TAMBAHAN ISTILAH 2 C PADA K-13 DARI MAS NADIEM
Tambahan Istilah 2 C pada K-13 dari Mas Nadiem
Oleh : E.A.Wahyudiono
Kita sebagai guru juga bagi peserta didik, harus tahu apa nih perubahan dari Kurikulum 2013 atau yang kita kenal dengan Kurtilas (K-13). Penambahan istilah 2 C tersebut secara otomatis akan membuat paradigma pendidikan di negeri ini juga akan berubah. Penjelasan itu disampaikan secara resmi di minggu lalu pada tanggal13-2-2020 saat acara Grow Show dengan Google di Perpustakaan nasional Indonesia di Jakarta.
Menariknya, pada event itu juga ada informasi resmi bahwa yang sebelumnya pada K-13, kita sudah mengenal 4 C dari SIM-PKB 2018, yaitu COMMUNICATION, COLLABORATION, CRITICAL THINKING dan CREATIVITY, ada penambahan istilah 2 C lagi dari Mas Nadiem, yaitu, COMPUTATIONAL THINKING dan COMPASSION.
Anda semua pasti tahu, apa yang dimaksud dengan Communication, yaitu suatu kegiatan mentransfer sebuah informasi baik secara lisan maupun tulisan. Bagi siapa?, ya untuk guru beserta siswa itu sendiri. Harus ada komunikasi 2 arah dalam transfer of knowledge di sekolah antara guru dan siswa.
Bagaimana dengan Collaboration ?. itu adalah bagaimana guru dan siswa bisa bekerja sama, saling bersinergi, beradaptasi dalam berbagai peran dan tanggungjawab baik di kelas maupu semua kegiatan di sekolah.
Sementara untuk Critical Thinking, ini bagian yang sangat penting, bagaimana memberikan kesempatan pada anak didik kita untuk berfikir kritis di kelas. Biarkan mereka untuk mengembangkan pendapatnya bedasarkan imajinasinya. Tugas guru hanya mengarahkan pada fakta, norma sosial dan agama serta mencari problem solving pada banyak masalah kehidupan yang terjadi di masyarakat.
Yang terakhir adalah Creativity, yaitu kemampuan yang harus dikembangkan dan dimiliki oleh para siswa untuk mengembangkan, melaksanakan, dan menyampaikan gagasan-gagasan baru dari sudut pandang yang berbeda serta bisa menerima perbedaan daya kreatifitas orang lainnya pula.Nah, sekarang apa yang dimaksud dengan Computational Thinking itu ?. banyak yang berusaha menjelaskan hal itu. Kalau mengacu pada Wikipedia.org, Istilah Computational Thinking (CT) ini bukanlah hal yang baru, karena sudah diperkenalkan oleh Seymour Papert pada tahun 1980 dan juga tahun 1996, namun terhitung tahun 2014, Pemerintah Inggris memasukan CT ini ke dalam kurikulum sekolah dasar dan menengah karena mereka percaya bahwa CT ini akan dapat membuat siswa menjadi lebih cerdas dan memahami masalah di sekitar mereka untuk bisa mencari solusi melalui tehnologi secara lebih cepat dan tepat. Kemudian baru di susul Negara lain seperti Amerika, Jepang, Korea, China dan Australia. Sedangkan kita, baru akan menggunakannya terhitung tahun 2020 ini karena CT mempunyai peran penting dalam penggunaan aplikasi komputer yang hal ini mendukung pemecahan masalah semua disiplin ilmu termasuk humaniora, matematika, ilmu pengetahuan dan sosial. Saya yakin, semua bapak ibu guru terhitung minggu lalu sudah mulai simulasi dan latihan soal soal berbasis CBT untuk mencoba soal dalam AKM-Assessmen Kompetensi Minimum untuk siswa kita semua di tahun depan sebagai pengganti UNAS. Kurang lebih soal soal yang dimaksud mas menteri dalam Computational Thinking (CT) adalah seperti yang bapak ibu kerjakan itu. Semua soal berpadu jadi satu (Integrated Test).
Pertanyaan selanjutnya, apakah bapak ibu guru sudah menggunakan CT tersebut dalam pembelajaran di kelas ?. Jawabannya adalah tentu saja sudah, cuman mungkin bapak ibu guru tidak menyadarinya. Jika anda ingat Problem Based Learning (PBL), itu merupakan elemen penting dari pendekatan STEM ( Science, Technology, Engineering and Mathematics). Itu semua sudah dilakukan oleh bapak dan ibu guru walaupun hanya beberapa orang saja ,terutama guru MIPA dan Matematika. Saat ini, bahkan sudah dikembangkan ke arah “STEAM’, dimana huruf “A” adalah ARTS (seni). Coba anda ingat ingat lagi, sudahkan anda melakukannya dengan memberikan soal jenis HOTS pada siswa anda agar mereka menjadi semakin cerdas ?. STEM ini sudah dikembangkan oleh SEAMOLEC, SEAMEO untuk sekolah sekolah di kawasan ASEAN,termasuk Indonesia.
Terus, apa yang dimaksud dengan Compassion ?. Mas Nadiem ingin menekankan pentingnya “The man behind the gun”. Yaitu manusia dibelakang Komputer itu tadi. Mereka semua harus mempunya “Kasih sayang” dan “Hati nurani” yang nantinya mengarah pada pembentukan karakter anak didik kita di zaman yang serba digital ini. Dulu ada artikel saya dengan judul, apakah anda para guru siap bila digantikan dengan robot?. Sejujurnya hal itu sudah terjadi, dimana anak didik lebih percaya dengan search engine, misalnya google daripada pada gurunya itu sendiri. Karena para robot itu tidak mempunyai HATI, makanya dimasukkanlah aspek COMPASSION dalam perubahan K-13. Misalnya,si pembuat aplikasi Google, Amazon, Go jek dan lainnya itu adalah orang yang sangat cerdas serta punya hati dan kasih sayang. Mereka semua ulet, kreatif, inovatif dan smart bahwa hasil kreasinya itu pastilah akan dipakai secara global. Mereka semua adalah hasil pendidikan dari Kurikulum Computational Thinking.
Dampak dari penambahan 2 C, yaitu Computational Thinking dan Compassion dalam K-13, sudah diantisipasi oleh Mas Nadiem yang secara bersamaan juga akan mengeluarkan kebijakan lainnya yang salah satunya adalah mengembangkan pendidikan yang memprioritaskan pendidikan karakter dan pengamalan pancasila. Kita sebagai guru, saat ini hanya bisa menunggu dan berharap bahwa regulasi yang nanti dikeluarkan secara resmi baik dalam bentuk Permendikbud, beserta Peraturan pemerintah yang menaunginya dan dilengkapi dengan Juknis/ Juklak sebagai payung hukum dalam implementasinya di dunia pendidikan Indonesia. Yakin saja, Perubahan yang lebih baik di dunia pendidikan kita, kelak akan membuat pendidikan kita disegani dunia. Tinggal kita semua para guru yang mau tidak mau harus siap menerima dan menghadapi perubahan global. Bismillah..!
Salam Literasi Pendidikan
Magetan, 27022020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
