BELAJAR DARI ITAEWON, KOREA YANG DITERJANG CORONA LAGI SAAT PELONGGARAN PSBB
BELAJAR DARI ITAEWON, KOREA YANG DITERJANG CORONA LAGI SAAT PELONGGARAN PSBB
Oleh : E.A.Wahyudiono
Sungguh menyesakkan dada dan ironis sekali pada saat yang bersamaan negara Korea baru saja dipuji oleh WHO ( Organisasi Kesehatan Dunia) karena minimnya angka kematian dan penyebaran wabah corona di Korea Selatan dan bahkan beberapa negara Eropa, seperti Prancis meminta saran dari negara Korea dalam strategi penanganan Covid-19 di negara itu. (**(censored)**)
Kemarin, dunia tiba-tiba dikejutkan dengan terdengarnya kabar bahwa daerah Itaewon, Seoul terpapar corona dengan jumlah yang tidak tanggung-tanggung, yaitu hampir lebih 100 kasus yang positif terpapar corona dari mereka OTG (Orang Tanpa Gejala) saat pemerintah Korea melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar pada bulan sebelumnya. Otomatis otoritas setempat segera mengembalikan status PSBB di Seoul yang saat ini dianggap red zone cluster ,khususnya di daerah Itaewon
Informasi tersebut saya peroleh dari Mas Ahmad Zaini, kontributor info untuk saya yang juga bekerja di sebuah perusahaan di Korea. Pertama, saat mendengarkan berita tersebut, rasanya tidak percaya, karena Mas Zaini menceritakan di minggu lalu, bahwa saat ini daerah Itaewon, Seoul sudah dibuka untuk umum dan masyarakat sudah bisa mulai beraktivitas seperti biasanya karena masyarakat begitu bangganya dan menganggap bahwa mereka sudah mampu mengatasi wabah Corona.
Mas Zaini mengeluh, karena dalam 1 bulan ini hanya bekerja sekitar 10 hari saja, karena semua pabrik untuk kegiatan ekspor impornya dihentikan kembali. Saat berada di Korea, saya sudah hampir 3 kali menyempatkan untuk berkunjung di daerah Itaewon, karena pertama ada masjid agung untuk umat muslim seluruh dunia yang berdiri megah di situ. Lingkungan masjid juga semuanya seperti perkampungan islami dengan banyak toko dan restoran halal yang memenuhi daerah itu.
Namun buruknya, di daerah itu juga ada banyak night club, shopping center serta pusat bisnis, ekonomi, dan pariwisata. Hal itu otomatis mengundang semua masyarakat, baik orang Korea sendiri, tenaga kerja Indonesia (TKI) dan orang asing dari beberapa negara untuk tumpah ruah dan datang menikmati kebebasan mereka di daerah Itaewon setelah PSBB dari pemerintah Seoul.
Dampaknya, saat pelonggaran PSBB diumumkan, segera menjadi masalah besar karena wabah Corona kembali menyebar dengan cepat dengan ratusan orang yang positif terpapar virus Corona dalam waktu sepekan. Mau tidak mau, anak sekolah dan semua toko, kantor pemerintah serta masjid diliburkan lagi sampai ada penanganan yang maksimal dari pemerintah setempat dalam mengatasi kasus Covid-19 yang menyebar lagi itu.
Saya tidak berani membayangkan bilamana pelonggaran PSBB diberikan oleh pemerintah Indonesia kepada semua lapisan masyarakat menjelang hari raya Idul fitri akhir bulan ini. Saat ini pemerintah Indonesia sudah sekuat tenaga memberlakukan PSBB di beberapa tempat semata untuk mencegah penyebaran corona di masyarakat yang masih dianggap besar pada kota-kota tertentu di Indonesia. Bilamana kelonggaran mudik dibiarkan, dampak yang ditakutkan adalah peningkatan kasus Covid-19 di lingkungan kita akan semakin bertambah.
Jika hal itu tidak diantisipasi termasuk mereka yang sudah mudik secara diam-diam, apa yang telah kita upayakan selama hampir 3 bulan ini semua akan menjadi sia-sia belaka. Seharusnya semua bisa menjadi normal lagi di bulan Juli saat tahun ajaran baru dan semua kantor, pabrik dan sektor usaha bisa beraktivitas dan bekerja normal kembali. Namun, bila kita tidak mau mengambil pembelajaran dari kasus Itaewon, Korea, bukan hal yang mustahil PSBB, Work From Home (WFH) dan Stay At Home akan diberlakukan lagi sampai akhir tahun 2020.
Siapkah kita? Bisakah kita tetap menjaga protokol kesehatan diri kita saat hari idul fitri tiba minggu depan ? Jika tidak bisa, sanggupkah kita belajar lagi dan lagi dalam jaringan dan work from home sampai akhir tahun 2020?
Salam
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
