Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
 Entshuldigung, Wir sind nicht Terroristen, aber., ( Maaf, Kami bukan Teroris, tapi..)
doc.image.pribadi

Entshuldigung, Wir sind nicht Terroristen, aber., ( Maaf, Kami bukan Teroris, tapi..)

“ Entschuldigung, Wir sind nicht Terroristen, aber….”, ( Maaf, Kami bukan Teroris, tapi…)

Oleh E.A.Wahyudiono

“Entschuldigung, Wir sind nicht Terroristen, aber die gruppe von Indonesien Lehrern/ Lehrerinnen ! “ ( Maaf, kami semua bukan teroris, akan tetapi rombongan bapak ibu guru dari Indonesia ). Itu adalah kalimat dalam bahasa Jerman yang harus kami siapkan apabila dicurigai selama perjalanan kami dari Jerman saat menuju ke Belgia.

Kenapa kami harus berlatih mengatakan kalimat itu ? Itu semua karena kami suka bercanda saja meskipun saat sedang serius. Mungkin sudah tipikal kami agar tidak homesick atau kangen rumah selama lawatan tugas ke Eropa. Sengaja, saya menceritakan perjalanan yang kami lakukan pada bulan Maret 2016, namun kenangan dan kejadian itu masih melekat di dalam ingatan dan hati saya.

Dalam perjalanan malam dengan kereta api dari Kota Frankfurt menuju Karlsruhe, saat itu udara sangatlah dingin disertai angin utara yang menghembus kuat membuat tubuh kami semua menjadi menggigil. Herannya, seharusnya bulan Maret adalah awal musim semi, namun anehnya, di Eropa hal itu masih akhir dari musim dingin, bahkan masih bersalju seperti tahun ini.

Begitu dinginnya, beberapa dari rekan rombongan kami yang terdiri dari Kepala sekolah dan Kepala dinas, seperi Bapak Drs. H. Samsul Anam, M.Pd, Bapak Drs. H. Supa’at. M.Si (almarhum), Bapak Drs. R. Imam Wahyudi, M.Pd, Bapak.Drs. Maskuri, M.Pd dan Bapak Ir. Budi Iswoyo, M.Si. segera mengenakan jaket musim dinginnya masing-masing. Meskipun sudah brukut, hal tersebut masih belum bisa mengusir hawa dingin yang serasa menusuk tulang. Akhirnya, semua mengeluarkan Alat Perlindungan Diri ( (APD), namun bukan karena untuk mencegah Corona melainkan untuk melawan dingin. Itu adalah masker, syal leher, dan penutup kepala. Nah, setelah kami semua memakainya, segeralah kami bertatapan satu dengan lainnya dan meledaklah tawa kami semua melihat pemandangan yang menjadi aneh di antara kita.

Itu karena kami semua tidak bisa saling mengenali satu sama lain, bahkan salah satu dari kita menyeletuk, “ Waah, lha kok kita seperti teroris di Eropa begini nih !”. Kami semua segera saling menggojlok untuk mengusir kejenuhan sambil menunggu kereta yang akan datang. Tanpa kami sadari, beberapa pasang mata dari orang Jerman atau orang asing yang ada di situ mengamati kami dengan tatapan curiga atau aneh. Saya tidak tahu mengapa begitu, namun perkiraan saya, mungkin mereka mendengar kata “teroris” saat kami bercanda tadi. Untuk itu, kami semua sepakat untuk melepas penutup kepala apabila sudah berada di dalam gerbong kereta.

Ternyata beberapa hari kemudian memang benar-benar terjadi serangan bom bunuh diri di Bandara Udara Zaventem Brussel, Belgia dan stasiun Metro, subway (kereta api bawah tanah). Beritanya bisa anda baca di situs **(censored)**

Gara-gara kejadian serangan bom yang dilakukan oleh para teroris itu di Belgia membuat kami menjadi lebih berhati-hati dalam melanjutkan perjalanan kami di Eropa. Dampak yang kami rasakan adalah adanya perubahan jadwal kami yang seharusnya memasuki stasiun Brussel, Belgia, mau tidak mau harus dialihkan menuju kota Antwerp, Belgia dengan menggunakan bus kota antar Negara (AKAN), keren kan ?.

Saat berada di kota Antwerp, Kota di Belgia yang selalu apes karena terjepit dan hancur luluh baik dalam perang dunia ke 1 maupun ke 2 ini, di beberapa tempat strategis sudah dijaga oleh Polizei (polisi) dan sering melakukan pemeriksaan dokumen bagi mereka yang tiba terminal, stasiun, pusat kota atau tempat tertentu lainnya begitu memasuki perbatasan negara lain sebagai bentuk antisipasi adanya serangan susulan dari para teroris. Waah, saya tidak bisa membayangkan jika kami semua menggunakan penutup kepala, syal, jaket tebal dan hanya terlihat mata kami saja setelah kasus bom bunuh diri yang terjadi di Brussel itu, mungkin kita sudah dibawa ke Kantor Polisi nih jika ada di tempat umum.

Saya jadi ingat, beberapa warga kita ditangkap saat bercanda di bandara domestik, di dalam pesawat atau mengirim pesan palsu bahwa akan ada bom meledak atau dia sedang membawa bom. Jika tidak percaya, silahkan googling sendiri ya. Pernah sebuah pesawat tertunda beberapa jam keberangkatannya karena saat seorang pramugari bertanya pada salah satu penumpang tentang isi tas ranselnya yang berbentuk kubus, dengan bercanda, penumpang tersebut mengatakan bahwa dia sedang membawa bom.

Selang tak begitu lama, ternyata pramugari tersebut melaporkan kepada pilot, dan pilot segera mengkontak polisi bandara. Semua penumpang dievakuasi. Selanjutnya anda tahu sendiri, terusan dari berita itu. Walaupun orang tersebut mengatakan iseng, namun tetap didakwa hukuman. Apalagi jika di luar negeri ,ya !. Ingat kata pepatah, pikir dulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna.

Itulah, edisi jalan jalan Sabtu siang ini. Juga artikel ini kami untuk mengenang sahabat kami dan orang yang akan kami ingat dalam doa dan hati kami. In memoriam, Almarhum Bapak Drs. H.Supa’at, M.Si, purna Kepala SMA Negeri 1 Singosari, Jawa Timur. Inshaa Allah digolongkan mereka yang Husnul khatimah. Aamiin YRA.

Salam Literasi Lawatan

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post