu ke AIR di saluran itu.
Kemudian,aku menuju rumah yang terbuat dari kayu Jati di sekitar situ, setelah beberapa saat aku temukan juga rumah dari kayu Jati, dengan sedikit paksaan ,aku tarik serpihan kayu dari dinding rumah itu dan aku masukkan tas plastik yang sudah aku siapkan. " Beresss daaah ..":, Gumanku. Setelah itu aku masukkan ke kantong besar bagean dalam di Jaket musim dinginku.
" Ayo, kamu saya ajak pulang..wahai Tanah dan Airku,..teman temanmu sudah menantimu di Indonesia..!". Kataku dalam hati sambil memegang erat kantongku.
Amsterdam 11012020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
