Terjemahan Jurnal Etika dalam administrasi sekolah
TERJEMAHAN JURNAL DARI :
African Journal of Business Manajemen Vol.3 (4), hlm 126-130, April 2009
Tersedia online di **(censored)**
ISSN 1993-8233 © 2009 Jurnal Akademik
diterjemahkan oleh : Eko Adri Wahyudiono
Ringkasan
Etika dalam administrasi sekolah
1).Ibrahim Kocaba dan 2).Turgut Karaköse
Ket.
1).Fakultas Pendidikan Teknik, Universitas Firat, Elazı ₣, Turki.
2).Fakultas Pendidikan, Departemen Pendidikan Sains, Universitas Dumlupinar, Kütahya, Turki.
Etika adalah sebuah konsep tentang nilai-nilai moral dan aturan. Etika kepemimpinan kepala sekolah adalah hal yang sangat penting dalam organisasi pendidikan. Tanggung jawab yang paling penting dari pelaku sekolah adalah memiliki persepsi yang beretika dalam administrasi sekolah. Makalah ini menyajikan konsep kerangka kerja tentang etika dalam administrasi sekolah. Kepala sekolah memiliki tanggung jawab tertentu dan mereka harus berperilaku etis saat membuat keputusan. Makalah ini menekankan perlunya menetapkan kode etik dan berperilaku sesuai dengan kode ini bagi para pemimpin sekolah. Penelitian ini memberikan ringkasan singkat tentang beberapa dilemma atau masalah etika yang dihadapi kepala sekolah. Terkait istilah dalam penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah adalah yang paling membutuhkan pengembangan profesional di pembuatan keputusan yang beretika.
Kata kunci: Etika, etika dalam pendidikan, kepala sekolah, administrasi sekolah
PENDAHULUAN
Etika adalah istilah modis dan sangat mungkin untuk melihatnya di hampir setiap profesi. Etika dalam pendidikan khususnya dalam administrasi sekolah berkaitan dengan pendidikan tindakan yang terjadi di sekolah. Sekolah adalah institusi pendidikan dan administrator sekolah memiliki peran penting dalam mengelola sekolah. Keberhasilan sekolah dan dtingkat tercapainya tujuan pendidikan tergantung pada kepala sekolah dan kepemimpinannya secara efektif. Untuk dapat menciptakan sekolah yang efektif dan mengelolanya dengan baik adalah dimungkinkan dengan kode etik. Tujuan utama dari makalah ini adalah untuk memberikan gambaran umum tentang etika di administrasi sekolah.
ETIKA DAN SEKOLAH
Etika kata dapat dengan sederhana didefinisikan sebagai ilmu benar dan salah, ilmu prinsip-prinsip moral, pengetahuan akan prinsip-prinsip moral dan perilaku. Ini tidak hanya menganalisa, mengklasifikasikan, menggambarkan dan menjelaskan tindakan manusia sebagai baik atau buruk, tetapi juga membantu kita tahu mengapa dan apa dasar penilaian kami dari tindakan manusia yang dibenarkan (Kizza, 20 -07).
Masalah etika merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari di sekolah. Mereka sering timbul dari keputusan yang membutuhkan penilaian tentang melakukan hal yang benar, atau mengatakan yang baik atau hal terbaik dalam situasi tertentu. Meskipun melakukan hal yang benar tampaknya cukup mudah pada kebanyakan ketika secara etika situasi sulit itu muncul, hal itu dapat menyebabkan individu untuk mempelajari etika dalam prakteknya (Campbell, 2004).
Penting untuk diingat bahwa sekolah tidak pernah menjadi suatu tempat, yang mampu menangkal efek dari kecenderungan yang muncul di masyarakat yang lebih luas. Namun, sama pentingnya untuk memahami bahwa sekolah sekarang tunduk pada dampak dari perubahan global yang pilar pendukung mereka membutuhkan tanggapan pihak setempat dengan cepat . Sekolah akan kena banyak perubahan - perubahan, dan dengan demikian, sekolah akan menjadi semakin mandiri dalam mengelola lingkungan, kepala sekolah telah mulai lebih merasakan tekanan pada pundaknya ketika berhadapan dengan situasi etika yang kompleks (Dempster dan Berry, 2003).
