Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
BERGELAR DOKTOR SELAMA SEPEKAN

BERGELAR DOKTOR SELAMA SEPEKAN

BERGELAR DOKTOR SELAMA SEPEKAN

Rasanya sungguh sangat tidak nyaman, bila nama kita ditulis dengan bergelar Doktor ( DR, atau Ph.D ) di buku panduan dan materi selama kegiatan seminar di luar negeri yang padahal itu tidak benar.

Kejadian ini harus saya ceritakan agar menjadikan pemahaman bahwa tidak semua orang merasa nyaman apabila mendapatkan gelar kualifikasi atau akademis pendidikan S-3, yaitu program Doktoral yang bukan hak atau karena memang tidak pernah menyelesaikan pendidikan untuk mendapatkan gelar itu secara akademis dan professionalisme.

Tahun lalu, saat saya berada di Hanoi, ibukota Vietnam untuk mengikuti kegiatan seminar Internasional dan lomba inovasi tehnologi lingkungan untuk seluruh tingkat pelajar se Asia Pasifik ( Global Youth Summit ) yang mengangkat tema Pengolahan air (water treatment), Penghematan energy (Saving energy), Pengolahan limbah (Disposal treatment), Daur ulang sampah (Recycling ) dan Pengolahan Keanekaragaman Hayati (Biodiversity). Setiap delegasi yang datang dari setiap Negara di Asia Pacifik ini harus menyiapkan project tentang salah satu atau beberapa tema yang harus mereka presentasikan secara berkelompok dengan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional di forum itu.

Dalam kegiatan itu, mereka juga harus mendemonstrasikan proyeknya serta harus siap menerima banyak pertanyaan dari dewan juri. Event seminar dan lomba yang diadakan setiap tahun ini di bawah organisasi non profit yang selalu bekerjasama dengan Kementrian Lingkungan Hidup dari setiap negara di Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Hemisphere Foundation yang berpusat di Singapura. Saat ini, Chair personnya adalah Ms. Ann Phua dari Singapura. Untuk Tahun lalu, kegiatan diadakan di Indonesia sebagai tuan rumah lomba dan seminar bertempat di SMA Taruna Nusantara Magelang,Jawa Tengah sebagai pusat kegiatan selama sepekan. Kegiatan itu dilaksanakan dengan menggandeng Prime Indonesia, Konsultan Pendidikan Luar negeri yang berkantor di Jogyakarta dengan Chair personnya Ms. Nurul Aini, MD,M.Biomed. Sebagai informasi tambahan, untuk tahun ini kegiatan berlangsung di Melbourne, Australia.

Begitu menerima buku panduan setibanya saya beserta tim sekolahku di Hanoi dalam kegiatan seminar dan lomba itu, maka aku buka buku panduan termasuk pembagian kelompok, ruang seminar, kamar hotel, jadwal kegiatan, nama pemateri dan peserta dari Negara Negara se Asia Pacifik. Tiba tiba, sudut mata saya menangkap ada yang salah dengan nama yang tertera di buku itu. Kenapa gelar saya menjadi Doktor. Padahal dalam formulir atau aplikasi isian yang saya isi dan saya kirimkan sebelumnya melalui email jelas jelas tertulis Drs (Doctorandus), gelar untuk sarjana keguruan sebelum ada perubahan resmi ( Gelar Drs,itu untuk ilmu sosial ,humaniora dan pendidikan dari Belanda). Kenapa huruf “S” nya menjadi hilang. Akhirnya, hal itu saya sampaikan kepada panitia gabungan dari beberapa Negara Asia Pacifik itu bahwa gelar ini salah. Saya informasikan bahwa gelar Drs itu adalah untuk under graduate program S1, sedangkan DR itu adalah gelar untuk Doctoral program, atau S3. Panitia segera merespon dan menyadari, serta hanya minta maaf, karena tidak mungkin merubah ratusan buku dan menariknya dari forum seminar gara gara hal itu. Juga itu berlaku untuk nama saya yang tercantum di meja peserta.

Ya sudah, dengan sedikit menggerutu, akhirnya selama sepekan,saya hanya bisa menahan napas jika ada kolega seminar yang memang bergelar doctor mengajakku berdiskusi dan sesi tanya jawab. Kejadian ini mengingatkan saya dengan senior saya yaitu bapak Drs. Jarwoto. M.Ed, Pengawas Dikmen, NTT, yang juga alumnus Curtin University, Perth, Australia Barat. Dengan jurusan komputer, sains dan Matematika. Saat beliau bertugas di luar negeri, juga mengalami hal yang sama saat menjadi pemateri atau dewan juri untuk lomba Sains dan Matematika Internasional di QTEP Math. Gelar beliau juga menjadi DR. Jarwoto.M.Ed. Beliau protespun juga tidak ditanggapi. Akhirnya, beliau juga hanya menahan diri saat membaca namanya sendiri di buku panduan serta nama papan di meja.

Oh, iya, Pada saat upacara penutupan seminar di event Global Youth Summit (GYS) di Hanoi tersebut, semua peserta seminar, siswa, guru, Pembina dan panitia menerima sertifikat atau piagam kejuaraan dan piagam penghargaan. Ini hal penting, terutama untuk PNS atau ASN guru karena ada nilai kredit pointnya lhoh. Nah saat, saya dipanggil menerima piagam itu, eh, ternyata masih salah juga, masih bergelar Doktor. Sambil menahan perasaan jengah, sementara sertifikat itu aku terima dulu. Nah begitu turun dari podium, aku kembalikan kepada panitia untuk dibenarkan dan dikoreksi.

Setelah di tanah air kurang lebih 2 pekan, ada kiriman paket dokumen dikirim ke alamat kantorku dari Hemisphere Foundation, Singapura. Begitu kubuka, seperti yang sudah kuduga, pasti itu isinya sertifikat atau piagam seminar atau lomba GYS dari Hanoi dan ternyata benar. Begitu kutarik sertifikat itu dari amplop coklat lebar, segera kulihat namaku, salah apa benar. Ah, anda ini mau tahu saja ya ?, tebak sendiri deh, kali ini benar apa salah lagi ? . Sungguh Blessing in disguise bagiku.

Salam Sertifikat Literasi

Hanoi, 20022020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post