CONFLICT OF INTEREST, MEMBIASKAN PERSPEKTIF DAN INTEGRITAS POSITIF KITA
CONFLICT OF INTEREST, MEMBIASKAN PERSPEKTIF DAN INTEGRITAS POSITIF KITA
Oleh : E.A.Wahyudiono.
Saat sedang berbelanja kebutuhan pokok di minimarket dekat rumah, saya bertemu dengan sahabat lama saya, pak Andri. Setelah saling bertegur sapa dan cerita banyak hal, saya memberanikan diri untuk bertanya tentang kedua anaknya, Rani dan Rano yang sama sama sudah menikah.
Akhirnya beliau bercerita, “Kamu tahu kan anak saya yang putri, Rani? Hidupnya sangat bahagia sekali. Dia oleh suaminya sangat dimanjakan, bahkan tidak boleh bekerja karena semua kebutuhannya sudah dicukupi oleh suaminya yang rajin bekerja. Bahkan untuk mencuci piring atau masak saja, Rani tidak diperbolehkan oleh suaminya. Jadi Rani sering menghabiskan waktu untuk belanja ke mal atau ke salon untuk mempercantik diri demi suaminya. Beruntungkan anak cewek saya dapat suami seperti itu?.
Karena penasaran, saya pun bertanya lagi tentang adiknya, yaitu Rano. Wajah beliau seketika berubah,” Rano? Dia tidak bahagia hidupnya dan saya kecewa sekali dengan menantu saya yang cewek itu, sungguh tidak tahu diri. Anak saya Rano itu suami yang sangat giat bekerja demi istrinya. Mencari nafkah siang dan malam hanya untuk keluarganya, tapi istrinya pemalas sekali. Bahkan hanya menghambur-hamburkan uang suaminya dengan pergi belanja atau pergi ke salon. Pekerjaan rumah saja tidak mau. Justru suaminya yang rajin mencuci piring, baju dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya, “ kata pak Andri memelas.
Dari cerita di atas, apakah anda menemukan ada sesuatu yang aneh terjadi ? Jika iya, itulah contoh sederhana dengan apa yang dinamakan conflict of interest.
Setiap dari kita harus berani mengakui secara jujur bahwa conflict of interest akan berpengaruh dan bisa membiaskan perspektif (cara pandang terhadap sesuatu) dan integritas dalam diri kita. Apalagi kita sebagai seorang guru, pastilah jika kita mempunyai conflict of interest dalam diri kita itu pastilah akan berpotensi untuk membuat kita berlaku tidak adil, jujur, dan bijaksana. Perilaku dan pandangan yang bias akan menodai integritas diri sendiri karena bersimpangan kepentingan.
Apakah conflict of interest itu?
Jika diterjemahkan bebas artinya adalah konflik kepentingan antara kepentingan umum dengan kepentingan pribadi atau organisasi. Semua orang saat berada di dalam organisasi ataupun institusi pastilah akan mengutamakan kepentingan umum, namun saat dalam keputusan atau kebijakan yang mengandung unsur kepentingan pribadi, nah, di situlah semua keputusan yang dibuatnya menjadi bias dan menodai semangat integritas kejujuran dan keadilan.
Sebagai misal, kita mengetahui bersama, bahwa salah satu staf khusus Presiden RI, baru-baru ini menerbitkan surat dengan kop negara kepada seluruh camat di tanah air untuk mendukung pemesanan alat perlindungan diri (APD) pada perusahaan yang dimilikinya. Untuk apa? Ya untuk kepentingan dirinya sendiri. Sekali lagi terlepas benar dan tidaknya, saya tidak bermaksud berpolemik dengan kasus itu akan tetapi hanya sebagai studi kasus saja. Jadi, di situlah letak kebiasaan dari conflict of interest itu pada kepentingan pribadi dan kepentingan negara atau umum.
Coba letakkan diri anda pada seorang guru yang harus mengajar anak kandung anda sendiri di kelas? Apakah anda juga akan jujur dalam memberikan penilaian secara transparan pada hasil evaluasi ulangannya? Ataukah hanya tutup mata tanpa pandang bulu akan memberikan nilai seadil-adilnya sesuai dengan usahanya? Anda sendiri yang bisa menjawabnya.
Saya juga berusaha menghindari conflict of interest apabila ada hal yang menyangkut benturan kebijakan yang mengarah pada kepentingan saya pribadi dan kepentingan umum terutama menyangkut dunia pendidikan. Berat memang tapi harus tetap berusaha menjaga integritas diri. Anda mungkin belum tahu bahwa Menteri Pendidikan sebelumnya adalah adik dari bapak mertua saya, namun dalam hal apapun tidak pernah sekalipun terucap dari mulut saya untuk meminta jabatan meskipun hal itu bisa dan mudah saja. Jika bertemu beliaupun, saya juga sama sekali tidak pernah membahas hal itu.
Kenapa demikian? Itu karena saya berusaha menjaga integritas diri. Jika saya meminta jabatan, saya hanya memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Saya tidak mau memohon jabatan kepada manusia karena jabatan itu adalah suatu amanah. Jika saya tidak mendapatkannya, artinya saya harus lebih bersyukur karena saya sedang diselamatkan oleh-NYA dari suatu tanggung jawab besar yang tidak bisa saya tanggung kelak di hari akhir.
Salam
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