Dalam beberapa tahun terakhir, praktek etika telah menjadi topik diskusi yang popular di banyak bidang profesional, termasuk pendidikan. Puluhan artikel dan bab telah ditulis selama 20 tahun terakhir pada etika praktek di bidang pendidikan, termasuk perdebatan tentang keinginan dan kelayakan perkembangan kode etika (Gordon dan Sork, 2001).
Saat ini masyarakat professional telah mengembangkan kode etik untuk membuat lebih spesifik terhadap kode moral yang secara khusus berlaku untuk situasi mereka. Kode moral harus idealis dan juga praktis, sehingga dapat diterapkan untuk semua administrator pendidikan. Beberapa profesi memiliki kode tertentu dan kode etika yang rinci yang kadang menjadi hukum (Haynes, 1998).
ETIKA DAN ADMINISTRASI SEKOLAH
Konsep pemerintahan menggabungkan empat masalah mendasar :
Bagaimana organisasi dikelola untuk mengoptimalkan penampilan dan akuntabilitas. Bagaimana nilai-nilai dan tujuan yang tercermin pada system dan struktur yang dibuat. Bagaimana para pemimpin membangun hubungan yang menimbulkan komitmen bagi mereka yang bekerja dengan dan untuk mereka sendiri. Bagaimana penerapan kepemimpinan secara resmi diterapkan dalam pelaksanaan organisasi bisnis (Karri et al., 2005).Dalam konteks sekolah, kepala sekolah adalah bertanggung jawab untuk keempat masalah mendasar. Oleh karena itu kepala sekolah harus mengintegrasikan dirinya, keterampilan manajerial dengan kode etika yang semua staf telah menyetujui. Semua personil sekolah, tentu saja, bertanggung jawab untukmenciptakan dan mempertahankan masyarakat yang kondusif dalam akademis, pembelajaran emosional dan sosial, tetapi kepala sekolah adalah arsitek utama dan promotor dari standar nilai-nilai dan menjamin segala sesuatu dan semua orang dalam fungsi membangun sekolah sesuai dengan standar etika tertinggi.(Harsh dan Casto, 2007).
Program pendidikan bertempat di organisasi sekolah seharusnya melayani tujuan moral (pengasuhan dari pertumbuhan manusia, sosial dan intelektual anak-anak). Jadi, meskipun administrator pendidikan melakukan banyak hal umum untuk semua administrator, kegiatan ini yang ditujukan untuk mempromosikan tujuan pendidikan dari lembaga atau institusi (Starrat, 1991).
Jaman sekarang, moral kepemimpinan sangatlah penting bagi setiap organisasi dari semua jenis dan di seluruh pelosok masyarakat. Administrator memainkan peran penting dalam masyarakat sebagai pemimpin dan model peran bagi siswa saat ini, tetapi juga pemimpin masa depan ini. Untuk menciptakan masyarakat bermoral, mereka yang berhasil sekolah dan bagian bisnis harus berinvestasi dalam melanjutkan dialog tentang tugas etika mereka kepada masyarakat dan dengan sungguh-sungguh memeriksa baik peran dan manfaat yang dapat berasal dari menghormati tanggung jawab kepemimpinan yang beretika (Caldwell dan Jeane, 2007).
KODE ETIK UNTUK PARA KEPALA SEKOLAH
Etika berkaitan dengan tindakan-tindakan yang biasanya terlihat sebagai benar atau salah. Menampilkan pilih kasih dalam mempekerjakan seorang rekan yang berkulit putih atas orang yang berkulit hitam adalah tindakan yang diskriminatif. Kita dapat mengatakan bahwa itu jelas salah arah. Seorang pemimpin yang beretika tidak hanya bermaksud untuk melakukan hal yang benar tetapi juga untuk melakukan hal yang benar. Administrator sekolah yang perilakunya secara konsisten bertindak secara moral dan karenanya dia menghargai keadilan sosial (Glanz, 2006).
