Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Giang Le, Gadis Hanoi yang Cinta Indonesia

Giang Le, Gadis Hanoi yang Cinta Indonesia

Giang Le, Gadis Hanoi yang Cinta Indonesia

Oleh : EA.Wahyudiono

Iya, benar, gadis itu namanya Giang Le. Pertama bertemu denganku saat dia bertugas sebagai panitia yang menjemput rombongan delegasi dari Indonesia untuk lomba Inovasi Lingkungan tingkat pelajar se Asia Pacifik di Bandara Internasional No Bai Hanoi, Vietnam pada musim dingin yang lalu.

Gadis cantik berkulit putih yang tinggi dan langsing serta berambut lurus panjang itu dengan ramah membimbing kami dari ruang tunggu bandara untuk menuju ke bus yang memang sudah disediakan oleh pantia bagi seluruh delegasi ASEAN.

Sambil menunggu pendaratan delegasi lainnya dari beberapa Negara Asean yang selisih waktu pendaratan paling lama 20 menitan, sambil mengisi waktu, aku berkesempatan untuk berkenalan lebih akrab dengan salah satu gadis Hanoi tadi dan namanya adalah Giang Le.

Bahasa Inggrisnya sangat bagus, karena memang dia adalah mahasiswa tingkat akhir di Fakultas sastra Inggris di Universitas National Hanoi. Sedangkan aku, hanya bisa mengatakan "Xin chao " ( Halo/ apa kabar) dalam bahasa Vietnam. Kami berdua akhirnya segera bisa menjadi akrab satu lain dalam waktu singkat.

Meskipun saat itu sedang musim dingin dengan suhu udara berkisar 7 derajat Celsius serta berangin, rasanya tidak begitu dingin bagi kami orang Indonesia, bahkan terasa sejuk. Aku tidak tahu, apakah karena terbiasa udara panas di tanah air, jadi senang saat berada di udara dingin atau karena asyik ditemani oleh si Jelita, Giang Le ?. Ahh, aku sendiri juga tidak tahulah.

Setelah semua delegasi dari Laos, Singapura, dan Oman yang kami tunggu tiba di bandara No Bai, Hanoi ,kami semua segera diminta untuk masuk ke bus dan menuju hotel di Pusat kota Hanoi yang Hotel tersebut sekaligus tempat kegiatan lomba Inovasi Lingkungan antar pelajar se Asia Pasifik itu.

Pada malam harinya, ada pertemuan untuk persiapan besuk pagi hari berikutnya, untuk itu, semua panitia, peserta, guru Pembina, harus berkumpul di Hall Hotel untuk gladi bersih upacara pembukaan. Setelah acara tersebut, panitia membagi hand out, jaket, topi, buku panduan, jadwal dan lain lainnya selama kegiatan pada malam pertama itu, juga pembagian kelompok untuk rombongan dalam memudahkan mobilitas semua peserta terutama saat harus masuk ke dalam bus. Hal itu dikandung maksud untuk memudahkan pengontrolan peserta dan panitia. Beruntungnya, Giang le, ternyata menjadi pendamping untuk delegasi Indonesia, dan pas juga di dalam kelompokku. Mimpi apa juga. Jadi semangat nih.

Kegiatan demi kegiatan di dalam lomba dan agenda kunjungan ke industri serta lembaga pemerintah dan swasta di Hanoi membuat kami berdua saling bercerita tentang Negara masing masing selama perjalanan di dalam bus yang kebetulan juga tempat dudukku dengan dia ada di bangku yang sama. Dari cerita Giang Le, dia ternyata sangat cinta dengan Indonesia dan pernah pada event pertemuan tingkat kementrian ASEAN sebelumnya, dia menjadi penterjemah untuk delegasi Indonesia. Mengingat keramah tamahan orang Indonesiadi acara itu, di dalam pikiran Giang Le, Indonesia pastilah bangsa dengan kepribadian luhur dan masyarakatnya maju.

Karena begitu akrabnya kami berdua, dia memintaku untuk memanggilnya Riski, karena nama itu adalah nama Indonesia dan mudah diingat. Aku juga tidak keberatan. Nah, sejak itu, aku memanggil dia, Riski. Juga seluruh delegasi dari Indonesia lainnya menghormati dia dengan nama panggilan itu karena dia sangat membantu tim Indonesia dalam event lomba di Hanoi itu.

Singkatnya, aku tidak akan bercerita tentang lomba di Hanoi, melainkan hanya mau bercerita tentang Riski itu tadi. Oh, iya, setelah semua acara lomba di Hanoi selesai dan aku harus kembali ke tanah air, selanjutnya kami berdua berkomunikasi lewat Aplikasi Whassaps, Messengers atau E-mail.

