PEMAIN VIDEO GAME ONLINE, BENARKAH MEREKA ANAK -ANAK CERDAS ?
PEMAIN VIDEO GAME ONLINE, BENARKAH MEREKA ANAK -ANAK CERDAS ?
Oleh : E.A.Wahyudiono
Itu adalah pertanyaan yang sering ada di benak saya dari dulu sampai dengan sekarang, namun belum mencari referensi dengan serius tentang hal itu. Karena saat ini benar benar harus menjaga social distancing terkait merebaknya virus Covid-19, saya sempatkan untuk membahasnya bersama anda semua khususnya bagi mereka yang mempunyai permasalahan yang serupa dengan saya.
Saya yakin banyak anak anak khususnya remaja yang sering menghabiskan waktu selama isolasi di rumah saat ini dengan bermain video game online selepas mendapatkan dan mengerjakan materi dalam jaringan dari guru mereka pada sore harinya. Ingat, Video game juga dipakai dalam menyampaikan materi pendidikan lhoh. Jadi jangan apriori dulu jika dengar istilah game online ya. Mereka bermain game itu semata mata agar tidak jenuh di rumah dalam mencegah penyebaran Covid-19, yaitu dengan tinggal di dalam rumah dan membatasi untuk bergerombol dengan teman-temannya.
Saya bercerita seperti ini karena secara pribadi juga jengkel dengan kedua anak saya. Mereka berdua, baik yang cowok dan yang cewek, sama sama suka bermain video game online. Terutama Ryan, anak saya yang pertama, sering menghabiskan waktunya di WarNet ( Warung Internet) hanya untuk bermain game online saat masih sebagai murid SMA. Hal itu sungguh membuat ibunya kawatir karena Ryan sering pulang telat ke rumah juga ibunya takut bahwa permainan itu akan berpengaruh pada prestasi akademisnya.
Untuk menghindari ke hal-hal negatif selanjutnya, akhirnya daripada saya marah marah tidak karuan, saya putuskan untuk berlangganan Internet sekaligus TV kabel dengan harus membayar biaya berlangganan 500 ribu rupiah per bulan agar akses wi-fi dan internet bisa membuat anak anak betah di rumah. Saya pasang Smart TV 55 Inches untuk khusus bermain video game serta sekaligus dilengkapi dengan sub-woofer dan satu Set Play Stasiun 4 (PS 4). Mahal sih menurut ukuran kantong saya, namun demi masa depan mereka, hal itu harus saya lakukan.
Saya pikir masalah sudah selesai, ternyata, anak saya yang kedua, Hasna, juga menjadi tertarik seperti halnya kakaknya dan mengikuti permainan game online ini. Sungguh dilematis. Rasanya serba salah. Saat mereka sudah sering berada di rumah, dan istri saya juga senang, ternyata juga ada masalah lain lagi yaitu mereka jarang bersosialisasiatau keluar rumah.
Permainan video game online ini apakah dimainkan oleh anak anak yang cerdas ?
Untuk menguak rasa penasaran saya, akhirnya sekali lagi saya berusaha surfing ke beberapa situs di dunia maya untuk mencari tahu. Ternyata benar, jika anda semua pergi ke suara.com, nakita.grid.id.,idntimes.com, atau liputan6.com, semua memberikan ulasan yang sama, yang juga beberapa hal itu sudah saya amati pada kedua anak saya, baik sifat, kepribadian, karakter maupun kecerdasannya.
Asumsi saya benar, bahwa mereka yang rata rata suka bermain video game online itu cerdas, namun dalam tanda petik. Cerdas yang bagaimana ? apakah akademik ? oo, belum tentu juga karena banyak faktor yang menentukannya. Jadi bapak ibu yang punya anak bermain video game, jangan dimarahi dulu, tapi diarahkan dan diawasi agar tidak mengganggu akademisnya, namun jika ortu lalai, masa depan mereka menjadi taruhannya.
Dalam kehidupan ini pastilah ada dua sisi yang harus kita miliki. Ibarat koin mata uang, pastilah ada dua sisi. Mereka yang suka bermain video game online ini, ternyata juga mempunyai kelemahan dan kelebihannya juga. Kita jangan memandang sesuatu itu dari satu sisi saja , apalagi jika hal itu menurut versi anda saja. Coba sesekali melihatnya dari versi mereka para gamers itu. Setelah itu kita bandingkan untuk dicari manfaat dan kerugiannya.
