Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
SAAT METODE INQUIRY DISCOVERY LEARNING SUDAH ADA PADA ANAK DIDIK KITA
imagesourcefrom.yanglish.wordpress.com

SAAT METODE INQUIRY DISCOVERY LEARNING SUDAH ADA PADA ANAK DIDIK KITA

SAAT METODE INQUIRY DISCOVERY LEARNING SUDAH ADA PADA ANAK DIDIK KITA

Oleh : E.A.Wahyudiono

Mencermati masa proses belajar mengajar online atau daring (dalam jaringan) yang diperpanjang sampai awal bulan Juni 2020 dikarenakan belum meredanya penyebaran wabah virus Corona, saya mencoba untuk mengobservasi beberapa tugas yang saya terima dari anak didik saya selama beberapa pekan terakhir ini.

Ada banyak alasan kenapa materi dikirimkan dan kemudian mereka diberikan penugasan, itu semata agar materi pembelajaran bisa tersampaikan walaupun dalam kondisi tanpa tatap muka di kelas. Juga agar anak didik selalu belajar dan tetap tinggal di rumah demi kesehatan mereka juga. Dari beberapa tugas yang saya berikan, keikutsertaan anak didik dalam menyelesaikan proses belajar mereka sendiri atau learning adalah hal yang patut diapresiasi tinggi walaupun pada minggu kelima ini tingkat kerajinan mereka sedikit demi sedikit mulai berkurang.

Nah, apa sih bedanya studying dan learning?

Studying process itu saat kita sedang ada di sekolah dengan kelas klasikal dan konvensional melalui tatap muka dengan guru dan siswa untuk transfer of knowledge. Untuk learning process, itu adalah kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa sendiri dalam mencari tahu dari jawaban akan pertanyaan yang muncul dari dirinya sendiri.

Dari perbedaan antara studying dan learning di atas, kita akan mengetahui keberhasilan materi pembelajaran online kita berdasarkan motivasi internal dalam murid itu sendiri. Saat guru memberikan materi, murid menerima kemudian menemukan jawaban sendiri melalui proses mencari, mengidentifikasi, menjawab dan mengambil kesimpulan itulah yang disebut dengan Inquiry dan Discovery Learning.

Menurut Syafrudin Nurdin, metode inquiry discovery learning adalah “suatu metode yang dapat disusun oleh guru dalam proses belajar mengajar, sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Melalui metode ini siswa akan mampu mengembangkan rasa ingin tahunya, dan keberanian berpartisipasi dalam proses belajar mengajar”. (Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum. Jakarta: PT Intermasa, 2002)

Seberapa keras seorang guru berusaha untuk mencapai hasil yang maksimal dalam proses belajar dalam jaringan (daring) ini, semua tergantung dari learning spirit anak didik kita. Murid yang mempunyai semangat belajar yang tinggi dan motivasi untuk berhasil di masa depan bagi diri mereka sendiri dipastikan akan memetik buah keberhasilan dari hasil usahanya selama proses inquiry discovery learning ini.

Namun sebaliknya, anak didik yang belum mampu dan selalu tergantung pada pembelajaran konvensional, mau tidak mau, akan mengalami kesulitan dalam penguasaan materi yang diberikan melalui jaringan belajar (daring). Jadi, proses pembelajaran inquiry discovery learning juga mempunyai kelemahan dan kelebihannya dalam situasi belajar online ini.

Coba amati saja alur inquiry discovery learning ini : sintaks 1: Stimulation, Sintaks 2 : problem statement, Sintaks 3 : data collection, Sintaks 4 : data processing, Sintaks 5 : verification, Sintaks 6 : Generalization. (sibatik.kemdikbud.co.id). Dari alur tersebut, guru hanya berada di posisi sintaks 1, yaitu stimulation (stimulus), dimana peranannya dalam pembelajaran adalah memberikan stimulus atau rangsangan berupa materi atau penugasan dari permasalahan kepada siswa dan evaluation (penilaian) di akhir alur semua sintaks. Sedangkan siswa sendiri, ada di posisi sintaks 2 sampai dengan sintaks 6.

Jika lebih dicermati, anak didik kita mempunyai kesempatan untuk mulai mengidentifikasi masalah, mengumpulkan data dari masalah yang diberikan guru, memproses data dari berbagai sumber belajar, mencocokkan data dan mengambil kesimpulan. Apabila anak didik kita mampu mengerjakan tugas dengan alur tersebut, maka mereka dapat dipastikan sudah mempunyai inquiry discovery learning spirit dan mereka akan mampu juga untuk mengerjakan semua soal dengan kesulitan berpikir tingkat tinggi atau model HOTS (Higher Order Thinking Skills).

Namun, bagi murid yang lemah motivasi dan semangat belajarnya dan menganggap bahwa belajar dalam jaringan adalah kesempatan untuk liburan dan menyalah artikan istilah merdeka belajar, mereka akan terus merasa kesulitan dalam menerima transfer of knowledge dari guru mereka. Bahkan saat diberikan penugasan oleh guru, ada juga yang beralasan, “ Hadeeh, Bapak dan ibu guru sendiri yang membuat dan mempunyai masalah, eh, malah kita para muridnya yang harus menyelesaikan dan mencari solusi dari masalah mereka”.

Salam Literasi

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post