MAAF, GURU BK-BIMBINGAN KONSELING ITU BUKAN DUKUN
MAAF, GURU BK-BIMBINGAN KONSELING ITU BUKAN DUKUN
Oleh : E.A.Wahyudiono
Maaf, anda semua pernah menonton film Hollywood, yang berjudul Minority Report dengan aktor pemerannya si Tom Cuise ?. Jika anda sudah pernah melihatnya, pasti tahulah inti dari cerita film itu. Ya, benar, film yang mengisahkan kecanggihan suatu alat tehnologi di dalam laboratorium computer dan alat itu dapat dipergunakan untuk memprediksikan kejahatan yang akan terjadi di masa depan pada tahun, bulan dan hari bahkan jamnya secara akurat, juga jenis kejahatan yang akan dilakukan oleh pelaku. Wuiih..membayangkan jika polisi kita punya alat seperti ini, pastilah angka kejahatan di negeri kita akan menjadi nol.
Nah,. Sebagai Polisi yang bertugas di satgas pencegahan, Tom Cruise, segera pergi ke lokasi kejahatan yang akan terjadi dan berusaha mencegahnya. Tapi itu semua hanya film fiksi ilmiah. Semua buatan dan imajinasi kita, karena sesungguhnya kejahatan di masa depan tidak bisa diprediksi dengan akurat.
Maaf, baru baru ini ada pernyataan dari Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), yaitu ibu Retno Listyarti, bahwa guru BK di sekolah mestinya bisa memprediksi anak yang bermasalah. Kalimat beliau yang saya kutip dari **(censored)** (10/03/2020), menyatakan, "Pelaku NF disinyalir memiliki sejumlah masalah psikologis. Guru BK seharusnya bisa mendeteksi hal ini dari awal ketika NF bersekolah. Guru BK tuh sebagai benteng di sekolah. Seperti bisa menyelesaikan masalah siswanya sehingga siswa tidak melakukan hal yang menyimpang," kalimat itu beliau sampaikan saat ada di gedung KPAI, Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat. (09/03/2020)
Masih ingat kasus pembunuhan remaja (NF) pada balita yang baru baru ini terjadi ?. Namun, saya berusaha untuk tidak mengulas kasus pembunuhan yang mengerikan itu. Tindak kejahatan yang dilakukan oleh murid yang dianggap mempunyai prestasi akademis di sekolah, bahkan disebutkan juga bahwa nilai bahasa Inggrisnya sangat bagus dan bidang studi lainnya lagi. Terus kenapa anak tersebut bisa menjadi pembunuh berdarah dingin ?. wallahualam.
Memang benar guru Bimbingan Konseling, atau guru BK mampu mendeteksi anak yang dikatakan berpotensi akan menimbulkan masalah, namun menurut saya, janganlah semua kesalahan dibebankan pada guru BK yang ada di sekolah. Sungguh tidak adil, apalagi tugas dan beban kerja guru BK tidak hanya semata mengurusi anak yang bermasalah, bahkan anak yang membutuhkan pendampingan khusus, home visit, catatan pribadi siswa siswi baik prestasi maupun kekurangan lainnya. Belum lagi membimbing siswa yang akan melajutkan ke Perguruan Tinggi untuk tingkat SMA/SMK. Jika diperlukan, guru BK juga harus mendata semua kemampuan akademis setiap siswanya, nilai tes Intelligent Quotient nya (IQ), EmoTional Quotient (EQ) juga serta prospektif untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih lanjut. Serta mengarahkan muridnya untuk selalu mempunyai Sipiritual Quotient (SQ) sebagai filter dalam diri anak didik terhadap pengaruh buruk dari luar.
Kelihatannya pekerjaan yang remeh, namun mempunyai peran yang sangat besar dalam membantu anak untuk menapak masa depannya. Jika memperhatikan aturan Permendikbud Nomor 111 Tahun 2014, bahwa 1 orang guru BK bisa menangani siswa sampai jumlahnya 150 orang dalam satu tingkatan satuan pendidikan atau sekolah. Itu juga sebagai persyaratan bagi guru BK yang diminta oleh dapodik dalam menerima tunjangan Profesional Pendidik (TPP). Sungguh jumlah murid yang sangat besar bagi satu orang guru BK, untuk mengenal semua potensi kelebihan dan kekurangan dari setiap muridnya. Jikapun bisa, hasilnya tetaplah tidak maksimal.
