POHON BERINGIN TUMBUH DI ATAS ANGKOR WAT Di KAMBOJA
POHON BERINGIN TUMBUH DI ATAS ANGKOR WAT DI KAMBOJA
Apakah anda pernah menonton film yang sangat terkenal yang dibintangi oleh Angelina Jolie ?. Saya yakin, pasti jawabannya pernah tuh, karena disamping diisi oleh aktris dan aktornya terkenal, film ini juga mengambil lokasi syuting di Candi Angkor Wat, di Kota Siem Reap, Negara Kamboja. Yess, anda benar,.. judul filmnya adalah Tomb Rider (Penjarah Makam), bahkan sudah dibuat 3 (tiga) sequelnya lho. Wow., bagaimana kesan anda saat melihat candinya dalam film itu ?, menyeramkan ya.?. Memang aslinya iya banget.
Oh iya, musim panas lalu, saya bersama Firjatullah Apta Pratama dan satu teman orang Kamboja, sebut saja si Chen Chin, menyempatkan diri untuk mengunjungi candi Angkor Wat karena merupakan candi yang dianggap warisan dunia (Unesco Heritage) dan bisa jadi karena terinspirasi oleh film Tom Rider itu. Juga, mumpung saya berada di kota Siem Reap karena menjadi volunteer mengajar di Sekolah Dasar di kota Siem Reap selepas kegiatan lomba Inovasi Lingkungan dari Global Youth Summit, Asia Pacifik. Saya segera kabur nih, jika tidak, ntar nyesel saat sudah pulang ke tanah air.
Mau tahu Angkor Wat ?. Berdasarkan brosur yang bisa saya dapatkan gratis di Angkor Wat, dijelaskan bahwa candi ini dibangun untuk kaum Hindu, tapi berubah menjadi candi Budha. Coba anda bandingkan dengan Borobudur, dibangun oleh kaum Budha, kemudian ditutup dengan tanah dan ditinggalkan karena pengaruh kerajaan Hindu masuk Jawa. Nah, pada abad ke 18 akhirnya diketemukan oleh orang belanda untuk direnovasi. Kaum Hindu yang datang dan segera membuat candi Prambanan dengan tiga stupa besarnya. Jika anda amati, candi Angkor Wat ini juga mempunyai 3 stupa utama yang dipersembahkan untuk Dewa Whisnu. Hampir samalah bentuknya dengan candi Prambanan di kota Jogya, Jawa Tengah.
Luas area candi Angkor wat ini, wow, hampir 400 hektar lho. Luas banget tuh untuk ditempuh dengan jalan kaki, apalagi lokasinya di tengah hutan di pinggiran kota Siem Reap, yaitu hampir 8 kilometer dari pusat kota terbesar kedua setelah Phnom Penh. Angkor Wat ,berarti kota candi atau City of temples, memang benar, banyak sekali terdapat candi di pinggiran hutan sepanjang jalan sebelum masuk kuil utama yaitu Bayon. Di sekitar Angkor wat, ada candi khusus untuk makam para Raja, ada candi utama untuk tempat tinggal, juga untuk tempat beribadat dan yang lainnya. Siem Reap berarti kota taklukkan bangsa Siam, dimana candi yang dibangun abad 12 oleh Suryavarman II dan kemudian diserang oleh Kaum Champa (Masih ingat, bangsa Champa pernah mengunjungi Majapahit juga lho, dan pernah mendarat di pesisir Banyuwangi ,sebelah timur pulau Jawa dekat Bali untuk berdagang dan mengirim utusan. itu pelajaran sejarah waktu SMP saya).
