DALAM, K-13, BIARKAN MURID ANDA BERANI BERFIKIR KRITIS
DALAM, K-13, BIARKAN MURID ANDA BERANI BERFIKIR KRITIS
“Aduuh, murid saya satu itu, menjengkelkan sekali, rasanya males saya mengajar dia tuh.!”. kata salah itu ibu guru Matematika di sekolahku saat istirahat siang yang pertama. Kami semua ada di ruang guru untuk melepas kepenatan setelah mengajar 4 pelajaran di sesi pagi pertama. Karena banyak bapak dan ibu guru yang berdiskusi, sayapun akhirnya ikut mendengarkan cerita itu dan mengajukan pertanyaan sederhana, “ Memangnya murid itu kenapa bu ?!”. Segera, ibu guru tersebut dengan nada agak kesal menjawab, “ Begini pak, ada satu murid cowok, saat saya beri soal Matematika yang membahas bab Integral, kemudian soal saya tulis di papan tulis kelas, setelah saya tanya pada anak anak di kelas siapa yang bisa mengerjakan. Nah, satu siswa cowok itu mengacungkan jari untuk menjawab. Segera saya beri dia kesempatan untuk menjawab. Eh, mau tahu jawabannya ?, dia tuh, cuman menjawab “ 12y “ gitu saja. Soal yang saya tulis hampir 4 menit, eh dia jawab cuman berapa detik. Terus saya bilang, kok hanya jawabannya ?. cara mengerjakannya gimana?, atau cara kerja kamu bisa menemukan bahwa jawaban adalah “12y” tadi gimana asal muasalnya?. Jengkel saya, dia cuman tersenyum saja dan tidak mau menuliskannya di papan tulis asal usul jawaban itu.!.tapi dia anak yang pandai, cuman saya nggak suka kalau langsung menjawab begitu.!”.
Jika anda sebagai guru menemukan kasus seperti di atas, maaf, jangan jengkel atau marah dulu ya, karena pada moment itu, anda semua telah memberikan kesempatan pada anak didik anda untuk berfikir kritis (Critical thinking). Justru saat bapak ibu menemukan siswa semacam itu, seharusnya bersyukur karena jika saya nih yang jadi guru matematika, tipe anak itu tadi adalah pilihan saya untuk lomba OSN Matematika lho. Murid tersebut, otaknya secara sistematis sudah menemukan jawaban, kenapa sebagai guru anda malah membuatnya berfikir menjadi lambat dengan meminta dia menulis asal muasal jawaban “12y’ itu tadi ?.
Murid anda itu tadi adalah tipe Result, sedangkan anda sebagai guru adalah tipe Process. Tipe result ini diagung-agungkan oleh pendidikan barat. Sedangkan tipe pendidikan timur seperti Asia Pasifik justru menekankan pada Process. Ada kelemahan dan kelebihan dari masing masing tipe pendidikan itu. Justru yang membingungkan adalah negeri kita. Kenapa demikian ?. Bayangkan saja, banyak orang pandai yang dikirim ke sekolah ke Amerika ataupun Eropa, saat pulang ke tanah air dan terlibat di dunia pendidikan ataupun bidang lainnya, mereka semua cenderung melihat sesuatu dari Result tadi. Sedangkan yang dikirim belajar di Negara Asia Pasifik, otomatis mereka berusaha untuk mengedepankan Process dalam semua lini. Lucunya, saat mereka yang hasil didikan barat dan bertemu dengan mereka hasil didikan timur, jika ada di dalam satu kementrian, justru menimbulkan benturan baru. Jika dalam dunia pendidikan, semua bapak dan ibu guru jadi bingung dalam membuat langkah dalam mengajar. Mereka harus mengutamakan process atau result itu tadi. Bisa dilihat saja dari berbagai kebijakan yang muncul di pendidikan kita. Mulai dari regulasi, kurikulum, maupun hal lainnya, terkadang, satu sama lain saling tidak mendukung ? mau bukti ? coba pelajari aturan sistim dapodik dengan aturan penerimaan tunjangan sertifikasi, ada kan ?.
Nah, karena itu, dalam kurikulum 2013, baik siswa maupun guru dituntut untuk saling mampu berfikir kritis karena hal itu justru sangat diperlukan. Sebagai gambaran, pada tahun 1987, Michael Schrive dan Richard Paul dalam Wikipedia.org/wiki/beripikir_kritis , menjelaskan tentang 2 komponen yang membentuk murid kita berpikir kritis, yaitu 1. Kemampuan untuk menghasilkan dan memproses informasi atau kepercayaan. 2. Kebiasaan dengan berdasarkan komitmen intelektual.
Sekarang bandingkan dengan apa yang disampaikan oleh Edward Glaser tahun 1941 tentang berfikir kritis itu adalah 1. Pemahaman berpikir santun untuk setiap permasalahan yang datang yang ada pada rentang pengetahuan yang dimilikinya. 2. Pengetahuan dan keingintahuan. 3. Kemampuan kemampuan lain untuk menerapkan kemampuan berpikir.
Kemudian contoh konkrit di kelas bagaimana sebagai misal ?. Jika ada murid anda berbeda pendapat dengan anda sebagai gurunya, sebaiknya jangan langsung murid divonis bersalah,tidak disukai atau dihentikan untuk tidak berpendapat. Dengarkan dulu penjelasan murid anda itu tadi. Jika memang berbeda pemahaman dengan anda, coba cari pendapat dari murid yang lainnya. Setelah itu, anda sebagai guru bertanya, dengan pendapat murid yang berbeda pandangan tadi untuk referensi. Sebagai guru, bawa saja pandangan murid yang berbeda itu ke ranah norma sosial, norma etika, adat atau norma agama, juga way of life bangsa Indonesia dan lain lainnya. Apakah semua nilai nilai yang bapak ibu sebutkan sama atau bertentangan dengan pendapat murid anda tadi?. Dengan demikian, murid akan mengambil kesimpulan sendiri dengan bantuan bapak ibu guru untuk membuat keputusan yang tepat dan santun seperti pendapat Edward Glaser di atas.
Prinsipnya, berfikir kritis itu memberikan kesempatan pada murid untuk berani menyatakan pendapatnya, pandangannya, keputusannya serta penerimaan terhadap perbedaan yang dimilikinya. Murid anda masih labil. Egonya sangat besar, rasa ingin tahunya juga tinggi. Anda, sebagai guru, adalah pengontrolnya. Bukan guru yang berfungsi sebagai seperti hakim atau jaksa yang bisa menghentikan pendapat murid yang berbeda dari anda. Biarkan murid menyampaikan gagasan, ide pendapat yang bisa jadi pandangannya keluar dari norma yang ada, namun tetap harus disampaikan dalam kaidah santun dan keintelektualan (Richard Paul). Ingat !, Guru, adalah orang yang bisa mengembalikan murid pada jalur yang seharusnya dengan memberikan kesempatan pada murid untuk berfikir kritis terhadap semua permasalahan yang datang. Saat itulah, anda disebut sebagai seorang guru yang bijaksana.
Salam Literasi Pendidikan
Magetan, 28022020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
