TAMPARAN BUPATIKU UNTUK PARA GURU
TAMPARAN BUPATIKU UNTUK PARA GURU
Oleh : EA Wahyudiono
Kira kira itulah judul yang yang pas untuk menggambarkan rasa di hati ini saat mendengarkan pendapat dan petuah beliau baru baru ini saat diwawancarai oleh salah satu media siaran radio di Provinsi Jawa Timur. Dalam interview itu,beliau menekankan pada semua guru tentang betapa pentingnya kegiatan menulis baik itu untuk guru di tingkatan pra sekolah, di tingkatan sekolah dasar maupun di sekolah menengah. Esensinya adalah harapan beliau itu ditujukan pada guru di kotaku, namun gaungnya bisa merambah pada seluruh guru di semua daerah di Jawa timur bahkan bisa ke seluruh tanah air.
Beliau bupatiku yang menjabat sejak tahun 2018 sampai dengan sekarang adalah Bapak Dr, Drs. Suprawoto, S.H. M.Si. Bupati Magetan, Provinsi Jawa Timur. Kota di ujung barat yang berbatasan dengan jawa tengah. Sebelumnya, beliau menjabat sebagai Sekjen Kemenkominfo di Jakarta yang kemudian kembali ke kota di mana beliau bersekolah dan dibesarkan yang juga merupakan salah satu alumnus SMA 1 Magetan, Provinsi Jawa Timur.
Beliau dikenal sebagai seorang penulis buku yang produktif, bahkan beberapa karyanya sering menghiasi beberapa media cetak di tanah air. Jika anda penggemar bahasa Jawa, beliau merupakan pengisi artikel yang aktif di media Jayabaya dan Panjebar Semangat, serta beberapa buku karya beliau yang sempat kami bedah bersama pada tahun 2018 awal. Bahkan, beliau sering mengajak seluruh lapisan masyarakat terutama kaum guru untuk selalu berliterasi dan harus berani menulis buku.
Kalimat beliau yang cukup menampar kita para guru adalah ,”Sibuk mana guru dengan bupati ?, kalau bupati saja masih bisa dan sempat menulis buku, masak gurunya gak bisa ?”. Walaupun kalimat itu disampaikan sambil bercanda, namun sebenarnya adalah pemberian motivasi bagi para guru dan tantangan untuk kita agar gemar menulis. Beliau bahkan juga menambahi bahwa menulis itu adalah memonopoli suatu sejarah. Kenapa demikian, karena yang lainnya tidak mau menulis. Beliau menekankan bahwa menulis itu akan menambah cakrawala wawasan baik si pembaca maupun penulis itu sendiri serta meninggalkan khazanah pemikiran yang luar biasa bagi anak cucu kita kelak. Itu adalah kalimat yang beliau sampaikan pada kita semua para guru.
Beliau mengingatkan, kegemaran akan menulis serta literasi sebenarnya sudah ada di zaman nenek moyang kita. Sebagai gambaran beliau menyampaikan bahwa zaman dulu, semua kegiatan ditulis di atas batu atau prasasti agar anak cucunya yaitu kita semua, bisa mengenali sejarah kita, akar kita , jati diri kita sebagai bangsa Indonesia. Apalagi sekarang, ada tehnologi internet, komputer, gawai atau handphone, notebook,atau laptop. Jadi kenapa tidak segera memulai menulis.
Rasanya malu sekali dan serasa ditampar oleh beliau, dalam arti lecutan agar kita para guru menjadi lebih semangat untuk menulis terutama saya yang hanya kelihatan sibuk tanpa meninggalkan satu karya buku apapun. Namun tidak ada kata terlambat untuk memulai menulis. Semoga gerakan literasi di Kota saya, Magetan, benar benar terwujud dan bukan hanya slogan atau seremonial saja. Harapan saya, semoga juga gerakan satu guru satu buku (SaguSabu) segera bisa terwujud dan masuk kota Magetan dalam waktu secepatnya. Ingatlah, bahwa Sesuatu yang sulit itu adalah hanya saat kita akan memulainya saja,setelah itu semua akan mengalir dengan mudah. Semangat !
Salam Literasi
Magetan 11022020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
