Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
“ Piknik ke Penjara saja aah,..!”

“ Piknik ke Penjara saja aah,..!”

Piknik ke Penjara saja aah,..!”

Itulah gumanku dalam hati saat liburan hari minggu seperti ini. Sudah tanggal tua, udara panas menyengat. Nah, daripada bengong saja, jadi aku memutuskan untuk jalan jalan dan piknik ke penjara. Apalagi sudah sepekan ini disibukkan dengan aktifitas kampus dan sekolah yang tiada hentinya. Tapi sebentar, ini bukan di sini lho, melainkan di Fremantle,kota pelabuhan yang berjarak 30 km dari kota Perth, Australia Barat.

Anda pasti mengatakan “Gilaa..!, piknik kok ke penjara, apa indahnya juga tuh ?”. Jika ada yang berfikiran seperti itu, anda tidak salah karena sebelum anda, aku sendiri juga mengatakan hal itu pada diriku sendiri.

Dengan ditemani sobat karibku si Arga Hariyanti Arjana dan si Billy orang Aussie. Mulailah aku kelayapan ke kota fremantle dengan naik kendaraan kampus Phoenix Academy, yang disopiri Billy,orang kampus yang juga temanku akrab. Kami sering menghabiskan waktu dengan pergi memancing di laut, bermain tenis atau jalan jalan. Nah, kali ini dia saya todong untuk mengantarkan ke Penjara Fremantle yang konon terkenal angker itu. Berangkatlah kami pada hari minggu pagi yang cerah itu dan begitu tiba di Fremantle, suasana masih lengang dan hanya beberapa kendaraan yang berlalu lalang. Aku yakin, penduduk setempat pasti menghabiskan waktu libur minggu mereka di pantai karena di tengah perjalanan aku lihat pantai penuh dengan orang Aussie yang sedang berjemur. Singkatnya, begitu Billy memarkirkan kendaraan, kami bertiga menuju loket untuk membeli tiket masuk seharga 2 Dollar AUS per orang. Segera aku sambar pamplet penjelasan dalam bahasa Inggris di situ dan segera aku pelajari tentang sejarah dan rute penjara Fremantle yang berlantai 4 dan sangat luas itu.

Perlu diketahui dulu, penjara Fremantle ini dibangun oleh para tahanan yang dibawa oleh kerajaan Inggris ke Australia pada tahun 1850. Para tahanan tersebut diturunkan dari kapal layar besar di kota Fremantle karena sebagai kota pelabuhan yang juga merupakan urat nadi perekonomian penduduk menuju kota Perth di Australia Barat. Penjara yang dibangun dengan meniru model penjara di Inggris tersebut berlantai 4 yang pembangunannya dimulai pada tahun 1851 serta dirampungkan pada tahun 1858. Dikarenakan sering terjadinya pemberontakan di dalam penjara tersebut terutama pada sekitar tahun 1970 an sampai dengan tahun 1980 yang memakan banyak korban jiwa baik para tahanan maupun para sipir penjaganya, maka Pemerintah Australia secara resmi menutupnya pada tahun 1991. Setelah itu, penjara yang dikenal dengan cerita horror dan kekerasannya ini dijadikan destinasi wisata dunia. Waah, ada ada saja ya. Aku nggak bisa membayangkan jika Penjara Nusa Kambangan dijadikan tempat wisata juga, pasti lebih keren tuh. Cuman, piknik ke penjara itu popular apa tidak di Indonesia nih. Ha.ha. paling paling, anda juga nggak mau ke sana khan ?

