Zurich, Swiss : “Are you moslem, too ?, but Why you are drinking this beer ?”.
“Are you moslem, too ?, but Why you are drinking this beer ?”.
Kalimat itu langsung aku sampaikan kepada 2 orang yang mengaku muslim dari Syiria, saat sedang pesta minuman beralkohol di sudut gerai swalayan yang hampir tutup di Kota Zurich, Swiss. Saat itu, aku ditemani oleh seniorku yang asli dari Probolinggo, dengan logat khas maduranya, juga postur tubuhnya yang kekar dan tampan juga. Dia adalah Pak Samsul Anam. Jadi saat bersama beliau, aku berani saja untuk menegur 2 pemuda tadi, dan maksudku, jika ada apa apa, minimal bisa duel satu lawan satu, karena Pak Samsul ini ahli beladiri. Aku juga sih, waktu SMA, aku mendapat predikat juara 2 karateka pada kejuaraan tingkat Kodya Surabaya lho,. Tapi,perlu diketahui, bahwa peserta yang daftar ya cuman dua karatekawan aja., yakni aku dan lawanku itu saja..ha.ha..oleh karena itu baru dua jurus yang aku kuasai, yaitu lempar batu dan kaki seribu jika berkelahi. Amann deeh..!.
Masih tentang tugasku ke Eropa, ada beberapa Negara yang memang sudah dijadwalkan untuk dikunjungi, termasuk Negara Swiss ini. Zurich adalah kota tujuan kami. Jika anda penggemar Sejarah, pastilah ingat Negara Swiss, yang terkenal dengan produk kejunya, peralatan militer dunia karena kerapihan dan kecermatannya. Juga tentu saja, yaitu jam tangan. Wow, semua orisinil, bro.!, dan bergaransi seumur hidup jika beli jam tangan di Swiss untuk merk tertentu saja. Harganya bisa bervariasi, dan tidak mahal juga, namun bagi kantong orang Eropa lho, namun bagi kami orang Indonesia, ya, bisa nggak pulang nanti tuh jika beli.
Perlu diketahui, Swiss, adalah negara federal yang berisi 26 kanton di Eropa Tengah yang berbatasan dengan Jerman di utara, Prancis di barat, Italia di selatan, Liechtenstein dan Austria di timur. Dengan beribukota di Zurich. Nah mau tahu Negara yang tidak pernah dijajah Jerman ?. ya Negara Swiss ini, karena alamnya dengan pegunungan salju abadi juga masyarakat yang siap dengan wajib militer (General Issue), siap untuk dimobilisasi sewaktu waktu bila negara membutuhkan. Keren, kan ?. Kota Zurich, adalah kota tempat tinggal si penemu teori relativitas, yaitu Albert Einstein, dengan teori bom atomnya, setelah lari dari Jerman, dan akhirnya menetap di Amerika saat perang dunia ke 2 yang meluluh lantakkan banyak Negara di Eropa saat itu.
Sehari sebelumnya, saat bus memasuki perbatasan Swiss pada siang hari selepas perjalananku dari Stuttgart, Jerman, beberapa petugas Imigrasi Swiss memeriksa semua dokumen passport dan surat lainnya. Dua orang mendatangiku . Seorang petugas masuk ke dalam bus dengan membawa lampu sorot kecil, sedangkan yang satunya berjaga jaga dengan jemari ada di ganggang pistolnya dengan posisi siap untuk keadaan yang tidak diinginkan. Alhamdulillah, semua lancar, hanya wajahku yang berulang kali disorot lampu dan terus dibandingkan dengan foto di passporku. Menjengkelkan sih, tapi tak berdaya dan aku juga tidak bisa protes. Tidak tahu ada apa dengan wajahku. Tidak tahu juga kenapa mereka melakukan itu serta tidak ada penjelasan sama sekali. Mungkin itu prosedur tetap operasional keimigrasisn Swiss dan apa aku juga patut dicurigai ?,tapi itu terserah mereka saja lhoh..!
Setelah itu, perjalanan yang membosankan di musim dingin masih berlanjut dengan pemandangan rumah yang tinggi dan kecil serta rata rata dibangun dengan berbahan batu kali yang terlihat kokoh di kanan kiri jalan menuju Zurich. Pohon pohonnya juga hampir semuanya tidak berdaun dikarenakan musim dingin dengan temperatur udara sekitar 1 derajat Celsius saat aku datang ke situ, seolah olah seperti musim kemarau ,cuman perbedaannya pada cuaca serta hampir tidak ada sinar Matahari sama sekali itu saja.
Tak terasa , kami akhirnya memasuki terminal bus Zurich. Begitu turun, ..wuss, angin yang sangat dingin menerpa kami. Yaah, terpaksa dengan berlari kecil sambil membawa koper kami berdua masuk untuk berlindung mencari tempat yang hangat di dalam terminal itu. Seperti biasa, aku segera mencari toilet dan itu wajib, Sebagai catatan nih, jika anda datang ke hotel apapun, bangunan megah apapun, tempat wisata yang keren sekalipun. Begitu datang, pertama yang harus anda datangi adalah toilet. Yaah, seperti kotak finger print itulah jika anda absen di kantor, pertama yang anda datangi, terakhir yang anda pamiti meski tak pernah anda rindukan.
