Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mia,.. Muridku Sayang, Muridku Malang

Mia,.. Muridku Sayang, Muridku Malang

Mia,.. Muridku Sayang, Muridku Malang

Setiap aku, sebagai gurumu, memasuki ruang kelasmu di pagi hari, kamulah yang selalu mencuri perhatian diriku, Saat melihat dirimu ada pada hari dimana aku mengajar, betapa bersyukurnya diriku melihatmu duduk tercenung dan menatapku dan tersenyum seolah olah kamu berusaha tegar dalam menjalani hidupmu dan berusaha melupakan penderitaanmu. Aku tahu, betapa seringnya kamu meninggalkan kelas dan pelajaran selama beberapa hari dalam satu semesterku dikarenakan kondisimu.

Iya, kamu, MIA, nama muridku, kelas XI MIPA yang dilahirkan pada tanggal 12-12-2002 di Magetan, kota kecil di kaki Gunung Lawu sebelah paling barat dari Jawa Timur,.yang positif dinyatakan sebagai penderita penyakit LUPUS, penyakit yang masih dianggap mematikan di dunia kesehatan dan kedokteran. Aku sebagai gurumu, begitu terharu melihatmu berjuang sendirian melawan penyakit yang kamu derita semenjak kamu masuk sebagai siswa kelas X SMA di sekolahku.. Wajahmu yang tirus, masih menunjukkan guritan kecantikan dirimu sebagai remaja, otakmu yang cerdas terkalahkan oleh ganasnya pelemahan fisikmu yang semakin layu dan kurus, namun semangatmu dalam belajar dan bersekolah membuatku terharu dan bangga sekaligus. Kamu tidak tahu perasaan hatiku sebagai gurumu,juga bila melihatmu dari kejauhan saat semua teman temanmu sedang mengikuti kegiatan olahraga, kamu hanya duduk di bawah pohon sendirian karena kulit dan wajahmu tidak boleh terpapar oleh sinar Matahari. Malangnya, nasibmu, nak. Tak terasa, di sudut mata ku sedikit berkaca kaca melihatmu berteman dengan rasa sepi dan sedih dalam pikiranmu..

Akhirnya, melihat penderitaanmu seperti itu, aku berusaha mencari tahu semua data tentang dirimu, nak..sungguh terharu, ternyata, Ayahmu , pak Wito,hanyalah guru honorer dengan honor pas pasan serta belum bisa menerima tunjangan sertifikasi guru. Apalagi saat, kulihat data ibumu, ibu Siyem, sebagai ibu rumah tangga yang hanya merawat dirimu di rumah, belum lagi ,beban kakakmu yang saat ini belum juga mandiri. Sungguh ,aku ikut merasakan beratnya orangtuamu dalam usahanya untuk mencarikan biaya pengobatan bagimu. Sedih juga rasanya, saat mengetahui jarak tempuh dari rumahmu sejauh 30 km, dan kamu setiap hari harus pulang pergi menuju sekolah yang terbaik yang kamu inginkan di kotamu. Sungguh berat perjuanganmu akan mendapatkan pendidikan yang lebih baik untuk masa depanmu dan kehidupanmu. Demi itu semua, kamu berusaha keras untuk mengalahkan penyakit LUPUS yang menderamu, Nak..!.

Saat aku mendengar ceritamu, saat pertama kali diberitahu oleh dokter bahwa kamu menderita penyakit LUPUS, bisa aku bayangkan dari hatimu bahwa saat itu dunia sudah terasa gelap bagimu. Kamu bercerita padaku dengan menangis, mengapa Allah SWT memberikan penyakit ini padamu. Dan sempat kamu berteriak, “ Aku tidak ingin mati di usia muda, Pak !, aku masih ingin bersekolah !,Sungguh, Engkau tidak adil, Ya Allah, Apa salahku..!, mengapa engkau memilihku dengan penyakit ini Ya Allah..!!. sambil terisak isak kamu meratapi nasibmu sesaat setelah dokter memvonismu dengan penyakit itu. Rasanya, nak, siapapun yang mendengar kamu berteriak seperti itu, hanya bisa diam dan ikut berdoa untukmu serta hanya berusaha untuk menguatkan hatimu, menghiburmu dan menemanimu.

Oh Lupus, penyakit apa sebenarnya dirimu ini yang begitu tega mendera muridku si MIA, muridku malang. Akhirnya, aku berusaha mengenali penyakitmu .Nak, sebegitu putus asanya dirimu saat kamu dibebani penyakit itu.

