Berkunjung ke Amsterdam dan Den Haag di Huis Ten Bosch di Nagasaki, Jepang
Berkunjung ke Amsterdam dan Den Haag di Huis Ten Bosch di Nagasaki, Jepang
Oleh : E.A.Wahyudiono
Membaca judul artikel ini, mungkin anda sudah tertawa. Judul yang aneh, kenapa pergi ke Belanda tapi di Nagasaki, Jepang ? Saya sudah 4 kali mengunjungi tempat itu dan tidak merasa bosan juga. Hal itu karena begitu luasnya tempat yang sudah seluas satu kota kecil jika di tempat kita juga masih banyak tempat yang belum saya jelajahi di dalamnya. Apalagi tahun 2000 itu, saya pergi bersama satu rombongan mahasiswa seluruh PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) dari banyak kampus yang berbeda se-Nagasaki.
Untuk itu, sengaja dalam tulisan hari ini anda semua saya ajak jalan–jalan ke Jepang sekaligus ke Belanda di Nagasaki. Ingat, jika anda nanti bepergian ke Nagasaki, jangan melewatkan kesempatan untuk mengunjungi Huis Ten Bosch ya. Kota yang berarti Rumah Hutan . Di sini dibangun dua Istana ratu Belanda.
Seperti yang disampaikan dalam id.wikipedia.org, arti Huis Ten Bosch adalah istana kerajaan di Den Haag, Belanda. Istana ini adalah salah satu dari tiga istana resmi Keluarga kerajaan Belanda, dua lainnya adalah Istana Noordeinde di Den Haag dan Royal Palace di Amsterdam. Nah, sekarang jadi tahu kan ?
Begitu akurat dan persisnya semua bangunan dan Istana ratu Belanda yang di bangun di Huis Ten Bosch yang terletak di Sasebo, wilayah Omura, Nagasaki itu, pengunjung akan merasakan nuansa seperti berada di Amsterdam. Juga semua pernak pernik cendera mata yang dijual bahkan anda bisa menyewa pakaian tradisional Belanda dan mengenakannya sambil berkeliling di Huis Ten Bosch sambil memakai terompah Belanda yang namanya "klompen".
Di lokasi ini, begitu banyak orang asli Belanda bekerja di restoran, di toko cindera mata, serta menjadi artis jalanan, apakah itu pengamen, seni lukis dan patung manusia. Pengunjung serasa tidak berada di Jepang melainkan sudah berada di Belanda itu sendiri. Oh ya, saat anda lapar, silahkan masuk saja ke toko coklat atau kue di Huis Ten Bosch. Banyak jenis kue yang dihidangkan gratis untuk para pengunjung. Jika anda masuk 10 toko roti saja, keluar, dijamin sudah kenyang, apalagi dengan status mahasiswa seperti saya saat itu, bisa menghemat biaya hidup. Cerdik kan ?
Kami semua rombongan mahasiswa yang sedang liburan awal musim semi begitu takjub setiap melihat wahana yang fantastis di Huis Ten Bosh, sehingga salah satu di antara kita sering menyeletuk, “ Bagus ya, di Indonesia nggak ada hal seperti ini nih..!”. seperti meminta persetujuan semua orang. Dampaknya, banyak rombongan dari Negara lain yang juga jalan jalan segera melihat rombongan kita dengan wajah aneh sambil tertawa serta tersenyum sinis yang seolah olah mengatakan, “ Ahh, mereka pasti datang dari "flower country", (ha.ha), melihat gini aja heran..” itu kira kira dalam hati mereka.
Melihat hal itu, salah satu senior saya, bapak Prof. Ir.Yusli Wardiatno, M.Sc, Ph.D, dosen IPB yang saat itu juga berstatus mahasiswa menasehati kita semua untuk tidak menyebut nama negara kita dalam setiap pembicaraan mengingat saat itu negara kita sedang mengalami krisis moneter dan juga pasca gerakan demonstrasi mahasiswa yang menuntut reformasi serta kekisruhan yang terjadi di beberapa tempat di Indonesia sehingga menarik perhatian dunia Internasional. “ Jika mau nyebut negara, karena takjub, sebut saja negara lain yang kulitnya mirip dengan kita, asal jangan menyebut negara kita. Itu semua demi wibawa bangsa kita lho..!’ Itu nasehat beliau selaku senpai (senior) jika di kampus.
Saya pun juga setuju dan akhirnya, sampai saya juga tidak sadar karena begitu takjubnya melihat atraksi di situ keluar juga kalimat,” Waaah, di negeri saya, Amerika, nggak ada nih seperti ini..!” Semua orang melihat group kami dengan wajah keheranan kecuali kami semua yang jadi tertawa terbahak bahak.
Oh iya, tempat di Huis Ten Bosch yang menjadi favorit saya adalah taman bunga. Taman yang bergaya Eropa dibagi menjadi 5 jenis taman tergantung dari jenis bunga yang ditata rapi disitu. Jika musim semi sampai dengan panas, ada taman bunga tulip yang terdiri dari hampir 500 jenis dan diperindah dengan bangunan kincir anginnya khas belanda. Ada juga taman bunga mawar dengan hampir 300 an jenis dan warnanya yang membuat hidup jadi berwarna warni serta taman bunga lainnya.
Kota Huis Ten Bosch juga dilengkapi dengan kanal kanal seperti di Amsterdam dengan kincir di kanan kirinya. Anda bisa naik Feri yang sudah terjadwal di situ untuk mengelilingi kota Huis Ten Bosh atau dari pulau ke pulau kecil di pelabuhan destinasi wisata di situ. Begitu takjubnya saya akan destinasi wisata itu, segera terlintas dalam hati, "Kenapa kita tidak membuat seperti ini ya di Indonesia, sehingga bisa menjadi Industri pariwisata yang unik. Jika ada di Indonesia, kita tidak perlu pergi ke luar negeri..?.
Alhamdulillah, akhirnya, doa saya terjawab, sekitar 2 atau 3 tahun terakhir ini pemerintah mengencarkan sektor pariwisata dengan membuat miniatur kota seperti Eropanya Bandung, kotanya bu Min Hermina juga nuansa Eropa di Bondowoso, kotanya bu Marlina, Kota Semarang (siapa dari Semarang ya) dengan nuansa Koreanya. Kota Magetan, dengan nuansa Jepang, ada Sakura Hillnya, Kotanya bu Riful Hamidah. Bagaimana dengan kota anda ?
Salam Literasi Traveling




Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