Idealnya memang hanya 75 siswa untuk 1 guru BK dengan format data siswa yang lengkap untuk mengantisipasi permasalahan yang mungkin muncul dari siswanya. Jika satu sekolah seperti SMA, dengan murid sebanyak 1000 siswa, anda hitung sendiri, berapa guru BK yang dibutuhkan?. Kenyataannya, justru saat ini banyak sekolah yang kekurangan jumlah guru BK karena pensiun dan belum ada pengangkatan guru BK dengan status PNS baru. Sungguh buah simalakama jika ada kasus yang banyak terjadi di sekolah yang melibatkan kenakalan anak didik, pastilah guru BK yang dijadikan sasaran kesalahan atau kambing hitam. Hal seperti ini sangatlah tidak bagus untuk dunia pendidikan kita. Itu sungguh preseden buruk bagi para guru BK. Pendidikan merupakan tanggung jawab semua elemen, baik orang tua, masyarakat, sekolah dan negara. Tidak bisa hanya dibebankan pada satu bagian saja. Yang paling dominan tentu saja peranan orang tua siswa itu sendiri dalam pendidikan.
Itu belum jika para guru BK dilibatkan dalam tim KamTib sekolah. Hal itu sudah menyalahi tupoksi guru BK itu sendiri. Seharusnya mereka berusaha membantu penyelesaian anak didik yang bermasalah, bukannya malah berperan sebagai polisi sekolah. Hal ini, akan membuat anak didik kita semakin enggan untuk menemui guru BK mereka jika ada permasalahan pribadi ataupun permasalahan belajar mereka baik di sekolah ataupun di rumah.
Masih ingat dibenak saya saat menjadi siswa SMA di Surabaya, setiap saya dipanggil ke ruang BK, justru dimarahi dan selalu diminta untuk menyelesaikan pembayaran SPP saya yang sering tertunda karena ayah saya sebagai tentara dengan pangkat rendahan saat itu sedang bertugas di medan perang sehingga semua keuangan oleh ibu saya diprioritaskan hanya untuk bertahan hidup saja. Padahal,nantinya juga pasti juga akan dilunasi.
Sejak itu, terpatri dalam pikiran saya, bahwa guru BK adalah guru yang tidak menyenangkan seperti satpam sekolah saja. Padahal sesungguhnya mereka semua itu adalah guru yang sangat penting dalam membantu anak didik dalam menemukan pemecahan dari permasalahan yang mereka miliki. Harus kepada siapa lagi anak didik kita berkeluh kesah atau curhat atas permasalahannya jika semua orang termasuk guru sibuk semua ?, Ya otomatis teman terdekat yang terkadang menjadi sasarannya. Beruntunglah jika temannya baik. Bayangkan jika temannya dari lingkungan buruk, pastilah akan membawa pengaruh buruk juga pada anak didik kita itu, kan ?.
Sebetulnya, tugas mengawasi dan membimbing siswa itu bukan semata tugas dari guru BK, namun semua stakeholders sekolah harus saling bahu membahu bersama demi memperhatikan kemajuan anak didiknya. Namun semua orang sudah tahu, tugas administrasi guru justru lebih menyita waktu daripada berada di tengah tengah murid muridnya. Semua guru sebenarnya mampu mendeteksi perilaku murid yang berpotensi bermasalah, termasuk berusaha mencegah mereka yang berkelakuan buruk untuk bertindak lebih bertambah buruk lagi yang mengarah ke tindak kriminalitas.
Guru BK juga mampu membuat peta kerawanan anak didik per individu, termasuk observasi pada kondisi orang tuanya, namun sekali lagi guru BK bukanlah dukun yang mampu meramalkan secara tepat, akurat, baik hari,tanggal maupun jamnya bahwa suatu kejahatan itu pasti akan terjadi dan diperbuat oleh anak didiknya di masa depan. Guru BK juga tidak bisa meramalkan bahwa setiap muridnya itu nanti kelak akan berhasil atau tidak, karena keberhasilan dan kegagalan anak didik itu ditentukan oleh banyak faktor yang saling berkaitan satu sama lain.
Dengan permasalahan yang kompleks seperti ini, marilah kita beri dukungan pada para guru konselling atau guru BK di setiap sekolah. Janganlah menyalahkan mereka jika ada tindak kejahatan yang mengarah pada kriminalitas di masyarakat yang notabene dilakukan oleh muridnya. Saya tetap setuju, mencegah kejahatan yang dilakukan oleh anak didik kita itu lebih baik daripada membiarkan siswa dengan potensi bermasalah tanpa bimbingan akan menjadi lebih buruk lagi dan mengarah pada tindakan kriminalitas.
Salam Literasi Pendidikan
Magetan, 11032020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