Ternyata penyakit LUPUS jarang terjadi di Indonesia,. Bila diasumsikan penduduk Indonesia sekitar 250 juta jiwa, maka penderita LUPUS ini hanya sekitar 15 ribu jiwa saja. Nah, yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa penderita lupus ini hanya dialami oleh para Wanita, hampir 90% kasus, adalah perempuan. Dari beberapa riset disebutkan kemungkinan dikarenakan kromosom genetika dan menyerang penderita pada usia 15 sampai dengan 45 tahun. Penyakit ini bisa membuat wajah penderita mengalami perubahan, dari tirus ke oval, dari putih ke hitam serta kurus ke gemuk pada pipi.Bahkan, penderita lupus, hampir semuanya tidak tahan dengan sinar matahari, termasuk MIA, muridku malang ini. Penyakit sistim kekebalan tubuh sesorang yang menyerang balik pada sistim kekebalan tubuhnya sendiri. Sungguh, penyakit yang sangat langka dan belum ada obat yang seratus persen manjur sampai sat ini. Itu adalah beberapa hal yang aku ketahui tentang penyakit Lupusmu, nak.

Setelah, aku mengetahui bahwa kamu tidak bisa mengikuti Penilaian Akhir Semester dikarenakan kondisimu yang lemah dan hanya bisa berbaring di tempat tidurmu, rasanya trenyuh hati ini, yang seolah olah aku bukan merasa sebagai gurumu sendiri tetapi sudah ikut merasakan sebagai ayahmu, Nak..!. Saat itu, aku dengar dari keluargamu bahwa rambutmu sudah banyak yang rontok, juga kulitmu berubah menjadi warna merah dan gatal serta rasa nyeri yang tak tertahankan pada beberapa bagian sendi tubuhmu membuatmu ambruk dan tidak bisa mengikuti ujian, walaupun semangatmu masih membara untuk mengikuti ujian, namun kondisimu tidak memungkinkan bagimu untuk datang ke sekolah. Saat itu, hanya menangis yang bisa kamu lakukan. Untungnya, pihak sekolah, dengan sabar mengirimkan naskah soal ujian ke rumahmu dan menunggumu saat mengerjakannya. Dalam kondisi sakitpun, kamu masih tetap semangat untuk selalu ingin datang ke sekolah dan ingin bertemu dengan teman temanmu satu kelas. Kamu tahu, nak, bahwa mereka semua menyayangimu, membantu dan akan selalu mendoakan untuk kesembuhanmu.

Sampai tadi pagi saat bertemu denganmu, masih nampak wajahmu yang masih pucat, kamu bercerita, bahwa kamu sudah ikhlas menerima takdirmu. Setelah berkali kali kamu merenung dan berdoa . Dengan mantap, kamu berkata padaku, “ Bapak, aku yakin, Allah SWT, memberikanku penyakit Lupus ini, pastilah sudah diukur oleh NYA, aku pasti dianggap mampu untuk menerimanya”. Masyaa Allah,..terharu sekali rasanya mendengarmu berkata begitu, Nak..!. Setelah itu dengan sedikit tersenyum, kamu menambahi, “Jikapun penyakit ini kelak akan mengambil nyawakupun,aku siap, !, aku ikhlas..!, aku yakin justru karena penyakitku ini, pasti Allah SWT akan mengampuni aku atas semua dosaku dan menjadikan penebus dosaku selama hidup di dunia ini, dan inshaa Allah, akan membuatku untuk masuk ke Surga Jannahnya Allah SWT yang kekal abadi “.

Ya, Allah, kabulkanlah doa si MIA, yang sudah pasrah menerima takdirMU, limpahkanlah MukjizatMU padanya untuk kesembuhan dari peyakit LUPUSnya. Engkaulah Maha Pencipta, Maha penguasa Bumi ,langit dan isinya. Hanya kepadaMU lah kami semua berserah diri dan bersyukur atas segala nikmatMU, Jauhkanlah si MIA, dan keluarganya dari segala musibah dan penyakit serta sifat iri hati , sombong dan dengki.Ya Allah, Limpahkanlah rezeki yang Halal dan barrokah bagi keluarga si MIA, muridku yang malang itu, Engkau Maha Pemurah, Maha Penyayang dan Maha Pengabul segala doa kami. Amiin Amiin Ya Rabbalaalamiin.

Sudut Kelas, 30012020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post