Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
BERATNYA TOEFL GURU UNTUK SELEKSI KE LUAR NEGERI

BERATNYA TOEFL GURU UNTUK SELEKSI KE LUAR NEGERI

BERATNYA MEMBIMBING TOEFL GURU UNTUK SELEKSI KE LUAR NEGERI

Oleh :E.A.Wahyudiono

Saat membimbing guru yang bukan guru bahasa Inggris untuk mendapatkan skor TOEFL (Test of English as Foreign Language) dan harus bisa mencapai skor minimal 500 rasanya luar biasa capeknya. Namun bila melihat mereka para guru yang saya bimbing tes bahasa Inggris berhasil menembus skor diatas 500 dan lulus untuk mengikuti short course di Luar negeri seketika hilanglah semua rasa capek dan kegalauan hati saya.

Oh ya, ada 3 guru di kota dimana saya tinggal. 2 guru dari SMA 1 Magetan ,sekolah di mana saya juga mengajar dan 1 guru dari SMK 2 Magetan. Saya kenalkan dulu ya. Pertama ibu Riris Ratnasari, M.Pd.I, guru agama Islam yang berhasil lolos mengikuti program dari Kemenag ke Melbourne University ,Australia. Yang kedua, adalah ibu Yenidha Rusna Priskiana, S.Pd.,guru bahasa Jerman untuk Heidelberg University, Jerman. Yang terakhir adalah ibu Dian Setyowati, M.Pd, dari SMK 2 Magetan, guru Tata Boga ke Calamvale Community College, Brisbane dan Griffith University  Queensland, Australia.

TOEFL merupakan salah satu syarat bagi bapak ibu guru yang ingin mendapatkan beasiswa baik untuk short course maupun studi lanjut ke luar negeri, bahkan juga untuk mengajar di sekolah luar negeri . Ada 5 Jenis tes bahasa Inggris dalam TOEFL, yaitu 1. Paper Based Test (PBT). 2 Computer Based Test (CBT). 3 Internet Based Test ( IBT). 4 Institutional Testing Program (ITP) dan 5. TOEFL Prediction Test (TPT). Pada umumnya, tes dilakukan dalam bentuk Paper Based Test atau PBT, yaitu seperangkat tes yang harus dikerjakan dengan berbasis paper/kertas untuk bapak dan ibu guru yang mengikuti seleksi program ke Luar negeri tersebut.

Saya merasa tidak mendapatkan kesulitan jika guru yang saya bimbing memang dari jurusan bahasa Inggris, namun melihat latar belakang 3 guru dengan jurusan yang BUKAN Bahasa Inggris dan harus lolos tes TOEFL dengan skor di atas 500 tersebut, tidaklah semudah membalik telapak tangan. Disamping setiap hari harus mengajar dari pagi sampai sore, juga masih harus menyempatkan waktu untuk belajar bersama bagaimana bisa menembus TOEFL dengan skor di atas 500. Terkadang di hari minggupun, kita korbankan waktu untuk keluarga hanya dipakai untuk bimbingan bahasa Inggris. Yang membuat saya bersemangat membimbing mereka adalah kebulatan tekad dan semangat ketiga guru perempuan yang luar biasa. itu yang patut diapresiasi oleh kita semua.

Mau tahu kesulitan yang pertama ?. Itu adalah lemahnya ketiga guru tersebut pada penguasaan kosakata atau vocabulary bahasa Inggris sehingga tidak bisa segera cepat menemukan arti satu kata meskipun sudah ditebak dengan melihat kalimat dalam konteksnya. Untuk kesulitan yang kedua adalah tidak begitu paham dengan materi Listening (mendengarkan) karena pembicara dalam tes listening section adalah penutur bahasa Inggris asli (English native speaker), sehingga suara atau ucapan mereka terdengar aneh bagi 3 guru tersebut. Pada materi Grammar/ Stucture (Tata bahasa) menjadi faktor kelemahan yang ketiga. Terjadi benturan antara tata bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, juga terutama ibu Yenidha, karena latar belakangnya adalah bahasa Jerman. Walaupun ke Jerman sekalipun, guru tetap harus menguasai bahasa Inggris. Kenapa demikian?. Karena Jerman merupakan Negara yang multi etnis saat ini di mana banyak penduduk dari seluruh dunia yang bertempat tinggal di sana. Untuk kesulitan terakhir adalah Reading (wacana). Materi ini bukan membaca keras atau reading aloud, namun harus bisa mencari makna yang tersirat dan tersurat dengan cepat. Untuk diketahui, tes TOEFL waktu yang diberikan adalah 2 jam dengan jumlah soal hampir 100 items soal.

Setelah membimbing mereka dengan kita kita cara mengerjakan TOEFL yang saya kuasai dan juga setelah mengikuti berkali kali ujian TOEFL, akhirnya ketiga ibu guru tersebut berhasil juga mendapatkan skor lebih dari 500 dan Akhirnya, terbanglah mereka ke Negara yang mereka inginkan.

Saat mereka ada di luar negeri, saya masih menyempatkan untuk selalu menanyakan kabar mereka dan untik mengetahui apakah mendapat kesulitan dalam melaksanakan tugasnya, terutama bahasa Inggris mereka. “Alhamdulillah lancar semua pak, hanya pertama saat tiba di negeri orang, belum segera bisa memahami ucapan mereka dalam bahasa Inggris,tapi setelah 3 hari, kami sudah cepat beradaptasi “. Kata bu Dian Setyowati, M.Pd. Beda lagi dengan ibu Yenidha Rusna Prikiana, S,Pd yang ada di Jerman beralasan “ Saya jarang berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Inggris, karena bahasa Jerman saya sudah cukup untuk mengerjakan tugas, pak !”. Wuiih keren semua deh. Senang rasanya mendengar berita itu. Bagaimana dengan anda?, mau saya bimbing TOEFL anda?

Eh, masih ada satu orang guru lagi, Ibu Riris Ratnasari, M.Pd.I. Dia sempat mengirimkan pesan ke saya, “ Bahasa Inggris saya tidak masalah pak, saya bicara ya bicara saja, masalah yang mendengarkan paham apa tidak bukan urusan saya..!,..Oh iya, bapak nitip pesen apa sebelum saya pulang ke Indonesia ?”. Akhirnya pesannya saya balas juga, “ Baguslah jika gitu, pesan saya cuman satu,..Ibu Riris nggak usah pulang deh, tinggal di situ saja ya..!”.

Salam

Prime Language Center, 24022020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post