Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
PORTAL BIASA TAK CUKUP , PORTAL MERIAM DI PASANG DI MAGETAN
imagesourcefrom.youtube.com

PORTAL BIASA TAK CUKUP , PORTAL MERIAM DI PASANG DI MAGETAN

PORTAL BIASA TAK CUKUP , PORTAL MERIAM DI PASANG DI MAGETAN

Oleh : E.A.Wahyudiono

Rasa-rasanya kejengkelan masyarakat terhadap banyaknya pelanggaran terhadap pemberlakuan PSBB ( Pembatasan Sosial Berskala Besar) di banyak daerah juga memicu kejengkelan masyarakat lainnya yang mematuhi anjuran tersebut.

Hal itu bisa dilihat dari contoh kasus berita dari Wonosobo yang sedang viral di mana seseorang pria paruh baya yang tidak bisa menahan marahnya, membongkar portal yang dipasang oleh petugas dalam mencegah penyebaran pandemi Corona. Portal tersebut dibongkar paksa oleh seorang bapak tersebut sambil berteriak kesana kemari kepada beberapa Polisi yang bertugas jaga di tempat itu.

Kesabaran para Polisi tersebut patut diapresiasi. Mereka tidak terpancing emosinya dan bahkan memberikan tepuk tangan serta mengambil gambar video kejadian tersebut tanpa melakukan tindakan kekerasan atau berusaha mencegahnya. Lucunya, saat sisi portal yang satu selesai dibongkar oleh bapak tersebut dan segera pindah ke sisi jalan lainnya, beberapa Polisi segera mengembalikan portal itu ke tempat semula. Kejadian yang terulang terus-menerus itu menimbulkan bahan hiburan bagi orang yang berada di situ.

Bagaimana dengan kejadian salah satu desa di Kota Magetan?

Tepatnya di dusun Dasun, desa Ringinagung, Kabupaten Magetan, Jawa Timur masyarakat setempat yang sudah jengkel terhadap begitu banyaknya pelanggaran untuk menjaga social distancing selama lebaran, mereka segera memasang portal meriam bambu sebagai pengganti portal buka tutup pada umumnya hanya untuk mengusir atau mencegah tamu yang berniat untuk datang selama masa PSBB.

Tidak tanggung-tanggung, masyarakat setempat akan melakukan pencegahan tersebut selama H+7 setelah lebaran. Tujuan mereka melakukan pemasangan portal meriam bambu tersebut karena tidak ingin desa di mana mereka bertempat tinggal menjadi terpapar wabah Corona yang terbawa oleh para pendatang.

Bila ada yang nekat atau memaksa masuk, dengan segera meriam bambu itu dibunyikan serempak. Bunyi letusan yang memekakan telinga tersebut membuat mereka yang datang menjadi takut dan harus segera putar balik.

Meriam bambu yang digunakan sebagai portal itu tidak membahayakan bagi tamu yang datang atau mereka yang menyulut sumbu meriam bambu. Itu semua dilakukan hanya sebagai bentuk pencegahan.

Apa pun namanya, masyarakat saat ini sudah diambang kejengkelan. Sebagian menaati dan sebagian lagi sudah tidak peduli dengan PSBB. Pemerintah dan masyarakat sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengikuti protokol kesehatan, namun ketidakdisiplinan hanya akan menambah kejengkelan bagi pihak lainnya.

Semoga semua bisa menahan diri dan tidak bertindak anarkis selama masa pandemi Corona ini dan juga Corona segera berlalu dari negeri yang makmur ini.

Salam

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post