Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Bahasa Jepang Unik untuk 48 Mahasiswi D-IV Prodi Kebidanan

Bahasa Jepang Unik untuk 48 Mahasiswi D-IV Prodi Kebidanan

Bahasa Jepang Unik untuk 48 Mahasiswi D-IV Prodi Kebidanan

Saya dianggap yang paling ganteng di kelas tapi sebentar, maksud ganteng di situ bukan karena saya paling tampan atau melebihi pria atau bahkan cowok manapun di dunia ini. Kemudian, kok bisa ada yang paling ganteng di antara semua mahasiswi Program studi D IV Kebidanan Poltekkes Surabaya yg berada di Magetan ?. Lhah, apa bisa cowok ikut kuliah jadi bidan ?. Begini, yang boleh kuliah di Politeknik Kesehatan Kebidanan di situ adalah kaum hawa untuk jadi bidan. Nah, jika ada cowok, itu adalah saya, dosennya yang mengajar mata kuliah percakapan bahasa Jepang. Makanya saya jadi yang paling ganteng karena tidak ada saingannya. Paham kan? . Malah saya jadi berbahaya jika masuk kategori cantik.

Mata kuliah percakapan bahasa Jepang ini diberikan sebagai materi tambahan agar para mahasiswi kebidanan mempunyai ketrampilan dalam berbahasa jepang dan diharapkan di ke depannya, jika ada pertukaran antar perawat atau kebidanan dengan Negara lain khususnya jepang, mereka semua sudah mampu untuk bekerja selain penguasaan bahasa Inggris.

Mengajar bahasa pada para mahasiswi prodi Kebidanan itu sungguh sesuatu yang menyenangkan juga sekaligus lucu. Bagi para mahasiswi itu, belajar bahasa adalah sesuatu yang baru mengingat perbedaan karakter sistim penulisan yang menggunakan Kanji, Hiragana ( untuk kata kata berasal dari jepang), dan Katakana ( untuk kata kata asing/bukan berasal dari jepang). Huruf Romawi juga dipergunakan di Jepang meskipun hal ini jarang ada. Juga, perbedaan pada Tata bahasa jepang dibandingkan dengan Indonesia. Katakanlah, bahasa kita hampir sama dengan bahasa Inggris dalam pola kalimatnya, yaitu Subject+Kata Kerja+Object, coba bandingkan dengan bahasa Jepang, yaitu Subject+Object+Kata kerja. Dari perbedaan dasar tersebut, dapat dipastikan akan banyak terjadi kesalahan pada saat melakukan percakapan bahasa Jepang di kelas.

Bahasa adalah suatu kebiasaan. Jadi semakin sering kita menggunakannya, semoga cepat pula kita menguasainya dan mampu meningkatkan penguasaan kosa kata dan banyak tahu logika dalam memahami bahasa Jepang. Dalam belajar bahasa Jepang itu seperti bahasa Jawa karena ada kalimat bentuk sopan, juga bertingkat kepada siapa lawan kita bicara dan seterusnya. Jangan belajar bahasa jepang dari film kartun atau anime, karena itu bahasa Jepang yang kasar. Juga, ada bentuk sedang, bentuk lampau dalam bahasa jepang sama seperti bahasa jerman dan bahasa Inggris. Paling mudah, ya tentu saja bahasa Indonesia karena tidak mengenal kalimat bentuk lampau, sedang maupun masa datang. Cukup hanya dengan memberikan keterangan waktu saja untuk menunjukkan kepada lawan bicara tentang perbedaanya kapan kegiatan itu dilakukan. Makanya, banyak orang asing yang lebih cepat menguasai bahasa Indonesia daripada sebaliknya. Saya juga punya mimpi dimana suatu saat, bahasa Indonesia bisa menjadi bahasa yang dikuasai orang di seluruh dunia.

Di kelas Bahasa Jepang untuk jurusan kebidanan tersebut, saya memanggil mereka dengan menambahkan kata ’san’ pada setiap nama mereka, sedangkan mereka memanggil nama saya dengan tambahan ‘sensei”. Itu resmi dan sopan karena saya lebih tua atau untuk guru. Oh, iya, untuk tambahan nama dalam bahasa Jepang, setiap nama orang harus diberi tambahan “san” setelah nama mereka. Untuk orang terhormat, seperti presiden, bupati dan lain lain, kita rubah dengan “sama”, bentuk sopan dari “san”. Panggilan tersebut berlaku untuk pria dan wanita. Anda masih ingat dengan shinchan ?. Nah, tambahan ‘Chan”, itu adalah panggilan kesayangan antara orang tua pada anaknya. Bisa lengkap ,bisa juga hanya suku kata pertama dari nama anak tersebut. Misalnya, nama asli Shinchan adalah “shinosuke”, makanya dipanggil “Shin Chan”. Lagi, jika nama anda adalah Devita, maka panggil saja De chan, atau Devita chan. Ingat, jangan memanggil orang yang usianya lebih tua dengan nama panggilan itu ya.

Untuk anak cowok, boleh memakai “chan”, tapi umumnya, mereka dipanggil “Kun”. Misalnya ,nama anda Davin, ya cukup dipanggil “Davin kun”. Ingat kata kun juga tidak boleh untuk mereka yang usianya lebih tua dari anda, atau kata “Kun” ini tidak boleh untuk memanggil nama cewek.

Kelucuan dalam belajar bahasa jepang bagi para mahasisiwi itu adalah yang pertama, saat mereka belajar menuliskan nama mereka masing masing dalam huruf Jepang katakana di mana karakter huruf bahasa Jepang tidak mengenal huruf “L’, tapi harus diganti dengan “huruf “R”. Misal, jika nama anda Lina, maka yang tertulis, haruslah ‘Rina”. Ini yang menjadikan masalah, sehingga sulit dibedakan mana yang Rina asli dibanding si Lina yang tertulis “Rina” juga, sehingga dosen harus membedakan dengan memberikan kode tambahan pada nama mereka, misalnya “Rina A’, dan Rina B”. Semua itu dilakukan agar nilai hasil ujian mereka tidak tertukar tempat.

Hajimemashite, Watashi wa Rina A desu”. (Perkenalkan, nama saya Rina). Sedangkan kata “desu’ yang dibaca “des”, seperti kata “des”nya bulan desember, adalah artikel untuk menutup kalimat bila diakhiri dengan kata benda atau sifat. Nah, jadi masalah lagi, saat perkenalan, karena yang menjadi Rina B, harus menahan malu bila berkenalan karena akan terucapkan “ Hajimemashite, Watashi wa Rina B desu”, (Perkenalkan, nama saya Rina B (e) des). Kasihan kan ?.

Itu belum jika saya kenalan dengan orang yang religious. Misal, “Hajimemashite, watashi wa Eko desu”. (perkenalkan, nama saya Eko). Eeh, malah dijawab, oleh lawan bicara saya yang belum paham, ‘ Watashi wa Haji Mansur desu”. Lhadallah.., saya belum naik haji nih..!?

Yoroushiku Onegaishimasu (salam)

Surabaya, 26022020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post