HAWA NAFSU SELALU LEBIH MENANG DI BULAN RAMADHAN ?
HAWA NAFSU SELALU LEBIH MENANG DI BULAN RAMADHAN ?
Oleh : E.A.Wahyudiono
Marhaban ya Ramadan, selamat datang bulan Ramadan, bulan yang ditunggu oleh kita semua. Bulan dimana semua dari kita akan segera memperbanyak amalan ibadah dan menjalankan puasa wajib selama kurang lebih 30 hari lamanya. Untuk itu kita semua harus menyiapkan diri baik secara fisik maupun mental.
Alhamdulillah, saya selalu bersyukur karena sampai detik ini masih diberikan kesempatan untuk bisa menjalankan ibadah puasa yang diperkirakan akan dimulai pada hari Jumat tanggal 24 April 2020. Mudah-mudahan kita bisa melaksanakannya sampai di hari kemenangan, yaitu hari suci bagi umat muslim di seluruh dunia, dan bisa memasuki hari raya Idul Fitri. Insyaallah !
Seperti biasa, selama sepekan sebelum memasuki hari pertama berpuasa, saya selalu merenungkan perjalanan hidup selama ini. Apakah selama ini saya sudah menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain? Atau apakah saya sudah bisa membuat hati kedua orangtua saya senang dan bahagia pada saya sebagai anaknya? Bisa jadi juga apakah saya sudah bisa menjadi guru yang bisa melayani kebutuhan anak didik saya serta membantu mereka dalam meraih mimpi-mimpinya di masa depan? Bahkan, sudahkah harta saya bermanfaat dan pernahkah untuk menyantuni anak yatim piatu di sekitar saya?
Semua pertanyaan seperti selalu tertanam di hati saya setiap awal bulan puasa. Namun terkadang saya harus mengakui secara jujur, bahwa saya sering kalah dalam makna menjalankan ibadah puasa sebelumnya. Untuk itu, pada masa pandemi Corona saat ini, saya berusaha untuk introspeksi lebih dalam dan selalu tafakur.
Kekalahan saya sebelumnya adalah seharusnya saya bisa menahan hawa nafsu saya selama bulan puasa, tetapi semua panca indra saya terkadang sulit diajak kerjasama, pikiran, mulut, perasaan di hati, telinga, dan juga mata saya masih saja terjebak dengan godaan duniawi.
Kekalahan lainnya adalah, kenapa yang seharusnya di bulan puasa dengan menahan diri untuk tidak makan dan minum yang dimulai matahari belum bersinar di ufuk timur sampai tenggelam di sebelah barat, justru saat berbuka puasa, menu hidangan di meja makan di rumah justru menjadi berlimpah dengan berbagai menu seperti orang yang takut kelaparan. Lucunya, minum segelas teh saat berbuka puasa, perut sudah terasa kenyang. Juga berat badan malah menjadi bertambah dibanding pada bulan selain bulan suci Ramadhan. Itu artinya, pola makan saya berubah. Biasanya makan sehari 3 kali, berubah menjadi 4 atau 5 kali dengan memindah waktu makan di malam harinya.
Saat sore menjelang berbuka, mestinya, waktu bisa saya gunakan untuk kathaman Alquran, justru malah saya pakai untuk ngabuburit (menghabiskan waktu dengan kegiatan di luar rumah sambil menunggu waktu azan magrib). Pernah pada sore hari sebelum berbuka, saya berpapasan dengan beberapa murid yang sedang siap berangkat ke taman di alun-alun kota, “Rombongan pada mau kemana nih?”, sapa saya pada mereka. “Ngabuburit, pak, daripada di rumah, ini mau kongkow (duduk bersantai) di café bercanda dengan teman-teman dan ngopi sambil menunggu waktu berbuka puasa !” jawab salah satu murid dengan santainya. Saya pun ya diam saja sambil tersenyum teringat kalimat “..ngopi sambil menunggu waktu berbuka, pak ”. Itu adalah kekalahan saya lainnya membiarkan mereka seperti itu.
Kekalahan telak lagi adalah, kenapa setiap bulan Ramadan, keuangan saya menjadi lebih boros, entah untuk belanja apa saja. Mungkin parsel, kue-kue untuk tamu, baju baru, sandal dan sarung yang baru pula. Sehingga pada lebaran pengeluaran saya bisa menjadi 3 kali lipat daripada bulan biasa. Itu artinya saya kalah, yaitu masih mengedepankan hawa nafsu saya yang menjadi lebih boros.
Saat di kelas, saya menjelaskan pada murid-murid masalah hawa nafsu yang mestinya dikekang di bulan puasa, justru menjadi lepas bebas di bulan puasa. Artinya kita belum menang. Akhirnya saya bertanya pada murid-murid,” Kamu semua itu, menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh, mengharapkan apa sih ? mau minta pahala, atau masuk surga?”
Mereka pun riuh ramai menjawab. Ada yang sebagian besar mengharapkan pahala, ada juga yang ingin masuk surga, bahkan ada yang menjawab keduanya, yaitu mau mendapat pahala dan masuk surga. Murid-murid saya yang cerdas sekali.
Untuk beberapa saat, saya terdiam dan mereka menjadi penasaran ingin tahu jawaban mana yang benar. Akhirnya dengan tersenyum saya berkata,” Semua jawabanmu salah semua tuh !” Mereka semua terkejut dan masih dengan wajah penasaran saya tambahi lagi,” Kamu semua yang beriman, diperintahkan untuk berpuasa seperti umat terdahulu sebelummu agar kamu menjadi umat yang bertakwa !”
Marhaban Ya Ramadan ! Semoga Bulan Ramadan tahun 2020, kita adalah pemenangnya !
Salam Literasi
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
