SECERDAS APAPUN KITA INI, TETAPLAH MELAKUKAN KEKONYOLAN
SECERDAS APAPUN KITA INI, TETAPLAH MELAKUKAN KEKONYOLAN
Oleh : E.A.Wahyudiono
Waah, membaca judul artikel ini saja saya sudah merasa membuat kesalahan dalam berbahasa yang baik. Kenapa kesalahan bisa kita terima? Jelas karena kita tak berdaya mengubahnya dan malah ikut-ikutan menggunakannya. Juga dalam kehidupan sehari-hari ada banyak contoh yang akan diulas, namun karena keterbatasan, anda bisa menambahkan sendiri jika mengetahuinya ya.
Semestinya seorang murid akan memanggil nama guru mereka dengan panggilan “Pak” atau Ibu”, boleh juga “Pak guru atau Bu guru”. Namun, anda membiarkan siswa anda memanggil nama guru dengan nama sebutan mata pelajaran yang diampu oleh guru tersebut. Sebagai misal, “ Pak Fisika, Bu Bio (Biologi), Pak Geo” Hal itu sering terjadi saat ada murid yang saya tanya,”Jamnya pak atau bu siapa saat ini?" Juga masih banyak contoh lagi. Lucunya, semua menerima.
Kenapa, saat anda haus dan ingin minum air mineral, selalu mengatakan aqua yang padahal itu adalah merk minuman. Padahal yang ada di tangan anda jelas-jelas berbeda. Anehnya, semua juga menerima saja tuh.
Parahnya lagi, saat pompa air di rumah kita rusak, semua orang selalu mengatakan,” Maaf, sementara tidak ada air di rumah ini karena Sanyonya (maaf, menyebut merk) rusak", yang padahal merk pompa airnya yang rusak tadi bukanlah Sanyo, bisa jadi yang lainnya, namun hal itu juga kita terima saja.
Ada yang lebih parah, saat kita naik sepeda kayuh dan mengalami ban bocor, pastilah langsung berhenti. Mau tahu yg lucu? Kenapa otak kita menjadi lambat merespon daripada tangan yang dengan segera menekan-nekan ban yang kempis atau bocor tadi. Kita pasti sudah tahu, jika ban kempis, ditekan sekalipun juga tidak ada anginnya kan? Toh itu juga kita lakukan.
Kasus serupa saat tangan anda kena kotoran ayam. Mestinya ya segera dicuci bersih, lucunya lagi malah tangan yang kotor anda tadi didekatkan ke hidung untuk dibaui. Bisa jadi anda lakukan dua atau tiga kali. Ampun deh !
Yaah, itulah kelucuan dalam hidup ini. Sesekali cobalah untuk merenung betapa lugu dan naifnya kita walaupun disebut sudah pintar sekalipun tetaplah sisi konyol dari kita juga muncul. Tidak peduli kita orang yang berpendidikan atau tidak, pastilah hal itu juga pernah kita lakukan.
Seperti artikel saya tentang wajib militer untuk lulusan SMA sederajat 3 hari yang lalu yang memberikan contoh ikut bela negara atau militer di beberapa negara maju. Nah, saya juga mendapat pertanyaan dari rekan,” Lho di Thailand ternyata juga ada ABRI nya ya, pak?”. Jika anda jadi saya, apa yang harus anda jawab dan jelaskan?
Kita tahu hal itu salah, tapi ikut-ikutan melakukannya juga kan?. Contoh lainnya lagi, secerdas apapun, saat lampu lalu lintas berwarna merah ya harusnya berhenti, bukan malah ngebut mengekor mobil di depan kita, namun banyak dari kita yang berpendidikan tinggi juga melanggarnya alias menerobos traffic light itu.
Bila ditanya polisi yang mengetahui pelanggaran kita itu,”Saudara tahu arti lampu merah tapi kenapa tetap menerobos saja?’ Hanya untuk menunjukkan bahwa kita cerdas, kita jawab,” Maaf, saya sebenarnya tahu arti lampu merah itu, yaitu harus berhenti, namun yang tidak saya tahu, bapak tadi berdiri di mana? Nah, itu yang saya tidak tahu, pak !”
Salam
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
