“ Ya ,Allah, kenapa anda semua memukuli mobilku jadi penyok begini..!!? “
“ Ya ,Allah, kenapa anda semua memukuli mobilku jadi penyok begini..!!? “
Saat itu, aku masih shock dan kaget, sehingga hanya kalimat itu yang bisa meluncur dari bibirku. Setelah itu, mataku menjadi nanar dan setengah tidak percaya apa telah yang terjadi di depan mata kepalaku sendiri. Kenapa mobilku sedan itu dipukuli pada bagian kap mesin dan ditendang juga pada bagian pintu mobilku yang masih setengah terbuka itu.
Anda semua, saat membaca cerita ini pasti ikut bertanya tanya dalam hati. Sebenarnya ada kejadian apa ?, kenapa mobilku sampai dirusak seperti itu ?. Jika anda senang melihat penderitaan orang lain, paling paling juga tertawa dan berkata, “ Syukuriiiin..!”. Nah, jika ada yang seperti, artinya anda sedang ada masalah dengan aku, bisa jadi tidak menyukaiku dengan alasan apapun yang aku tidak tahu. Namanya tidak suka ,ya , TIDAK SUKA. masak harus pakai alasan segala..ufs.
Pagi itu, saat udara dingin dan masih berkabut. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.05 WIB saat aku berangkat ke sekolah untuk menunaikan kewajibanku yaitu mengajar dan berusaha menjadi guru yang baik bagi murid muridku. Dikarenakan, pintu gerbang di sekolahku akan ditutup pada pukul 06.30 WIB , maka segera bergegas kupacu mobilku dengan kecepatan yang sudah ditentukan di jalan itu. Kurang lebih 1 km sebelum tiba di sekolahku, tiba tiba mataku menangkap adanya suatu kecelakan di pinggir jalan saat aku mau melewatinya. Begitu dekat, kagetku bukan kepalang, dari warna seragam dan jaket almamater, langsung aku tahu, bahwa itu adalah salah satu muridku. Spontan aku mengurangi kecepatan dan berhenti dan segera turun untuk melihat juga untuk bertanya pada sekerumunan orang orang yang juga berhenti di depan Sekolah Dasar yang tidak jauh dari sekolahku. “Ya, Allah,..ada apa ini? “.
Segera terlihat olehku, seorang murid putri tergeletak di trotoar pinggir jalan di depan sekolah dasar. Langsung aku mengenalinya, namanya Ratna. Tiba tiba seorang satpam sekolah mendekatiku dan bertanya, “ Maaf, ini siswa bapak, ya ?!”. Segera aku menganggukkan kepala dengan masih memandang pada korban yang masih pingsan dengan kepala sebelah kiri ada sedikit warna merah, yang aku duga adalah darahnya. “Ini, kejadiannya, bagaimana, apa yang terjadi ?” tanyaku pada orang orang di situ. Tiba tiba, seorang pemuda mendekatiku dan berkata dengan mulut gemetar, “ Maafkan saya pak, ini semua salah saya..saya kurang hati hati saat mengantar anak saya ke SD di sini, nah saat saya berhenti, tiba tiba anak saya membuka pintu mobil tanpa melihat ada sepedamotor atau mobil yang lewat di sisinya apa tidak”. Kemudian ,pemuda itu diam sesaat, dan meneruskan bercerita yang kali ini sudah agak lancar, “. Begitu pintu di buka, siswi bapak langsung menabrak pintu mobil saya dan otomatis, anak putri yang naik sepeda motor ini langsung terpental ke depan dan helmnya lepas, sehingga kepalanya dulu yang membentur aspal.,sehingga tidak sadar, pak, saya takut jika ada apa apa pak. Tolonglah saya dan.. maafkan saya, pak..! pintanya dengan mata sedikit merah karena kebingungan harus bagaimana. Jelas dari raut wajahnya menunjukkan ketakutannya akan kejadian itu.