Penjara Fremantle yang berlantai 4 tersebut dibagi berdasarkan jenis kejahatan para narapidananya. Pembagian tempat sel mereka, disebut Division. Divisi 1, untuk tahanan kelas teri, misalnya penunggak hutang, pencuri, kenakalan remaja yang usianya hanya untuk maksimal 25 tahun. Untuk Divisi 2, yaitu untuk tahanan para perusuh, pencuri dengan kekerasan, pemabuk berat dan para perusak atau pemerkosa. Sedangkan untuk Divisi 3, adalah tahanan dengan hukuman puluhan tahun serta perilaku jahat dan buruk, seperti para pembunuh. Yang terakhir adalah Divisi 4, untuk tahanan yang akan kembali masyarakat, berkelakuan baik dan diberi pekerjaan sebagai tukang masak,tukan sapu/ bersih dan sebagai mandor di dalam penjara tersebut.

Karena begitu luasnya penjara itu, aku harus berputar putar serta naik turun untuk melihat kondisi sel sel disitu. Anehnya, di setiap kamar tidak ada toiletnya, melainkan hanya disediakan satu buah ember untuk satu tahanan apabila, maaf, ada yang buang hajat. Pagi harinya, mereka harus berbaris untuk membuang kotoran mereka sendiri di septictank di luar penjara. Wow, sungguh tidak bisa membayangkan susahnya tuh. Dan pintu sel tahanannya terbuat dari seng tertutup, bukan jeruji seperti penjara pada umumnya. Semua terisolasi, dan mereka tidak bisa berkomunikasi antar para narapidana saat itu di dalam penjara Fremantle.

Begitu aku menyempatkan untuk mengunjungi halaman belakang, sedikit kaget juga, karena di situ rupanya ada tempat penyiksaan tahanan yang memberontak. Mulai dari hukuman cambuk sampai hukuman gantung. Para narapidana itu, kasus kejahatannya terjadi di Inggris, hukuman diputuskan di pengadilan Inggris, kemudian dibawa ke Fremantle Australia, dan digantung di penjara ini. Lhah, kok terasa aneh, menurutku. Apa selama perjalanan dari Inggris ke Australia selama 6 bulan dengan kapal layar yang harus susah payah di hantam gelombang samodra itu, terus ngapain kok begitu tiba di Fremantle, malah digantung..apa biar tobat dulu atau bagaimana ya. Walahuallam.

Bahkan, melihat daftar nama-nama para tahanan yang dihukum gantung di penjara Fremantle ini saja sudah terasa ngeri bagiku, plus riwayat kejahatan yang mereka lakukan di Inggris atau di Australia, terutama saat demam emas (Gold Rush) melanda Australia sehingga penduduk menjadi meningkat drastis jumlahnya karena banyak warga Negara lain yang beremigrasi ke Australia dan menimbulkan masalah pelanggaran hukum yang besar. Belum lagi, lorong lorong di dalam penjara yang pengap dan gelap, serta dinding berbatu yang terasa dingin meskipun udara diluar sangat panas. Konon, mereka yang dihukum mati di penjara ini, masih menghantui para narapidana lainnya dan sampai saat ini bahkan terdengar jeritan suara wanita terutama pada tengah malam. Wuiih..ngeri juga.

“ Mestinya kita ke pantai ya, pak “, sobatku si Arga memecahkan keheningan yang mencekam. Dengan santai, akupun menjawab, “itulah bedanya, piknik ke pantai dengan piknik ke penjara. Di sini, kita jadi belajar beratnya sebuah Negara didirikan dari sejarahnya”. Sambil tertawa,aku menoleh pada Arga dan menambahi ,” Kalau piknik ke pantai di Indonesia, saya sih senang saja tapi kalau ke Pantai di Australia dengan udara yang panas seperti ini, kita berdua akan jadi tambah hitam nih, dan lagi, iman kita harus kuat selama melihat cewek Aussie yang cantik cantik berenang dan berjemur di pantai, tuh.Jika tidak, ganti kita berdua yang masuk penjara Aussie betulan ntar karena gak bisa menahan diri”. Kami berdua tertawa terbahak bahak, kecuali si Billy, karena dia tidak paham bahasa Indonesia dan juga tidak akan saya jelaskan padanya. Biarin saja dia dengan kebengongannya ha.ha.

Salam Literasi Piknik

Fremantle prison, 16022020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post