SUKARELAWATI ITU BERNAMA TOMOKO SAN
SUKARELAWATI ITU BERNAMA TOMOKO SAN
Oleh ; E.A.Wahyudiono
“ Tomoko san !”, begitulah saya memanggil dia. Mahasiswi tingkat 3 di Fakultas bahasa dengan Jurusan bahasa Jepang dari Josei Tanki Daigaku ( Kampus dengan Program D3/D4 semacam Politeknik) di Nagasaki, Jepang. Karena ada kata “Josei”, artinya “wanita” dalam bahasa Indonesia, secara otomatis, semua pelajarnya adalah dari gender perempuan.
Artikel saya ini merupakan bentuk apresiasi saya atas kesukarelaannya dalam mengajari saya untuk bisa berbicara dan menulis dalam bahasa Jepang, selama menjadi mahasiswa di Universitas Nagasaki, Jepang.
Perlu untuk diketahui bahwa setiap mahasiswa atau mahasiswi asing yang baru datang di Jepang untuk melanjutkan studinya dengan beasiswa Monbukagakusho atau beasiswa lainnya dan berasal dari semua program apapun di kampus manapun, mereka semua akan mendapatkan pelajaran bahasa Jepang intensif selama 3 sampai dengan 6 bulan di kampus yang telah ditentukan untuk membantu mereka dalam hidup bersosialisasi sehari-hari di lingkungan kampus maupun masyarakat Jepang.
Selama masa itu, setiap mahasiswa yang belajar, akan didampingi oleh mereka, mahasiswa atau mahasiswi jurusan bahasa Jepang, sebagai volunteer atau sukarelawan/wati yang bersedia datang ke ruang belajar di asrama mahasiswa yang bersangkutan tanpa perlu membayar ataupun dibayar.
Satu minggu satu kali, Tomoko san, pendamping sukarela bahasa Jepang saya, akan datang ke seminar room ( ruang belajar asrama asing) di asrama saya. Setiap malam, pukul 18.30 (WJ) Waktu Jepang. Tomoko san, mahasiswi yang cantik, supel, ramah dan sangat disiplin membuat saya giat belajar. Cara mengajarnya sangat santai dan sabar. Kami berdua sering berdiskusi dalam bahasa Jepang dengan topik apa saja termasuk kehidupan pribadi selama menjalani status menjadi mahasiswa selama berada di Jepang. Saat seperti ini, saya sering mendoakan untuk kesehatan, kesuksesan, dan keselamatan Tomoko san yang baik hati, semoga Allah SWT senantiasa melindunginya.
Saat saya mendapatkan tugas yang berhubungan dengan tugas menulis yang begitu banyak dari kampus, Tomoko san selalu bersedia meluangkan waktu untuk membantu saya walaupun di luar jadwal pelajaran yang telah dibuat. Begitu sulitnya saya harus mengingat huruf-huruf Jepang, apakah itu Hiragana, Katakana, ataupun Kanji, tanpa bantuan Tomoko san, sulit bagi saya dalam memahami lebih dalam pada materi yang telah saya terima sebelumnya dari Ryuukagusei Senta (tempat belajar bahasa dan mahasiswa asing di setiap kampus) sebelum masuk ke fakultas masing-masing di kampus utama.
Itulah tipikal orang Jepang. Saat mereka menjalani sebuah kegiatan sebagai volunteer, itu artinya mereka sadar akan konsekuensinya bahwa mereka sama sekali tidak menerima bayaran sepeserpun dari apa yang dilakukannya, namun mereka mendapat penghormatan yang luar biasa dari masyarakat Jepang apabila ada sukarelawan atau sukarelawati yang mengabdi demi kepentingan masyarakat. Hampir tidak ada berita tentang cibiran atau ucapan sinis dari masyarakat di sana pada mereka semua. Hal itu yang membuat saya tercengang dan takjub.
Di Jepang dengan high society-nya, kesadaran akan tatanan di masyarakat membuat mereka saling bahu membahu dalam menghadapi apapun. Kita amati saja, misalnya, ada gempa bumi atau tsunami, terlihat begitu kompak mereka dalam menangani musibah itu dengan mengerahkan ribuan sukarelawan dan sukarelawati termasuk dalam menyiapkan dapur umum, tenda kesehatan untuk medis dan lain sebagainya. Mereka tidak pernah mengeluh dengan menuliskan kata-kata Cry for Japan, melainkan Pray for Japan. Hal itu dikandung maksud untuk segera membangkitkan semangat bersama-sama dari keterpurukan. Jasa sukarelawan maupun sukarelawati di garda terdepan dalam membantu masyarakat di sana sangatlah diapresiasi tinggi.
Saya tidak bermaksud membandingkan dengan itu di sini, namun tidak ada salahnya untuk lebih menghargai mereka. Apalagi saat saya mendapatkan berita tentang penolakan warga di Jawa Tengah pada mereka yang menjadi tenaga sukarela di garda terdepan dalam melawan penyebaran wabah Corona saat dimakamkan di desa asalnya setelah melalui prosedur kesehatan yang sudah distandarkan oleh pemerintah. Apakah rasa empati kita sebagai masyarakat pada mereka yang telah mempertaruhkan nyawanya demi kita semua sudah sirna ?.
Keprihatinan itu membuat Gubernur Jawa Tengah tampil. Seperti yang dilansir dalam berita **(censored)**,11/04/2020 Bapak Ganjar Pranowo, memerintahkan untuk memakamkan mereka yang menjadi korban Covid-19 saat bertugas mencegah penyebaran virus itu, di Taman Makam Pahlawan (TMP). Hal itu dilakukan sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan yang sangat tinggi dari pemimpin kita.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa-jasa dan pengorbanan para pahlawannya. Kita sebagai warga negara Indonesia yang baik haruslah menjadi bangsa yang seperti itu.
Salam literasi Sukarelawan/wati
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