Pada abad ke 13, candi yang untuk sembahyang kaum Hindu tadi berubah menjadi candi Budha. Aneh juga ya, namun benar terjadi. Umumnya dihancurkan kemudian diganti dengan simbol keagamaan mereka sendiri. Namun hal itu tidak dilakukan,ya langsung dipakai ibadah,gitu saja. Kasus ini pernah terjadi saat saya ada di masjid di Perth, Australia barat, karena saya kira saya salah masuk waktu sholat jumat. Kenapa demikian ?. itu karena bangunan masjidnya adalah kelenteng dengan warna merah menyala. Owalah, ternyata, bangunan peribadatan untuk Konghucu itu dibeli oleh kaum muslim yang dananya dari hasil urunan atau patungan ,termasuk para mahasiswa sebagai donaturnya, kemudian dijadikan masjid. Dikarenakan belum ada dana untuk merenovasi, yaah, jadinya fungsinya tetap masjid hanya bangunannya masih berbentuk klenteng. Ahh, tema ini dibahas kali lain saja ya.
Setelah menempuh perjalanan kaki sekitar 45 menit dari tempat parkir mobil, saya harus menuju candi utama Angkor Wat dengan perasaan yang aneh dan eman karena melihat candi candi yang rusak di kanan kiri jalan itu. Saya lihat di atas bangunan candi kuno itu banyak ditumbuhi pohon beringin yang sangat besar. Otomatis, akar pohon beringin itu mendesak susunan bebatuan candi menjadi tidak teratur, atau istilahlah terdesak keluar daripada susunan batunya. Untuk menahan batu kali sebagai bahan candi itu agar tidak rusak, pemerintah Kerajaan Kamboja dengan tim konservasinya, memasang penahan dari besi. Menurut saya ,hal itu tidak efektif juga karena batu candi tetaplah terdesak akar pohon beringin sehingga candi tidak sedap dipandang mata ditambah akar pohon beringin bergelantungan kesana kemari tidak teratur menambah suasana seram , persis yang digambarkan dalam film Tomb Rider itu. Akirnya, saya tanyakan pada Chen Chin, dan jawabannya sungguh mencengangkan. Katanya, sebagai kaum Budha, atau Hindu dilarang untuk menebang pohon. Mereka tidak berani karena takut dikutuklah atau siallah atau alasan lainnya lagi. Sungguh simalakama, di satu sisi Pemerintah Kerajaan Kamboja harus memilih konservasi candinya namun di sisi lain, kepercayaan masyarakat Kamboja harus tetap melestarikan pohon beringin atau hutan di situ.
Candi yang terlihat utuh hanya candi utama ( Bayon). Saya sempatkan untuk mengeksplor candi tersebut seharian dengan mengabadikannya melalui kamera di gawai saya. Candi yang dikelilingi parit yang sangat luas dan dalam itu dibuat untuk pertahanan bila diserang oleh bangsa Champa atau kerajaan Siam, bahkan Burma. Candi Angkor Wat, semua arsitekturnya terbuat dari batu, baik dinding, jendela, lantai, genting atau atap, pintu dan lain lain. Ngeri juga jika ada gempa bumi dan pas ada di bawahnya. Waah rasanya gak cukup waktu deh untuk mengulas semuanya di artikel ini. Oh iya, saat saya berdiri di depan candi tersebut, tiba tiba, ada kilasan, serasa jiwa saya melayang terbawa ke abad 12, dimana banyak orang dengan kehidupan di zaman itu lengkap dengan tehnik bercocok tanamnya, beternak dan prajurit khmer atau angkor yang berlatih perang juga banyak anak kecil, ibu ibu dan gadis gadis yang berlalu lalang di depan mata saya,sampai tiba tiba si Chen Chin menepuk pundak saya untuk mengajak kembali ke kota Siem Reap, barulah saya tersadar.
Rasanya saya masih enggan meninggalkan tempat itu jika tidak diingatkan bahwa hari sudah sore dan kami harus berjalan menyusuri hutan lagi untuk menuju ke tempat parkir kendaran yang akan membawa kami ke hotel di Siem Reap. Suatu hari, saya berjanji akan berkunjung lagi karena ada kejadian sebelum pundak saya ditepuk oleh si Chen Chin di candi tadi , ada seorang gadis Kamboja yang cantik berambut panjang lurus yang menyapa saya. Sedihnya, belum sempat saya membalas sapaan itu, saya sudah keburu tersadar dari kilasan waktu balik ke abad 12 itu. Hadeeh..!
Salam Literasi Budaya.
Siem Reap 03032020






Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