Jika administrator sekolah tidak konsisten dan berperilaku sewenang-wenang, ini menyebabkan dia kehilangan kepercayaan antara staf sekolah dan lainnya dan sebagai dampak alaminya, keputusan yang diambil oleh para administrator menjadi hal yang kontroversial.
Etika tampaknya menjadi bagian dari pekerjaan. Para administrator yang dipandang tidak adil, tidak manusiawi, atau berubah-ubah dalam keputusan mereka biasanya mendapatkan sendiri banyak masalah dalam pekerjaan mereka. Memang, ni menjadi pengalaman kita bahwa administrator dimungkinan untuk gagal karena mereka dipandang tidak efisien. Para administrator yang tidak adil itu akan segera dihadapkan dengan keterbukaan, kesetaraan, keadilan, dan demokrasi sebanyak yang mereka berurusan dengan nilai tes, gaji guru,orang tua, dan anggaran (Strike et al, 2005.).
Memang, itu adalah bagian penting untuk reputasi sekolah bahwa mereka memiliki etika budaya. Bila dilihat dari perspektif barang, kepuasan dan motivasi mereka menyangkal akan ditingkatkan ketika mereka merasa bahwa mereka bekerja di sebuah sekolah yang dijalankan dengan pendekatan etika. Oleh karena itu, kepala sekolah harus memikirkan tanggung jawab etis mereka untuk guru; harus menghormati hak-hak individu mereka dan harus adil (Karaköse,2007).
Jelaslah bahwa perilaku yang beretika membantu menciptakan iklim sekolah yang amanah. Dalam iklim sekolah tidak hanya staf sekolah tetapi juga siswa memiliki manfaat besar dari proses pendidikan. Banyak organisasi-Assosiasi Adminsitrator sekolah Amerika (AASA, 1993), Assosiasi Nasional dari Kepala Sekolah Dasar (NAESP, 1976), Asssosiasi Kepala Mekolah Menengah (NASSP, 2001), dan Dewan Nasional untuk Akreditasi Pendidikan Guru (NCATE) melalui keanggotaan pada Kebijakan Nasional Badan Administrasi Pendidikan (NPB-EA, 2002) - telah diartikulasikan berbagai perilaku yang beretika, diharapkan bagi para pemimpin yang berpendidikan. Banyak negara juga telah menerbitkan kode etik bagi para pemimpin pendidikan (Houledan Gimas, 2006).
Dewan sekolah perlu mengembangkan sendiri kode etik mereka yang tidak hanya untuk mengurangi risiko perilaku yang tidak etis, tetapi juga untuk memperkuat ikatan kerjasama profesi sehingga sangat diperlukan dalam setiap organisasi apapun. Sejak awal, para Dewan perlu mengenali bahwa bahwa proses itu dapat dihargai tapi seringkali sulit. Hal ini terjadi karena masalah etika, menurut sifatnya, dapat menjadi hal yang kontroversial (NSBA, 1997). Meskipun perkembangan kode etik sulit pada awal proses, itu memfasilitasi pekerjaan sekolah baik pihak adimintrasi maupun kerja personil di sekolah. Staf sekolah dapat mencapai etika yang terstandar bagi keputusan mereka. Assosiasi Administartor Sekolah Amerika (AASA) menetapkan daftar bagi para kepala sekolah bahwa mereka harus sesuai, Rebore (2001), dengan daftar kode etik seperti di bawah ini.
