PERLUKAH SISWA, WALI MURID DAN GURU MERASA STRESS DALAM PEMBELAJARAN ?
PERLUKAH SISWA, WALI MURID DAN GURU MERASA STRESS DALAM PEMBELAJARAN ?
Oleh : E.A.wahyudiono
Jika anda membuka di situs manapun dan apapun dengan mengetik kata kata kunci “ Perasaan stress dan keluhan orang tua murid selama belajar online”, pastilah anda akan menemukan informasi lengkap tentang hal itu. Rata-rata keluhan itu adalah materi pelajaran yang sulit dan berat, tidak ada waktu untuk anak dan juga masalah gangguan sinyal wifi atau internet. Akan lebih banyak lagi alasan pada keluhan mereka yang salah satunya bisa anda cari misalnya dari situs online **(censored)**, 18/03/2020.
apakah perasaan stress itu diperlukan di dalam proses belajar mengajar?
Saya jadi teringat beberapa tahun yang lalu saat berdiskusi dengan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Magetan, yaitu bapak Drs. Soetikno, M.M, ( saat ini sudah masuk purna tugas) bahwa para bapak dan ibu guru dan wali murid serta murid haruslah mempunyai perasaan stress bila ingin menjadi orang yang sukses dan cerdas dalam meraih tujuannya. Saat itu saya yakin bahwa beliau menyampaikan hal itu tidaklah main-main.
Dalam penjelasan tambahan dari beliau adalah, bahwa apakah guru bekerja atau siswa yang belajar juga harapan orang tua siswa bagi kesuksesan bagi anak mereka haruslah mempunyai perasaan stress namun hal itu tergantung pada tingkatan stress itu sendiri. Mereka yang gagal dalam meraih cita-citanya adalah orang yang mempunyai tingkatan stress yang rendah atau mereka yang mengalami stress tinggi. Sedangkan mereka yang akan berhasil dan cerdas justru berasal dari mereka yang mempunyai tingkatan stress sedang. Nah, hal itu yang membuat menarik untuk dibahas di sini.
Setelah mencari tahu tentang stress itu sendiri melalui diskusi dengan Dr. Sunarto Yahya, M.Kes., dosen Akademi Kebidanan Poltekkes Surabaya yang kebetulan juga beliau adalah dosen senior yang mengajar di Prodi Kebidanan D-IV di Kampus Magetan. Pada prinsipnya, beliau menyampaikan bahwa penyebab stress atau stressor pada seseorang, katakanlah dalam hal ini kepada bapak dan ibu guru serta para anak didik dalam program daring itu, bisa berbeda-beda tergantung dari daya tahan orang tersebut dalam mendapatkan tekanan dari luar terhadap kemampuan dirinya saat berusaha mencapai tujuannya dalam pembelajaran khususnya metode daring yang sedang dilaksanakan minggu minggu ini. hal itu berlaku pada konstituennya, yaitu guru, murid dan wali murid.
Jika begitu, apakah stress itu ? Menurut Robbins (2001) menyatakan bahwa stres merupakan suatu kondisi yang menekan keadaan psikis seseorang dalam mencapai sesuatu kesempatan di mana untuk mencapai kesempatan tersebut terdapat batasan atau penghalang (**(censored)**, artikel yg ditulis oleh Maulanski,24/10/2016.
Dari definisi dan penjelasan Bapak Dr. Sunarto Yahya, M.Kes., itu, seseorang dalam mencapai tujuannya pastilah akan banyak halangan dan batasan. Justru mereka yang mengalami tingkatan stress rendah, akan sering gagal dalam hidupnya, Karena terlalu santai, masa bodoh, cuek dalam mengejar target atau cita-cita yang dinginkan. Tipe stress rendah ini biasanya hanya mengandalkan faktor kemujuran saja dalam menempuh mimpi atau cita-citanya. Usaha yang dilakukan juga minimal, .jika gagalpun juga tidak membuat mereka kecewa. Istilah disini sering disebut distress.
Sedangkan mereka yang dari stress tinggi, juga bisa diduga paling banyak gagal karena dia tidak bisa menerima kesenjangan antara harapan dan kenyataan serta kemampuan yang ada padanya terhadap cita-citanya. Dalam dirinya dia selalu mengatakan harus bisa, namun saat gagal dalam mencapai mimpinya, bila tidak ada bimbingan akan membuat dia menjadi depresi dan ini sangat berbahaya untuk perkembangan psikologis pada anak itu selanjutnya. Bisa diamati gejalanya dari perilaku dan ucapannya yang kasar ( non verbal dan verbal). Jika ada di tahap ini, sudah mengarah kepada depresi untuk istilahnya.
Sedangkan mereka dari tingkat stress sedang, mereka terbiasa menerima kenyataan yang ada setelah melakukan suatu usaha untuk mengatasi halangan. Tipe stress sedang selalu menyiapkan strategi dalam mengejar cita-citanya. Jikapun gagal, juga tidak membuat mereka patah semangat. Mereka selalu berusaha lebih giat lagi mencari jalan walaupun banyak tekanan dalam mengejar keinginannya di masa depan. Kegagalan bagi mereka dijadikan motivasi positif untuk bangkit. Istilahnya adalah eustress.
Sama halnya dengan guru dan orang tua siswa. Saat harapan mereka terlalu tinggi pada anak atau anak didiknya tanpa melihat kemampuan mereka serta selalu memaksa anak anak untuk berhasil, justru membuat mereka rentan terdampak pada tekanan antara harapan dan kenyataan yang berbeda. Bisa kita tebak selanjutnya, ganti guru dan wali murid yang mengalami stress. Untuk itu , sebagai insan berpendidikan yang cerdas, mari segera mengelola stressor (penyebab stress) untuk menjadi stress tingkat sedang dengan menerima kelebihan dari kekurangan dari aspek pendukung dan tujuan yang ingin dicapai bersama dalam pembelajaran daring ini.
Kesimpulannya, ternyata perasaan stress juga diperlukan dalam pembelajaran. Tanpa perasaan stress, semua hidup kita tidak akan indah dan akan berjalan hambar-hambar saja. Karena stress sedang adalah motivasi terbaik untuk berhasil dan maju. Nah,apakah saat ini saya mengalami stress rendah, sedang atau tinggi ? Wah, jangan- jangan saya malah sudah depresi nih. Nah, bagaimana dengan anda sebagai guru, siswa atau wali murid?
Salam Literasi Psikologi
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
