PARA PRAJURIT TAK BERSENJATA
PARA PRAJURIT TAK BERSENJATA
Oleh :E.A.Wahyudiono
Itulah mungkin judul yang pas untuk menggambarkan rasa kekaguman dan hormat saya kepada seluruh dokter, perawat dan tenaga paramedis yang saat ini masih sedang berjuang melawan penyebaran virus Covid-19.
Mereka semua berusaha sekuat tenaga untuk mengisolasi pasien yang terpapar Corona dengan peralatan perlindungan seadanya. Begitu besarnya tanggung jawab mereka dalam melaksanakan tugasnya (Call of Duty), merekapun akhirnya banyak yang tumbang satu demi satu karena juga tertular virus corona yang mematikan itu dari pasien yang mereka tangani.
Begitu pentingnya peranan tenaga medis saat ini yang meliputi dokter, perawat juga paramedis dan staff. Mereka adalah pasukan tak bersenjata kita dalam melawan musuh yang tak kasat mata. Sungguh berat rasanya menjadi bagian dalam pasukan mereka. Semua menjadi tidak jelas, mana kawan, mana lawan. Belum lagi penolakan mereka dari masyarakat jika pulang ke rumahnya atau ke tempat kostnya untuk beristirahat, semakin menambah pedih hati mereka.
Luar biasa, Gubenur DKI, Anies Baswedan, dengan mengetahui permasalahan pada tenaga kesehatan terdepan itu, segera memerintahkan beberapa hotel milik DKI di jakarta untuk menjadi tempat tinggal sementara para dokter, perawat dan tenaga kesehatan lainnya yang kelelahan setelah bertempur melawan penyebaran virus corona agar bisa berisitirahat untuk kesehatan mereka juga. Langkah ini ini patut diapresiasi dan dijadikan rujukan bagi kepala daerah lainnya di kota kota besar di Indonesia. (cnnindonesia.com.26/03/202)
Seberapa pentingkah tenaga medis ?
Dalam kondisi saat ini, peranan mereka sangat penting. Siapa lagi yang akan maju ke medan perang melawan Corona jika bukan mereka. Bahkan dalam perang konvensional atau fisik sekalipun, Konvensi Jenewa sudah mengatur larangan bahwa mereka para dokter, perawat, pembawa tandu, mobil ambulan, rumah sakit dan masih adalagi, seperti wanita dan anak anak, mereka semua tidak boleh ditembak selama dalam masa konflik atau di medan perang. Itulah, kenapa profesi mereka adalah menjadi sangatlah mulia.
Semua itu diatur dalam Konvesi Jenewa pada tahun 1949, mengingat perang pertama dan kedua, sama sekali tidak mempunyai kode etik dalam berperang. Siapapun dari mereka bisa ditembak suka suka membabi buta. Jika anda sudah melihat film yang mengisahkan perang dunia kedua dengan judul “Saving Private Ryan”, salah satu prajurit yang menjadi korban perang dalam film adalah juga paramedisnya. Padahal dia hanya lari ke sana sini membawa obat obatan untuk memberikan bantuan medis, namun tetap ditembak juga.
Masih ingatkah anda dengan si cantik Razan Najjar?, dokter Palestina yang ditembak oleh tentara Israel tahun lalu? Sungguh biadab, dimana seorang dokter yang sedang memberikan pertolongan dan tidak bersenjata juga masih ditembak juga. Itu adalah kejahatan perang dan pelakunya harus bertanggung jawab di sidang pengadilan Internasional.
Namun sekali lagi, sampai sekarang Konvensi Jenewa juga belum menunjukkan perannya dalam kasus lama itu. Itulah dokter Razan Najjar, prajurit tak bersenjata. Anda baca sendiri dalam grid.id. atau dalam situs sama yang lainnya. Semoga Almarhum Razan Najjar digolongkan mereka yang husnul khatimah dan termasuk mati syahid dalam peperangan. Aamiin
Saya tidak bermaksud mengorek luka lama, namun semua harus tahu betapa pentingnya para “Pasukan Tak Bersenjata” itu dalam kondisi saat ini. Mereka banyak yang gugur tertembus peluru corona yang tidak kelihatan. Padahal, dalam kondisi perang yang sesungguhnyapun, seorang dokter dan perawat , juga akan merawat tentara musuh yang terluka dan tertangkap. Mereka tidak mengenal batas negara dan kepentingan politik, gender, agama ataupun nilai lainnya. Mereka bekerja hanya dari sisi kemanusiaan. Menyelamatkan hidup manusia lainnya walaupun terkadang hidupnya sendiri menjadi taruhannya. Berani karena mencari ridho Allah SWT semata dalam bekerja.
Bagaimana dengan kita para guru ?
Terkadang kita sering terbuai dengan sebutan “Pahlawan tanpa tanda jasa”. Masih jelas terbayang dalam benak ini tentang sebutan dari masyarakat zaman dulu, yaitu guru, sebagai sosok yang bisa digugu dan ditiru. Sebetulnya banyak lagi pujian yang disematkan pada guru. Dianggap orang yang berilmu oleh karena itu, guru sering disebut orang yang kaya tanpa harta.
Masih ingat, saat setelah bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaski dan membuat Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, hanya ada satu pertanyaan dari kaisar Hirohito kepada para menterinya, yaitu, “Berapa jumlah guru yang kita miliki..?” Para guru sebenarnya juga disebut para pasukan tak bersenjata untuk negeri yang berjuang dengan ilmu dan pena. Kaisar Hirohito mengetahui akan hal itu dan ingin membangun negara Jepang dari sisi pendidikan dan tehnologi.
Benarkah semua pujian itu masih sesuai dengan diri kita yang sekarang sebagai sosok guru?. Semua tergantung individu guru sendiri. Apakah benar implementasi dalam pelaksanaan tugasnya memang menyampaikan ilmu dan mencari ridho Allah SWT semata ?. Wallahualam.
Salam Literasi Pendidikan
Magetan,27032020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