Saat, keluar dari toilet, ganti aku yang menjaga koper di terminal, dan saat itu malam sekitar pukul 18.00, jika di Indonesia. Nah, di Zurich, jarang toko buka pada pukul seperti itu bila musim dingin, biasanya malah sudah tutup semua pukul 17.00. Waktu Swiss. Sambil menunggu pak Samsul yang masih di toilet, iseng iseng aku mengamati 2 anak muda yang sepertinya sedang teller karena mabuk, dan terlihat olehku di tangannya ada sekaleng bir. Tiba tiba, salah satu dari mereka menyapaku ,” Assalamualaikum Warrohmatullahhi wabbarokhahtuh..brother !, are you moslem ?,. where are you from ?”. ( Assalammualaikum wr.wb..sodaraku..!, apakah anda orang muslim ?, anda berasal dari Negara mana)..Wow, rasanya gimana, disapa di luar negeri oleh orang mabuk seperti ini. Aku segera menjawabnya,” waalaikumsalam.!". meski sedikit ragu.
Setelah saling memperkenalkan diri. akhirnya aku berdialog dengan mereka semua, dan saat itu pak Samsul juga datang menemaniku. Kami bertanya jawab dan bertukar informasi tentang kota Zurich. Yang kami tahu adalah, mereka berdua merupakan pengungsi dari Syiria karena negara mereka sedang terjadi krisis perang yang sampai sekarang belum selesai. Mereka bisa masuk Eropa karena Jerman memberikan kesempatan kepada pengungsi orang muslim dengan visa Schengen, dengan status Refugee ( Pengungsi), yaitu siapa yang memiliki visa tersebut, bebas untuk keluar dan masuk semua negara di Eropa yang tergabung dalam Uni Eropa, kecuali Inggris yang tahun kemarin menyatakan keluar dari Uni Eropa berdasarkan Pertemuan Brexit.
Intinya, 2 pemuda Syiria tadi beralasan bahwa mereka minum bir atau minuman beralkohol dikarenakan merasa tertekan, putus asa juga bingung di Eropa mau apa, juga tidak berpendidikan dan hanya bekerja kasar (hal yang lumrah bagi imigran berstatus pengungsi ). Parahnya mereka mengatakan Allah SWT tidak adil, pilih kasih, kenapa yang perang hanya Syiria saja. Aku biarkan saja dia mengoceh ke sana kemari tentang dirinya, negaranya, ya nasibnya ,status kewargaan negaranya yang tidak jelas dan keluarganya yang masih tertinggal di Syiria. Mereka merasa menjadi manusia buangan dan tak berguna. Kasihan memang mendengar ceritanya, Dari raut wajahnya tampak kesedihan dan mereka bercerita dengan mata berkaca kaca menahan sedih dan tangisnya, namun apapun sebagai sesama muslim, akhirnya aku tetap sampaikan dalam bahasa Inggris yang jelas dan tidak terlalu cepat agar dia mengerti bahwa yang intinya sebagai orang muslim harus taat. Harus berprasangka baik pada Allah SWT, berusaha yang terbaik, belajar serta kerja keras. Jangan menyerah dengan hidup ini, karena Allah SWT tidak menyukai hambanya yang mudah berputus asa. Harusnya mereka bersyukur, masih bisa selamat dan mengungsi. Jika saat ini dia merasa di titik terendahya sebagai Manusia, itu artinya Allah, akan mengangkat derajatnya menjadi lebih tinggi daripada manusia lainnya jika dia sabar dan berusaha serta lulus dalam ujian NYA. Juga sebagai sesama muslim, rasa Ukhuwaah Islamiyahnya di luar negeri harusnya di jaga. Jangan terpecah belah hanya karena aliran yang berbeda. Dan terakhir saat itu aku juga berpesan, untuk jangan meninggalkan sholatnya dalam keadaan apapun juga. Sebagai muslim mereka harus mendirikan sholat karena itu tiang agama.
Itu adalah kata kataku untuk mereka berdua . Begitu selesai, aku segera pamitan dengan 2 pemuda dari Syiria itu yang kelihatan masih diam merenung dan duduk di atas meja dekat gerai swalayan sambil mengawasi kami pergi.
Setelah itu kami keluar dari terminal, tak terasa perut sudah berkunang kunang dan mata sudah keroncongan nih karena hawa yang dingin menusuk tulang. Akhirnya, mau tidak mau, kami berdua menuju Resto cepat saji,.. habis nyari Warteg di Zurich, sulit bungaet uiiy. Karena aku yang bisa bahasa Inggris dan sedikit Jerman, aku terpaksa menunggu antrian untuk pesan makanan bagi kami berdua. Aku lirik, seniorku pak Samsul Anam,, ..Masya Allah, Ternyata beliau sedang sholat Magrib di dalam Resto dengan penuh percaya diri. Subahanallah. Ini yang membuatku malu, lhah, aku yang menasehati 2 pemuda Syiria tadi, malah aku kalah duluan sholatnya dengan beliau. Yaah, terkadang memberi nasehat itu baik sih, tapi lebih baik jika memberikan suri tauladan atau contoh dulu untuk kita sendiri baru ke orang lain. Terimakasih pak Samsul Anam yang telah menampar halus dengan penuh kasih sayang ke padaku.
Salam literasi.
Zurich, Swiss, 29012020




Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
