Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
PENGANTIN CORONA
imagesourcefrom.arj-photo.uk.co

PENGANTIN CORONA

PENGANTIN CORONA

Oleh : E.A.Wahyudiono

Dengan wajah sedih, ibunya Yanto mengamati anak semata wayangnya dari jendela kaca rumah bercat abu-abu saat memasuki halaman depan rumah yang tidak begitu luas. Ibu Harni juga menelisik wajah anaknya saat sedang melepas sepatu di teras rumah.

Terlihat wajah Yanto sangat tua dibanding dengan orang seusianya. Sebagai ibunya, dia tahu bahwa Yanto tidak pernah mau tersenyum semenjak kasus ditinggal menikah oleh kekasihnya. Kejadian 15 tahun lalu itu masih membekas di jiwa dan hati Yanto. Dia harus merelakan kekasihnya untuk menikah dengan pria pilihan orang tuanya.

“Assalamualaikum !”, salam Yanto sebelum masuk rumah saat bertemu ibunya. Bu Harni pun segera menjawab salam dengan lembut. Semenjak ayahnya meninggal, hanya Yanto dan ibunya yang menempati rumah tua peninggalan nenek mereka. Rumah dengan warna kusam menambah suasana hati Yanto menjadi sangat pendiam. Saat ditawari untuk segera makan siang, Yanto menolak dengan menggelengkan kepalanya. Dia lebih memilih langsung berbaring di kasur di depan Televisi kecil seperti biasanya. Kasur tanpa sprei yang setia menunggunya untuk beristirahat di ruang tengah.

Tidak ingin mengganggu istirahat anak kesayangannya yang baru pulang dari bekerja, bu Harni segera meneruskan pekerjaannya di dapur. Tiba-tiba tanpa ada suara apa-apa, Yanto dikagetkan dengan kehadiran Lina, mantan kekasihnya yang ternyata sudah duduk disampingnya saat dia berbaring. “Maaf, saya tidak tahu kamu datang. Mana suami dan anakmu?” tanya Yanto yang masih kaget dengan kedatangan mantan kekasihnya selama ini.

Saya datang sendirian ini, mas !”, jawab Lina. “ Saya datang ke sini hanya mau menanyakan untuk yang terakhir kali, hmm, apakah mas Yanto masih dan selalu mencintai saya?”, tambah Lina. Yanto dengan spontan menjawab, ” Sampai kapanpun kamu adalah kekasihku. Lihatlah !, sampai sekarang aku masih sendirian, 15 tahun setelah kamu menikah, aku tetap memilih untuk hidup sendiri. Kamu adalah cinta pertama dan terakhirku. Kenapa, ?, masihkah kamu meragukan cintaku padamu?”

Lina menjadi terharu dan meneteskan air mata, “Sama mas, hanya kamu yang selalu ada di dalam hatiku. Raga ini bisa menjadi milik orang lain, namun cinta suci dan hatiku selalu untukmu”. Betapa senangnya Yanto mendengar jawaban Lina yang masih mencintainya. “Jika mas Yanto masih mencintaiku, maukah menikah denganku sekarang?, Ayo ikut aku !” ajak Lina yang masih tersenyum dengan aroma tubuhnya yang selalu wangi seperti saat mereka menjadi sepasang kekasih. Yanto pun tanpa bertanya segera tersenyum lebar dan mengiyakan.

Bu Harni tersenyum saat melihat anaknya,Yanto masih tertidur dengan bibir tersungging senyuman. Dia heran, karena selama ini belum pernah melihat senyuman sekalipun di bibir anaknya yang tampan itu. Dengan segera, bu Harni mendekati tubuh Yanto di kasurnya. Saat memegang tubuh anaknya, dia merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Dirabanya denyut nadi dan dada anaknya. Seketika, para tetangga mendengar jeritan dan tangis dari rumah bu Harni, “ Yanto, anaaaaakku….!!!”.

Keesokan harinya, masyarakat desa mendapat kabar bahwa ternyata Lina, mantan kekasih Yanto yang tinggal di desa lain juga meninggal pada hari dan jam yang sama dengan Yanto karena terpapar virus Corona.

Salam

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post