HANYA KARENA KE BANDARA JUANDA, SAYA MENJADI ODP SEKARANG
HANYA KARENA KE BANDARA JUANDA, SAYA MENJADI ODP SEKARANG
Oleh: E.A.Wahyudiono
Tak terbayangkan sebelumnya bahwa saya dan Ryan, anak saya sekarang menyandang status ODP (Orang Dalam Pemantauan) . Hal itu juga membuat saya tidak bisa lagi beraktivitas, berolahraga seperti biasanya serta datang ke kantor semata demi isolasi diri selama 14 hari dalam mematuhi protokol kesehatan yang dicanangkan oleh pemerintah.
Pengalaman nyata yang tidak mengenakkan itu diawali saat saya diminta oleh anak laki-laki saya yang habis cuti satu bulan karena menikah sebelum wabah Corona menyebar dan diberlakukannya masa PSBB serentak di berbagai kota.
Dikarenakan masa cutinya sudah habis, anak saya diminta oleh kantornya untuk segera kembali ke Sulawesi Tengah karena banyak pekerjaan menyangkut kebijakan pencairan anggaran dan gaji untuk ASN (Aparatur Sipil Negara) dari banyak instansi terkait di bawah Kemenkeu.
Sebagai orang tuanya, pada hari pahit yang selalu saya ingat itu, pada pukul 02.00 pagi dengan mobil pribadi saya berusaha mengantarkan anak langsung ke Bandara Juanda. Selama perjalanan yang ditempuh hampir 3 jam dari kota saya ke Surabaya sungguh membuat hati ini was-was karena jarang sekali ada kendaraan yang melintas di jalan bebas hambatan (TOL).
Begitu memasuki kawasan bandara, kami segera memarkir mobil yang paling dekat dengan departure gate (pintu keberangkatan). Setelah itu dengan tidak membuang waktu, kami segera berlarian menuju ke terminal bandara agar tidak terlambat. Ternyata, setelah melapor ke petugas pintu masuk, saya dan anak saya harus melalui serangkaian tes untuk mengetahui apakah membawa atau terpapar virus Corona atau tidak. Masih banyak orang yang berkerumun di pintu masuk untuk check-in dikarenakan antrean untuk pemeriksaan itu.
Begitu Ryan dinyatakan boleh masuk, saya segera kembali ke Kota Magetan, kota di mana saya tinggal. Begitu sampai rumah dan belum juga sempat beristirahat, betapa kagetnya saya saat mendapat kabar bahwa sesampainya anak saya tiba di Kota Palu, semua penerbangan ditutup atas perintah otoritas Jakarta. Hal itu membuat anak saya tidak bisa melanjutkan perjalanannya ke Kota Tolitoli di mana dia bekerja sebagai ASN Kemenkeu.
Mengetahui hal itu, oleh kantornya, anak saya disarankan untuk mengambil penerbangan terakhir untuk kembali menuju Bandara Juanda, Surabaya. Anda bayangkan, saat badan saya masih lelah karena baru tiba dari Bandara Juanda, saya harus kembali lagi untuk menjemput Ryan pada sore harinya di bandara dan langsung pulang ke Kota Magetan. Sungguh melelahkan perjalanan dari Magetan-Surabaya-Makassar-Palu dan tiba-tiba harus kembali lagi dari Palu-Makassar-Surabaya dan Magetan dalam selisih satu hari.
Akhirnya, sekarang kami berdua menjadi ODP (Orang Dalam Pemantauan) mandiri dan atas kesadaran diri dengan tetap tinggal dan juga harus selalu memakai masker meskipun berada di dalam rumah selama dua pekan ke depan demi kesehatan keluarga dan lingkungan.
Salam #sagusabu1.online
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
