KENAPA ANAK KECIL ADA YANG CEPAT DAN LAMBAT DALAM PENGUASAAN BAHASA ?
KENAPA ANAK KECIL ADA YANG CEPAT DAN LAMBAT DALAM PENGUASAAN BAHASA ?
Oleh : E.A. Wahyudiono
Suatu hari,teman saya, bapak Widodo, seorang Notaris yang tinggal satu di komplek perumahan di lingkungan saya mengeluh, kenapa putranya yang kecil , berusia sekitar 18 bulan kok masih lambat dan belum bisa berbahasa dengan lancar. Putranya sering mengucapkan dalam bahasa cadel atau pelo, yaitu,’ Ma mik cucu..!”. daripada “ Ma, minum susu..” yang padahal teman seusianya sudah lancar berbicara.
Akhirnya saya tanya, “” Lha dulu, ibunya mengajari apa saat anak anda haus atau menangis dan ingin minum ASI ?”. Pak Widodo terdiam, dan menjawab .” Benar, saya baru ingat, kita mengajarinya dengan kalimat “ Mik, cucu.. lha saya gemes,.. itu salah ya ,pak ?”
Kita tahu semua fase belajar anak kecil yang pertama kali adalah meniru, jadi sebagai orang tua, jangan sesekali mengajari anak dengan bahasa yang dibuat-buat karena anak bapak dan ibu akan berkembang logikanya bahwa bahasa yang dibuat buat karena gemes itu akan dianggap yang benar dalam membangun struktur perbendaharaan kata di dalam otak anak kecil yang sedang berkembang untuk fase awal belajar bahasa, yaitu menirukan. Oleh karena itu, untuk belajar bahasa asing secara resmi, misalnya dikursus atau di sekolah ?, Para ahli bahasa menyarankan saat anak anda mencapai 10 tahun, agar tidak terjadi kebosanan dalam penataan struktur kata atau kalimat serta juga daya ingatnya akan tesimpan permanen di otak.
Saat saya sedang menempuh study di Universitas Nagasaki, Jepang, ada hal yang menarik perhatian saya pada kemampuan dari dua anak kecil, putra dari teman saya, yaitu Bapak Bambang Sumartono, seorang peneliti yang kuliah untuk Program Hakase ( Doktoral) di Universitas yang sama.
Kemampuan yang menarik minat saya adalah, begitu cepat sekali kedua anak yang masih berusia 3 dan 5 tahun itu dalam menguasai bahasa Jepang tanpa melalui pembelajaran resmi, melainkan dia hanya mendapatkannya dari teman teman bermainnya di asrama mahasiswa, menonton film kartun Jepang dan membaca buku bacaan dan akhirnya menirukan tanpa takut salah.
Sedangkan saya dengan beberapa mahasiswa dari Indonesia dan juga beberapa mahasiswa asing dari seluruh dunia dari banyak program yang berbeda harus belajar bahasa Jepang sekitar 4 sampai dengan 6 bulan. Itupun masih kesulitan dalam mengingat kata kata baru, struktur kalimat, daftar kata kerja, juga partikelnya yang padahal setiap pagi, kita semua selalu mendapat ujian dan juga pekerjaan rumah yang luar biasa banyaknya malah kalah dengan anak anak kecil yang belajar secara mandiri dan di bawah alam sadar mereka.
Pertanyaan selanjutnya, manakah yang sebaiknya diajarkan pada anak kecil, bahasa daerah atau bahasa Indonesia ?
Jika pertanyaan itu saya jawab dengan pendapat pribadi, jawaban saya adalah Ajarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa Ibu, baru kemudian bahasa daerah. Kenapa demikian ? banyak faktor yang mendukung jawaban saya itu. Semua informasi pendidikan, baik media cetak maupun media elektronik pasti disampaikan di dalam bahasa Indonesia., apakah itu berita, drama dan berita apapun. Anak anda akan cepat sekali mendapatkan informasi di dalam otaknya dan segera memproses data informasi yang diterima sehingga anak anda termasuk mereka yang berkategori cerdas. Tahu lebih dulu daripada anak anak yang lainnya karena perbendaharaan kata kata dalam bahasa Indonesia segera dikuasai olehnya terlebih dulu.
Biarkanlah, anak anda mendapat bahasa yang kedua, yaitu bahasa daerah tadi dari anda dan lingkungan bermain mereka. Dengan catatan, jangan mengajarinya dengan bahasa yang dibuat buat apalagi dengan gaya cadel (pelo) dan nada manja, seperti kasus teman saya, pak Widodo tadi.
Untuk memastikan, saya akhirnya memberanikan diri bertanya pada pak Widodo, “ Nah, pak, ..sebagai seorang ayah, kata Pertama apa yang harus anda ajarkan pada anak anda ?, yaitu kata panggilan kepada anak .. Ibu, mama, umi atau mami, apa saja…ataukah, anda ajari, kata papa, bapak, abi atau papi..?” Dengan mantap dan bangga, pak Widodo menjawab, “ ooh, saya mengajari kata “papa” untuk pertama kali kepada anak saya..”
Sayapun tertawa dan menjawab, “ Bapak salah tuh.., seharusnya sebagai ayah, kata pertama yang harus kita ajarkan adalah kata “Mama” dulu..”. Dengan sedikit heran, pak Widodo balik bertanya, “ Kenapa bisa harus begitu pak !?”. Dengan segera sayapun menambahi ," Begini pak, sejujurnya, ini strategi kita para ayah. Kita ajari kata “Mama” terus menerus pada anak kita, manfaatnya adalah, saat anak kita rewel, otomatis yang keluar panggilan pertama adalah kata “mama”,, Bukannya kata " papa" , apalagi jika saat tengah malam anak kita mengompol dan menangis, tetaplah yang dipanggil mamanya, bukan kita sebagai papanya, pak, jadi kita bisa tetap tidur dengan nyenyak.., gitu pak..!”
Salam Literasi Bahasa Anak
Magetan, 31032020
**(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
