RAMADAN MENYEMBUHKAN SHOPAHOLIC MENJADI SHOPALOGIC
RAMADAN MENYEMBUHKAN SHOPAHOLIC MENJADI SHOPALOGIC
Oleh : E.A.Wahyudiono
Pada bulan sebelum datangnya ramadan dan wabah corona, setiap weekend atau akhir minggu, saya selalu menyempatkan diri untuk pergi ke luar kota hanya untuk shopping. Iya, shopping, karena anak perempuan saya, Hasna, jika liburan di rumah selalu mengajak untuk refreshing dengan kegiatan belanja di Mall di luar kota yang berjarak sekitar 45 menit dengan kendaraan pribadi.
“Ayo pi, shopping!, aku kalau di rumah terus membuat sakit kepala dan pening, badan juga rasanya pegal linu dan lemas!” rayunya dengan wajah memelas. “Terus, kalau shopping ke mall, memangnya terus sakit kepalamu sembuh tuh?” dengan rasa heran saya pun balik menggodanya. “Iya dong, dijamin sembuh, pi !, pening jadi hilang dan badan rasanya fresh banget !” masih dengan nada merayu agar saya mau mengantarkannya.
Akhirnya, saya jawab, ” Mau tahu? aslinya rasa pening di kepalamu dan pegal linu di badan itu tidak hilang jika kita pergi shopping !” Dengan heran anak saya Hasna pun bertanya, “ Lha ,terus jika tidak hilang kemana dong perginya ?” Saya dengan wajah memelas akhirnya menjelaskan, “ Rasa pening dan pegal linu di badanmu itu pindah ke bapak, nah, kamu yang sembuh, ganti bapak yang sakit, gitu !” dan kami berdua tertawa terbahak.
Apakah shopaholic itu?
Berdasarkan situs hellosehat.com, dan ditulis oleh Adinda Rudystina, Shopaholic adalah orang yang memaksakan diri untuk berbelanja dan mungkin merasa dirinya tidak memiliki kontrol atas perilaku tersebut. Dengan kata lain, seorang shopaholic dapat kita sebut menderita kecanduan berbelanja.
Sifat itu ternyata tidak hanya dimiliki oleh kaum hawa saja, namun juga kaum adam. Nah, apakah itu hobi atau penyakit?. Jawabannya ternyata unik dan bervariasi. Selama memang untuk kebutuhan primer, hal itu adalah biasa dan normal, namun akan berbeda bila membeli tetapi hanya untuk mengoleksi atau hanya untuk memuaskan diri dengan rasa senang atau pamer.
Jika yang terakhir tadi menjadi kecanduan yang artinya kegiatan berbelanja atau shopping akan menumbuhkan hormon endorfin (hormon yang keluar karena rasa nikmat) dan hormon dopamine ( hormon yang keluar karena rasa senang). Itulah kenapa mereka merasa sehat sehingga membuat badan dan pikiran mereka menjadi segar atau fresh.
Dampak buruknya bisa terjadi pada jangka pendek dan jangka panjang. Untuk jangka pendek, mereka akan merasa senang karena saat sedang berbelanja, namun kemudian merasa menyesali karena setelah melakukannya baru menyadari bahwa barang-barang yang dibeli itu tidak dibutuhkan atau membawa manfaat.
Sedangkan jangka panjangnya, akan timbul perasaan cemas, karena akan mengganggu kondisi keuangan apabila memaksa berbelanja saat dalam situasi keuangan yang dipaksakan. Kejadian ini akan berbahaya bila mereka yang mempunyai sifat shopaholic sudah berumah tangga. Apalagi jika cara belanjanya menggunakan credit card, dijamin semakin tidak bisa menahan diri deh. Belum lagi kemudahan dalam belanja online, bisa setiap hari ada barang yang datang di rumah nih.
Oleh karena itu, seorang psikolog, Dra. A. Kasandra Putranto, yang diteruskan oleh Ayu Utami dalam situs **(censored)** menekankan bahwa ada dua tipe kepribadian seseorang saat belanja, yakni shopalogic dan shopaholic. Apa bedanya? Shopalogic adalah mereka yang secara pikiran, perasaan, maupun perbuatan cerdas. Maksudnya, orang tipe ini cenderung rasional ketika berbelanja. Mereka mampu memisahkan mana kebutuhan yang harus dibeli dan tidak. Sebaliknya, shopaholic adalah mereka yang terbiasa kalap ketika berbelanja. Bahkan hal yang tidak penting pun Anda beli dan merasa terpuaskan saat keinginan tersebut sudah tersalurkan.
Pada saat bulan suci Ramadan ini, marilah kita menjadi bijaksana dengan menahan diri untuk tidak tergantung pada sifat kecanduan berbelanja atau shopaholic tersebut. Apalagi di situasi ekonomi yang sedang menurun di semua sektor dikarenakan mewabahnya pandemi corona ini. Hidup masyarakat semakin sulit. Semuanya saat ini berusaha untuk bertahan untuk hidup dengan mengedepankan rasa empati dalam diri kita, saya yakin sifat shopaholic dalam diri kita masing-masing akan bisa disembuhkan oleh bulan Ramadan ini.
Marhaban ya Ramadan ! Selamat menjalankan ibadah puasa dan semoga amalan kita semua diterima Allah SWT serta digolongkan pada kaum yang bertakwa. Amiin
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