Aku sendiri juga bingung, baru ingat jika aku harus segera ke sekolah karena absen dengan sistim Finger Print, sebagai bukti kedatangan. Haduuh., segera pikiranku terbagi antara ke sekolah atau mengurusi anak ini dengan resiko dianggap membolos kerja atau dianggap tidak mengajar dengan akan diberi sangsi. Setelah sekian detik, hati nuraniku memutuskan untuk lebih mementingkan dalam menyelamatkan nyawa siswiku ini. “ Sudah tilpun layanan mobil ambulan untuk datang apa belum?” tanyaku para orang orang di situ yang sebagian mengatur agar arus lalu lintas tidak macet dikarenakan jam sibuk di mana banyak orang yang sedang berangkat kerja dan juga banyak orang tua yang mengantar anaknya berangkat ke sekolah pada pagi hari itu. Aku jadi heran, kemana ya, polisi saat itu, kenapa tidak segera merespon jika ada kecelakaan lalulintas ini. Begitu banyak pertanyaan yang bertubi tubi dalam pikiranku. Setelah aku tanyakan bahwa korban laka ini, yaitu siswiku yang bernama Ratna tadi, sudah hampir 30 menit tergeletak di trotoar. Begitu kagetnya aku mendengar penjelasan saksi mata di situ. “ waah, bahaya ini, jika tidak segera ditangani dokter”, kataku pada para kerumunan. Dengan segera, aku meminta pemuda yang terlibat kecelakaan itu untuk menepikan sepeda motor korban, serta mobilnya, kemudian aku minta orang dikerumunan itu untuk membantuku mengangkat si Ratna tadi masuk ke dalam mobilku untuk aku bawa ke rumah sakit terdekat agar segera mendapat pertolongan mengingat luka di kepalanya yang parah. Beberapa orang memasukkan barang bawaan Ratna, termasuk buku dan tas sekolah ke dalam mobilku.
Sebelum aku ke rumah sakit, Aku tanyakan juga pada kerumunan, apakah ada yang mengenal orang tua korban apa tidak pada orang yang ada di lokasi kecelakaan tapi tak satupun dari mereka yang tahu. “ Jadi, orang tua korban ini belum dihubungi ?!” tanyaku pada mereka. Salah seorang dari kerumunan berteriak, “ Belum, Mas, gak tahu ortunya siapa, rumahnya dimana..!”. tambahnya.
Tanpa menunggu lama, mobil segera aku hidupkan, dan tidak ada satupun orang di situ yang mau aku ajak bersama menemaniku di dalam mobil dengan korban. Bahkan pemuda di situ yang dijaga masyarakat agar tidak melarikan diri, mengatakan bahwa aku berangkat dulu saja, dia nanti akan menyusul karena masih menunggu polisi untuk penyelidikan. Yaah, akhirnya secepatnya, aku meluncur ke rumah sakit, dengan menyalakan lampu hazard mobilku sedan sambil menekan klakson berkali kali pada kendaraan di depan untuk minta prioritas jalan.
Begitu tiba di UGD (Unit Gawat Darurat ) Rumah sakit daerah setempat, segera mobil aku parkir di teras UGD, sambil berteriak minta bantuan pada para petugas yang berjaga di situ. Mereka dengan sigap menerima si korban yang aku angkat sendirian ke dalam ruang penanganan, sampai lupa pintu mobil belum tertutup sempurna karena tergesa gesa.
Petugas medis segera menangani si korban laka tadi, untuk mendapat pertolongan pertama yang sangat dibutuhkan. Seorang petugas memintaku ke bagian administrasi untuk mengisi formulir data tentang korban. Akhirnya, aku izin pada petugas untuk mengambil tasnya Ratna, karena aku yakin di situ pasti ada kartu siswa dan lainnya. Setelah aku temukan tasnya, aku buka, aku menemukan kartu pelajarnya yang kucari, juga ada handphone di dalam tasnya. Tidak menunda waktu, segera aku isi formulir data di UGD itu, dan saat aku serahkan, aku diminta untuk menunjukkan kartu BPJS nya si Ratna, aku jawab sejujurnya bahwa ini adalah siswiku yang korban laka di jalan raya saat aku berangkat kerja tadi Akhirnya petugas meminta maaf, dan mengatakan bahwa saat itu, artinya korban dianggap orang umum, jadi aku harus membayar dulu semua biaya masuk dan perawatan sementara di UGD. Ya amppuun..tapi hal itu tidak masalah bagiku, tanpa basa basi, aku bayar semua untuk pendaftaran, infus, obat dan lain lain sebelum diberikan perawatan yang lebih khusus lagi sambil menunggu hasil rontgen atas luka di kepalanya Ratna.
“ Ya , Allah, selamatkanlah muridku si Ratna, anak yang supel, cantik, serta pandai berbahasa Inggris itu”. Itulah doaku saat aku duduk di teras UGD rumah sakit sambil menunggu hasil pemeriksaan dokter. Tiba tiba aku ingat, bahwa aku harus lapor pihak sekolah. Aku terlupa sesaat karena berkonsentrasi pada memberikan pertolongan pada korban laka itu tadi. Setelah laporan kepada guru piket melakui HPku untuk diteruskan pada pimpinan, aku melirik HP nya Ratna. Iseng iseng aku nyalakan, ternyata bisa, mungkin saja, memang di non aktifkan saat berangkat sekolah, atau off sendiri karena terlempar jatuh ke aspal saat kecelakaan terjadi. Kemudian aku cari di daftar kontak, nama ayah, ibu, bapak, abi, pak de atau apa saja yang bisa aku hubungi. Ternyata ketemu, di situ tertulis “Ayah” di daftar kontak, dan segera kuhubungi ayahnya, ternyata betul dan mengatakan bahwa Ratna adalah anak tunggalnya. Begitu aku ceritakan jika Ratna mendapatkan kecelakaan dan sekarang ada di UGD, dari seberang sana terdengar suara tangis yang aku duga adalah suara ibunya yang menjerit. Aku minta mereka untuk segera datang ke UGD sekarang juga.