Administrator pendidikan:
Membuat kesejahteraan para siswa sejahtera secara nilai mendasar dari semua pengambilan keputusan dan tindakan. Memenuhi tanggung jawab secara profesional dengan kejujuran dan integritas. Mendukung prinsip process dan melindungi hak sipil dan hak asasi manusia dari semua individu. Mematuhi hukum lokal, negara bagian, dan hukum nasional dan tidak secara langsung bergabung atau mendukung organisasi yang menganjurkan baik langsung ataupun tidak langsung untuk penggulingan pemerintah. Menerapkan dewan yang mengatur kebijakan pendidikan dan aturan administrasi dan peraturannya Mengejar tindakan yang tepat untuk memperbaiki hukum-hukum, kebijakan, dan peraturan yang tidak konsisten selaras tujuan pendidikan. Menghindari penggunakan posisi untuk keuntungan pribadi melalui politik, sosial, pengaruh agama, ekonomi, atau lainnya. Menerima gelar akademis atau sertifikasi profesional hanya dari lembaga terakreditasi yang sepatutnya. Mempertahankan standar dan berusaha untuk meningkatkan keefektifan profesi melalui penelitian dan meneruskan pengembangan profesional. Menghormati semua aturan kontrak sampai pemenuhan atau penyelesaian.Afr. J. Bus. Manage.
1. Apakah ini kode etik bermanfaat bagi kepala sekolah?
2. Apakah mereka memfasilitasi pekerjaan mereka? Jawaban kami adalah cukup sederhana. Dan,
3. Tentu saja, ya. Tanpa kode yang ditetapkan, akan benar-benar sulit untuk membuat keputusan yang beretika.
DILEMA ETIKA YANG DIHADAPI OLEH PEMIMPIN SEKOLAH
Pemimpin pendidikan mungkin sering dihadapkan dengan pilihan yang meminta mereka untuk membuat keputusan. Semua keputusan ini mungkin tidak memiliki potongan solusi yang tepat atau jelas dan cenderung sangat bermasalah. Itulah sebabnya, kepala sekolah sering menghadapi dilema etika. Singkatnya, dilema etika berasal dari dari situasi yang memerlukan satu pilihan diantara persaingan prinsip-prinsip, nilai-nilai, keyakinan, perspektif (Cranston et al., 2003).
Sebuah dilema etika bukanlah pilihan antara salah dan benar. Ini adalah pilihan antara dua hak seperti yang dinyatakan oleh Rushworth Kidder (1995). Memutuskan apakah sumber sumber yang langka harus mengikuti kurikulum yang diberikan atau pencegahan Program outus sekolah akan merupakan dilema dan ini adalah sangat menantang untuk para kepala sekolah (Lashway, 1996).
Kepala sekolah menghadapi beberapa masalah etika terutama tentang karyawan, siswa, keuangan dan masalah hubungan dengan masyarakat. Kode etik dibuat untuk membantu kepala sekolah dan menunjukkan bagaimana untuk berperilaku yang beretika. Kita bisa melihat detail dalam Gambar 1 atas menunjukkan masalah etika yang dihadapi para kepala sekolah. Dempster dan teman-temannya mendapatkan hasil ini setelah mereka melakukan survey dengan kepala sekolah yang bekerja untuk Pendidikan di Queensland di Australia.
Seperti terlihat jelas pada Gambar 2 atas, keputusan tentang etika yang paling umum yang dibuat tentang karyawan sekolah. Hubungan luar merupakan bagian yang paling dalam gambar seperti di lingkungan sekolah dimana interaksi siswa dan karyawan sekolah terjadi lebih intensif.
PEMBUATAN KEPUTUSAN YANG BERETIKA; APAKAH INI KHAYALAN ATAU KENYATAAN UNTUK PARA KEPALA SEKOLAH ?
Manusia adalah agen moral. Mereka bertanggung jawab untuk pilihan mereka, dan mereka memiliki kewajiban untuk membuat pilihan-pilihan dengan cara bertanggung jawab secara moral. Jadi sangat penting bahwa orang-orang dapat mencerminkan etika pada pilihan mereka dan tindakan mereka. Hal ini terutama penting ketika individu memiliki kekuasaan dan pengaruh terhadap kehidupan orang lain. Kita bisa memikirkan beberapa bagian di mana itu lebih penting daripada hanya diurusan administrasi sekolah (Strike et al, 2005.).
Pengambilan keputusan adalah proses yang penting untuk administrasi sekolah. Dalam konteks sekolah, kepala adalah pembuat keputusan utama di sekolah. Oleh karena itu keputusan yang beretika atau tidak secara langsung akan mempengaruhi iklim sekolah secara positif atau negatif.