Setelah beberapa bulan berlalu, Riski akhirnya lulus juga dan mendapatkan gelar Bachelornya dari Universitas Nasional Hanoi. Akupun tak lupa mengucapkan selamat atas keberhasilannya dalam menyelesaikan studinya dengan lebih cepat.

Karena ketertarikannya akan Indonesia, Pada suatu hari, Riski memintaku untuk membuat surat rekomendasi bagi dirinya dalam bahasa Inggris yang dipergunakan untuk mengajukan beasiswa dari pemerintah Indonesia bagi warga ASEAN yang ingin melanjutkan studi di Univeristas Negeri di Indonesia.

Dengan segera, permintaan itu aku turuti. Setelah melalui serangkaian tes tulis dan wawancara,di KBRI Hanoi akhirnya, aku mendapat kabar bahwa Giang Le atau Riski tadi lolos tes dengan mendapat beasiswa dari kemendiknas Indonesia dengan penempatan kampusnya di salah satu Universitas Negeri yang terkenal di Jogyakarta. Riski harus belajar selama satu tahun di Indonesia dengan program dari pemerintah Indonesia itu.

Oh ya, mau tahu nama program itu ?. Program itu adalah Program Beasiswa Darmasiswa, yang setiap tahunnya ada sekitar 700 mahasiswa asing dari seluruh dunia yang disebar di seluruh Universitas se Indonesia.

Waah, rasanya senang sekali bisa membantu Giang Le. Apalagi, kotanya di Jogya yang tidak jauh dari kota tempatku tinggal. Jika dengan mobil pribadi, paling lama menghabiskan waktu 4 jam perjalanan dengan istirahat dua atau tiga kali.

Dari informasi yang aku terima, hanya ada 4 calon mahasiswi dari Vietnam yang dinyatakan lolos dan penempatannya menyebar di Universitas di Jawa, Sumatra, Bali dan Sulawesi. Tak sabar rasanya untuk segera bertemu dengan dia di Jogyakarta bila sudah datang. Jadi membayangkan, bahwa kali ini adalah tugas saya sebagai tuan rumah untuk menjemputnya di bandara di Indonesia.

Namun, saat Riski sudah datang ke Indonesia dan melanjutkan studi di Jogya, belum pernah sekalipun aku bertemu dengannya. Hal itu dikarenakan agendaku sendiri yang sangat padat dan posisiku sendiri juga masih ada di negara lain. Sedih rasanya. Aku tidak bisa menepati janjiku sendiri dikarenakan situasi dan kondisi dari pekerjaan dan tugasku.

Riski sering bercerita melalui gawainya tentang kondisi Indonesia, mulai dari udaranya yang panas, juga makanannya yang rata rata pedas juga pengalaman buruknya selama kuliah karena dibuntuti oleh seseorang setiap hari saat berangkat maupun pulang dari kampusnya di Jogya dan akhirnya ,dia merasa tertekan sampai jatuh sakit dan harus di rawat di rumah sakit di Jogya. Aku belum bisa menjenguknya, karena masih bertugas di Eropa saat itu.

Akhirnya, kesedihanku bertambah karena melihat kondisinya Riski yang sakit parah. Oleh dokter di sini, dia harus dinyatakan pulang karena mengalami stress akut dan terpaksa tidak bisa melanjutkan program beasiswa yang telah dia jalani selama hampir 4 bulan di Indonesia.

Padahal bahasa Indonesianya sudah sangat lancar dan bagus sekali. Rasanya disayangkan sekali jika dia gagal di tengah jalan dalam masa studinya, namun kesehatannya lebih utama dibanding lainnya. Aku menyadari akan hal itu. Sampai suatu hari, dia berpamitan denganku melalui gawainya bahwa hari itu dia harus kembali ke Hanoi dan meminta maaf bila mengecewakan diriku yang dulu pernah berjanji untuk akan menyelesaikan studinya sampai lulus dengan predikat terbaik.

Aku hanya bisa mendoakan dia untuk kembali sehat dan tetap semangat. Aku yakin, pasti cepat atau lambat, kami nanti juga akan bertemu lagi entah di Indonesia atau di Vietnam. Inshaa Allah, Januari 2021. Eh, ada yang mau ikut saya ke Hanoi untuk menemui si Giang Le?.

Sebentar, anda semua jangan curiga dulu ya, itu semua, karena akan ada lomba Inovasi Lingkungan dari GYS 2021 untuk tingkat pelajar se Asia Pacifik ,dari Hemisphere Foundation dan Kementrian Lingkungan ASEAN dengan tuan rumahnya adalah Vetnam lagi.

Salam Literasi Lintas Budaya

Manhatan, 06022020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post