Setelah beberapa puluh menit menunggu mereka, aku masuk untuk menengok kondisi si Ratna yang masih mendapat perawatan dari dokter jaga dan terlihat olehku bawah Ratna sudah mulai berangsur angsur sadar dari pingsannya. Saat aku, berusaha menguatkan hatinya Ratna di sebelah temapat tidurnya. Tiba tiba tak berapa lama, terdengar suara gaduh di depan UGD Rumah sakit, yaah, seperti ada orang yang memukul tong kosong, juga ada nada suara orang yang berteriak teriak. Beberapa dokter dan perawat begegas keluar termasuk aku untuk mencari tahu. Dan….Betapa kagetnya diriku juga para dokter dan perawat di situ,karena ada 4 orang yang datang, yaitu sepasang ,bapak tua dan ibu yang masih menangis, dan 2 orang laki laki kekar, yang tiba tiba menghajar mobilku habis habisan. Aku tertegun dan masih kaget, karena aku lihat mobilku penyok karena dipukuli dan ditendang.
“Ya Allah, ada apa ini .?” gumanku. Laki laki yang berkumis dan paling kekar berteriak ,” Siapa yang punya mobil ini..?..Keluaarr..!”. teriaknya sambil masih menendang pintu mobilku. Spontan aku menjawab “.“ Ya ,Allah, kenapa bapak semua memukuli mobilku jadi penyok begini..!!? “. Mereka menjawab bahwa sedang mencari mobil yang menabrak putra dari kakaknya itu. Ya ampun, akhirnya aku jelaskan bahwa aku adalah gurunya Ratna, dan aku yang menolong dia dengan membawanya ke UGD karena Ratna mengalami gegar otak ringan. Aku tambahkan bahwa mobil yang terlibat kecelakaan masih ada di depan sekolah dasar, lokasi dimana laka itu terjadi. “ Bapak semuanya ini gimana, !?,saya yang menolong anak bapak kok balasannya mobil saya jadi penyok begini..!?”. Aku bekata keras dengan nada suaraku yang sangat sedih tak tertahankan. Namun semua itu sudah terjadi, mobilku sudah penyok,Hari apa ini ya Allah,!,. fingerprintku sudah menganggapku membolos, dan juga harus keluar biaya untuk semua pengobatan di UGD saat masuk tadi plus bonus mobilku jadi penyok. Bersamaan dengan itu, tak berapa lama, beberapa Polisi lalulintas dari Polsek kota sudah mulai berdatangan dengan membawa pemuda si pelaku yang menyebabkan kecelakaan tadi, namun fokusku sudah pindah hanya pada mobilku yang penyok itu.
Kejadian itu sangat membekas di hatiku berhari hari. Hingga, saat keluarga si Ratna,muridku minta maaf karena salah mengira juga karena masih emosional dan bersedia membawa mobilku ke bengkel untuk diperbaiki. Dengan ikhlas, aku jawab tidak perlu karena mereka baru mendapat musibah dan lebih memerlukan biaya pengobatan untuk anaknya daripada mobil saya dan sudah aku maafkan serta ikhlaskan. Yang penting bagiku bahwa si Ratna selamat dan bisa segera sehat seperti sedia kala. Masalah mobil, itu hanyalah barang, saya yakin Allah SWT akan memberiku rezeki yang barrokah atas kehendak NYA, dan terbukti, tak berapa lama, memang betul ada rezeki yang datangnya dari arah yang tak disangka sangka. Dan aku mampu membeli mobil baru.
Apakah dengan kejadian itu akan menghentikanku untuk berbuat baik kepada yang membutuhkan meski dengan resiko di caci maki, dihina, dituduh sebagai penabrak bahkan barangku di rusak juga?. Jawabanku TIDAK, ..hal itu TIDAK akan menghentikanku untuk berbuat baik, saya yakin masih banyak orang yang mau melihat dengan mata hati daripada dengan mata kepala. Bilapun semua terjadi seperti yang terakhir?,.. Allah SWT pastilah akan membimbingku dan akan memberikanku rezekiNYA . Semua tergantung dari niat baik kita masing masing.
UGD 31012020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
