BAPAK IWAN SYAHRIL, Ph.D, DIRJEN GTK YANG BARU, TOLONGLAH NASIB PARA GURU HONORER (K2)
BAPAK IWAN SYAHRIL, Ph.D, DIRJEN GTK YANG BARU, TOLONGLAH NASIB PARA GURU HONORER (K-2)
Oleh :E.A.Wahyudiono
Saat mendapatkan info tentang sosok beliau bapak Iwan Syahril, Ph.D , Staf khusus presiden dari angkatan generasi milenial yang dilantik oleh Presiden RI untuk menjadi Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) ,Kemdikbud yang baru membuat saya tergelitik untuk mencari tahu sosok beliau.
Hasilnya, dari semua informasi khususnya dari situs yang berbahasa Inggris yaitu Linkedin.com, hanya dua kata untuk menggambarkan prestasi beliau, yaitu luar biasa. Saya salut akan prestasi, pendidikan dan pemikirannya dengan usia beliau yang masih relatif muda .
Apalagi, saat membaca riwayat pendidikan beliau yang alumnus S3 dari Michigan State University, Amerika Serikat. Bahkan sempat mengajar di kelas guru untuk jurusan pendidikan di universitas yang sama. Belum lagi prestasi beliau sebagai dekan, dosen dan staf peneliti di Sampoerna Foundation untuk bidang pendidikan di Indonesia.
Jika anda sebagai guru yang tinggal di DKI Jakarta dan pernah mengikuti pelatihan guru dalam kompetensi sosial dan kepribadian pada tahun 2017, beliau adalah sosok perancang kegiatan tersebut. Bahkan, beliau juga sebagai tim ahli perancang BAN-SM (Badan Akreditasi Nasional Sekolah dan Madrasah) untuk tingkat nasional. Keren habis kan? Rasanya, artikel ini tidak akan cukup untuk mengulas prestasi dan karya beliau yang begitu banyak serta menjadikan kebanggaan tersendiri bagi kita para guru.
Namun terlepas dari itu semua, saat prestasi dan pengalaman beliau yang malang melintang di luar negeri dan kembali ke tanah air, pastilah ada panggilan hati untuk memperbaiki dunia pendidikan negeri kita ini. Saya salut, karena bapak Iwan Syahril, Ph.D, Dirjen GTK kita yang baru ini merupakan sosok guru sejati. Itu dibuktikan dengan pengalaman beliau yang mengajar langsung di kelas dimulai dari tingkat dasar, menengah, sampai dengan perguruan tinggi baik selama di Amerika maupun di Indonesia.
Beliau bisa disebut sebagai sosok guru penggerak sejati. Ayahandanya pun juga guru bahasa Inggris di Padang, kota di mana beliau juga menamatkan masa SMA nya dan setelah itu menamatkan pendidikan S1 nya di Universitas Padjajaran, Bandung sebelum melanjutkan studi gelar master atau S2 nya di Columbia University, New York, Amerika dalam bidang pendidikan menengah dan kurikulum.
Saat dilantik menjadi Dirjen GTK Kemdikbud, kita semua mendapatkan perasaan gembira dimana seorang rekan guru telah menjadi orang penting dalam membuat kebijakan dan keputusan yang menyangkut nasib pendidikan kita. Mulai dari kualitas pendidikan nasional kita yang dianggap masih rendah apabila diukur dengan standar PISA (Programme for International Student Assessment), yaitu pendidikan kita masih ada di peringkat 72 dari 77 negara.
Juga menyangkut penyederhanaan kurikulum nasional serta nasib ribuan para guru honorer atau K2 dan tenaga kependidikan seluruh tanah air. Sungguh suatu pekerjaan yang tidak ringan. Namun saya percaya pada beliau karena beliau sendiri pernah merasakan bagaimana rasa dan suka dukanya menjadi guru di tingkat dasar sampai dengan perguruan tinggi.
Harus ada perhatian tersendiri dalam mengangkat nasib para guru honorer atau K2 di negeri ini. Jikapun ada pengangkatan CPNS, mestinya ada regulasi tersendiri yang mengatur masa bakti mereka, juga usia mereka serta jenis tes dan sistem rekrutmen CPNS dari jalur guru honorer. Tolonglah mereka pak Dirjen!
Janganlah disamakan dengan mereka para fresh graduate ( yang baru lulus kuliah) untuk sama-sama mengikuti tes dan diberlakukan aturan yang sama dengan para guru honorer yang sudah mengabdi sekian tahun dan membantu mengajar karena banyak kondisi sekolah yang kekurangan guru. Kita tahu bersama, secara teori, pastilah mereka yang baru lulus akan mendapatkan nilai yang tinggi dalam tes meskipun tidak punya pengalaman mengajar sebelumnya.
Hirohito, Kaisar Jepang pernah menanyakan pada para menterinya berapa jumlah guru yang dimiliki setelah dua kota mereka Hiroshima dan Nagasaki dibom atom oleh Amerika. Kaisar hanya berharap akan membangun Jepang dari dunia pendidikan, dan hal pertama yang dilakukan adalah meletakkan harkat dan martabat guru di masyarakat Jepang.
Saat saya sedang menempuh pendidikan lanjut di Nagasaki University, Jepang dan Australia. Ada beberapa dosen yang selalu menanyakan kepada saya,” Berapa total rata-rata gaji seorang guru (PNS dan swasta) dalam satu tahun dibandingkan rata-rata total gaji pegawai pemerintah (PNS) di Kementerian lainnya di Indonesia?” Namun hal itu tidak pernah sekalipun saya jawab sampai akhirnya saya bertanya balik,” Kenapa anda menanyakan hal itu?”
Jawabannya membuat saya tercekat. Dosen saya menjelaskan,” Apabila rata-rata gaji guru baik yang berstatus PNS ataupun swasta dan honorer masih kalah rata-ratanya dalam satu tahun dibandingkan dengan mereka yang PNS di kementerian lain di negeri anda, artinya kualitas pendidikan di negara anda masihlah rendah”.
Salam
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
