Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
TERIMAKASIH PAK INDRA CHARISMIADJI ATAS KRITIKANNYA PADA KAMI, PARA GURU
imagesourcefrom.success.com

TERIMAKASIH PAK INDRA CHARISMIADJI ATAS KRITIKANNYA PADA KAMI, PARA GURU

TERIMAKASIH PAK INDRA CHARISMIADJI ATAS KRITIKANNYA PADA KAMI, PARA GURU

Oleh : E.A.Wahyudiono

Saya sempat merenung sejenak saat membaca artikel yang disampaikan oleh bapak Indra Charismiadji bahwa guru Indonesia disebutkan anti menerima kritik dan hanya ingin mendapatkan gaji besar serta mempunyai kualitas yang rendah. Berita yang mengejutkan itu segera memicu adanya polemik nasional. (**(censored)**)

Apa yang disampaikan oleh Pak Indra yang juga sebagai pengamat dan praktisi pendidikan dari CERDAS (Center for Education Regulations & Development Analysis) seketika menuai kecaman dan kritik balik dari PGRI, individu dan pengamat pendidikan lainnya. Bahkan, Ketua PB.PGRI ( Persatuan Guru Republik Indonesia), Pak Dudung Nurullah Koswara menuliskan bahwa pernyataan Pak Indra tersebut telah menyakiti perasan 3 juta guru seluruh Indonesia.

Benarkah guru Indonesia anti kritik, mengharapkan gaji besar dan tidak berkualitas?

Pertama. Jika disebutkan bahwa guru anti kritik, hal itu sama sekali tidak mendasar dengan perkembangan dunia pendidikan yang transparan dewasa ini. Semua guru seluruh Indonesia justru mengharapkan adanya kritik yang membangun. Alih-alih memberikan kritik positif dari mereka yang mengaku sebagai pengamat pendidikan justru malah memberikan solusi yang tidak solutif pada permasalahan yang ada di seputar dunia pendidikan itu sendiri. Bisa dikatakan hanya semakin memperkeruh suasana yang sudah tidak kondusif karena banyak permasalahan dalam pembelajaran daring (dalam jaringan) dikarenakan untuk mencegah penyebaran wabah Corona.

Saya tidak bisa memahami, mengapa seorang pengamat tingkat nasional bisa meletakkan dirinya menjadi lebih pandai daripada para guru yang langsung terjun di sekolah dan mengajar berhadapan langsung dengan para anak didik.  Guru sudah direcoki dengan segala permasalahannya apakah itu  penghasilannya, baik masalah individu murid maupun juga banyaknya urusan administrasi kelembagaan. 

Ibaratnya, para guru adalah pemain sepakbola pendidikan dan pengamat adalah komentatornya. Saat ada tendangan sudut karena ada pelanggaran dalam tanda kutip sepak bola pendidikan dan gawang tim guru akhirnya kebobolan, tidak bisa serta merta pengamat lantas mengatakan. “ Sehrusnya, semua pemain baik yang di garis serang maupun  di gelandang tengah segera mundur semua untuk membantu kiper dengan cara menutup rapat gawang agar bola tidak bisa masuk gawang kesebelasan guru”.

Nah, anda cari sendiri di mana logikanya ?  Mending yang menjadi komentatornya adalah Cak Kartolo dengan saran yang lebih jitu,:” Seharusnya, pemain guru membawa tripleks, jadi saat ada tendangan sudut yang mengarah ke gawang guru, cukup ditutup tripleks”. Jika niatnya hanya untuk lucu-lucuan saja dan ingin terkenal menjadi viral, saya juga akan berusaha memahaminya. 

Kedua disebutkan bahwa guru hanya ingin gaji besar. Sebentar, besar kecilnya gaji seorang guru itu sangat relatif. Apakah pak Indra tahu berapa gaji guru honorer? Cuma 300 ribu rupiah per bulan. Namun jika itu dianggap jumlah yang besar karena pekerjaan guru dianggap ringan saja, yaitu tidur-tiduran, santai dan digaji, anda telah salah besar. Hampir ada 1 juta guru dari 3 juta yang masih menerima gaji atau honor di bawah UMR (Upah Minimum Regional) dari pada pegawai pabrik. 

Coba amati, jika melihat pegawai baik yang ASN guru atau pun honorer, saat berangkat kerja pastilah punggung dan sepeda motor mereka penuh gantungan tas ransel yang berisi entah buku pelajaran, lembar hasil koreksi ulangan ataupun laptop untuk mengajar materi pelajaran di kelas. 

Sekarang amati para pegawai negeri lainnya, apakah ada yang membawa tas ransel di punggungnya? Apakah ada yang naik sepeda motor atau mobil dengan pelat warna merah untuk para guru?  Maaf, saya tidak bermaksud membandingkan para ASN guru dan non-guru, namun itu kenyataan ini memang ada dan para guru juga tidak protes dalam menjalankan TUPOKSI-nya (tugas pokok dan fungsinya) dalam mengajar.

Siapa pun pasti menginginkan gaji yang tinggi termasuk juga guru, namun tidak semua guru bisa mendapatkan tunjangan pendidik sebesar satu kali pokok gaji. Bagi mereka yang sudah memenuhi syarat, misalnya lulus PLPG, mengajar mapel linier 24 jam seminggunya dan masih banyak klausa lainnya akan menerima tunjangan itu.  Di luar syarat yang ditentukan tersebut, masih banyak guru yang tidak atau belum menerimanya.

Bila dibandingkan dengan ASN non-guru, mereka menerima tunjangan makan minum, ada remunerasi atau tunjangan kinerja, tunjangan jabatan, tunjangan perumahan dan kendaraan. Pernahkah jenis tunjangan tersebut kita temukan dalam gaji atau penghasilan dengan status guru?

Ketiga adalah kualitas guru yang rendah. Saya jadi merenung dan bertanya-tanya dalam hati apa yang dimaksud dengan kualitas rendah di sini? Pendidikannyakah? Kualitas mengajarnyakah ? Juga, apakah semua guru, ataukah sebagian guru? Itu semua masih menjadikan pertanyaan dalam diri saya pada pak Indra.  Kita tahu bahwa para guru disyaratkan untuk mempunyai 4 aspek kompetensi, yaitu akademis, profesionalisme, pribadi dan sosial. Anda cari ASN yang dalam kegiatannya harus merencanakan kegiatan, melaksanakan kegiatan, mengevaluasi hasil kegiatan dan follow up-nya. Hanya satu jenis pegawai yang mempunyainya. yaitu pekerjaan guru.

Apalagi saat guru harus meningkatkan kemampuan akademisnya. Banyak dari mereka yang menyelesaikan kuliah S2 dan S3 nya dengan biaya mandiri semata demi peningkatan kualitas diri mereka sendiri dalam kelancaran pelaksanaan tugas sebagai pendidik. Apakah hal itu tidak diperhitungkan?

Jika negara ini ingin menjadi bangsa yang besar, hal yang pertama adalah memperhatikan nasib guru. Guru tidak anti-kritik, bahkan saya pribadi menyampaikan apresiasi atas kritikan yang diberikan pak Indra karena dengan begini kita semua tahu bahwa kemerosotan pendidikan tidak bisa semata dibebankan semua pada guru.

Mereka berusaha ikhlas dalam menjalankan tugasnya, guru juga tidak ingin selalu dihormati, namun juga janganlah selalu direndahkan. Kita semua bisa pandai saat ini karena mereka, para guru kita sebelum dan sebelumnya lagi.

Salam

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post