Pengamatan ini sudah saya lakukan semenjak anak saya masih di SMA sampai dengan sekarang. Ada sisi positif dari anak saya bermain game online itu. Yang pertama adalah, Anak saya baik Ryan maupun Hasna, mempunyai banyak sekali teman. Karena kamarnya di lantai dua di rumah, teman temannya sering menghabiskan waktu dengan bermain game beregu atau berkelompok, sehingga membuat suasana rumah menjadi sedikit bising dan tidak nyaman karena mereka suka berteriak teriak yang saya tidak tahu asyiik bermain game jenis apa.
Mereka yang bermain game online, dari pengamatan pada teman teman anak anak saya, otaknya cerdas. Mereka rata rata berkuliah semua di PTN dengan jurusan yang bukan sembarangan, di STAN, juga di STIS serta mempunyai prestasi akademis yang bagus di sekolah. Anehnya, mereka juga menguasai bahasa asing dengan baik. Seperti anak saya yang bisa mengetahui istilah istilah dalam bahasa Inggris, Jepang, Korea, Jerman atau lainnya.
Apakah itu dipengaruhi oleh bahasa yang digunakan di dalam game online Internasional ?
Saya sendiri juga tidak sepenuhnya memahami. Apakah mereka belajar bahasa Asing secara otodidak ? Coba anda cari tahu sendiri ya. Anda bisa meng-googling di **(censored)** atau blog.dimensidata.com. Setelah itu diskusikan dengan mereka yang kecanduan video game online ya ? benar atau tidaknya.
Mau tahu ? rata rata anak yang suka bermain video game online tuh berkarakter santai buanget, cuek dan suka suka sendiri. Mereka terlihat tidak pernah stress, namun mereka semua sabar dan jarang tampil emosional. Jika anda gak percaya, coba amati saja para gamers di sekitar anda ya.
Apakah ada sisi negatif dari mereka yang bermain video game online ?
Jawabannya, pastilah ada. Karena apapun di dunia ini tidak pernah selalu baik terus. Misalnya dari kedua anak saya yang saya jadikan sampling, mereka berdua menjadi kecanduan bermain game online. Mereka juga sering lupa waktu jika sudah bermain. Yang bahaya nih, jika kalah dalam bermain game,ada sedikit nada marah atau kecewa sehingga ditakutkan pada arah yang merusak atau vandalism. Karakter itu yang harus semaksimal mungkin mungkin dicegah dengan teguran yang keras.
Mereka berdua juga menjadi pemalas, jam tidurnya menjadi terganggu. Saatnya jam salat harus dibangunkan dan ditegur. Ada lagi nih, jadi malas pergi mandi juga. Hadeeh..ampun banget. Diperparah dengan kurangnya aktifitas berolahraga sehingga kesehatan menjadi tidak bagus. Ini yang perlu diperhatikan lho bagi para gamers. Belum lagi dampak dari radiasi monitor TV atau HP pada mata mereka. Makanya mereka berdua berkacamata semua. Nah, yang terakhir, yang gak enak. Jadi boros dipulsa paketan. Hal ini harus diberikan pengertian pada mereka berdua. Anda, para gamers lainnya juga kan ?
Alhamdulillah, dengan perjuangan yang berat bagi saya dalam mengawasi kedua anak saya yang kecanduan game online, serta pengawasan yang melekat dan pengarahan terus menerus. Anak saya yang pertama juga lulus kuliah dari STAN-Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, Jakarta dan sudah menjadi PNS di Kemenkeu, Masih bermain game online, tapi sudah tidak kecanduan lagi. Anak yang kedua juga akademisnya lumayan, dan kuliah di UGM –Universitas Gajah Mada, Jogyakarta dengan jalur masuk tanpa tes. Apalagi, dengar dengar Skripsi anak saya, Hasna adalah membahas perilaku gamers online. Wow.. rasa tidak sabar untuk tahu hasilnya dengan segera di ujian presentasinya dan pingin hadir di ujian seminarnya.
Itu artinya, jika sebagai orang tua dari anak yang penggemar video game online, Janganlah keburu divonis sebagai anak yang kurang pandai dulu ya.
Kita sebagai orang tua harus tetap mengawasi dan membimbing mereka. Apalagi saat ini juga ada secara resmi pertandingan game online Internasional lhoh, dan para pemainnya adalah para mahasiswa dari banyak PTN dan PTS ternama di negeri ini. Gak percaya ya ?. Mereka juga dapat uang miliyaran rupiah. Masih gak percaya juga ? Googling sendiri saja ajalah.
Salam Literasi Pendidikan Game Online.
Magetan, 24032020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