Dapat dikatakan bahwa penyebab kurangnya keputusan yang beretika seringkali sama dengan penyebab buruknya keputusan secara umum, keputusan mungkin didasarkan pada teori ketidakakuratan tentang dunia ini, tentang orang lain atau tentang diri kita sendiri. Pengambilan keputusan yang beretika dapat diperbaiki dengan cara yang sama bahwa pengambilan keputusan yang umum ditngkatkan (Messick dan Bazerman, 1996). Ini adalah fakta yang tak terbantahkan bahwa administrasi sekolah harus mempertimbangkan semua konsekuensi dari tindakan mereka yang telah direncanakan.
Komives (1998) menunjukkan lima prinsip dalam membuat keputusan yang beretika. Itu adalah;
i.) Menghormati otonomi.
ii.) Tidak melakukan hal yang membahayakan.
iii.) Berlaku adil.
iv.) Menguntungkan orang lain.
v) Setia (Glanz, 2006).
Dengan memperhatikan Gambar 2 di atas, kita bias menyimpulkan bahwa sejumlah besar para kepala sekolah perlu mendapatkan pelatihan profesionalisme karena mereka dinyatakan sebagai pengambil keputusan yang beretika. Hal ini dapat dikatakan bahwa kepala sekolah harus lebih siap untuk menanggapi tantangan kepemimpinan sekolah yang kontemporer melalui pendekatan pengembangan profesional yang memperhitungkan manajemen berbasis sekolah yang sangat kompleks secara etika.(Dempster et al., 1998).
Untuk tata kelola sekolah yang beretika, ini perlu bahwa kita perlu kepala sekolah yang berkualitas yang memiliki pelatihan khusus yang berkaitan dengan pengambilan keputusan yang beretika. Sekolah-sekolah dan perguruan tinggi harus memberikan pelatihan yang diperlukan ini dan dukungan untuk para administrator dengan cara yang kooperatif
Kesimpulan
Administrator pendidikan yang seharusnya mengelola tidak hanya sebuah organisasi semata tetapi merupakan organisasi pendidikan. Administrasi pendidikan yang beretika adalah tentang para administrator dalam membangun lingkungan yang beretika. Oleh karena itu para adminstrator harus memiliki tanggung jawab moral dan diharapkan sesuai standar etika (Starrat, 1991). Memiliki moral yang tanggung jawab dan standar etika merupakan elemen yang penting; bagaimanapun tanpa praktek nyata, mereka tidak ada artinya.
Sebuah kode etik itu sendiri, tentu saja, tidak dapat menjamin etika secara prakteknya atau menjadi obat-semua untuk masalah-masalah lain dalam satu profesi. Memiliki harapan tersebut adalah kesalahan yang utama sebuah tujuan kode etik . Sebuah kode etik ditujukan untuk menjadi satu profesi yang terbaik. Ini adalah idealism dari sisi suatu profesi, Sebuah proyeksi visi dari identitas profesional yang sebagaimana seharusnya (Connely dan Light,1991).
Akhirnya, kepala sekolah memiliki peran penting dalam mengelola sekolah karena mereka adalah pengambil keputusan utama, mereka pemimpin sekolah, dan mereka memiliki tanggung jawab lebih dari pada para yang dimiliki karywan lainnyai. Oleh karena itu perilaku etis para kepala sekolah dan keputusannya secara langsung akan mempengaruhi iklim sekolah secara positif. Kepala sekolah harus mematuhi kode etik dan selalu memikirkan pertama kali dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan para siswa. Dalam keberhasilan lingkungan sekolah yang beretika adalah hasil pasti dari proses pendidikan
REFERENSI
Caldwell C, Jeane L (2007). "Etika kepemimpinan dan membangun kepercayaan - Meningkatkan bagian untuk bisnis ", J. Acad. Etika. 5 (1): 1 - 4.
Campbell MA (2004). "Apa yang harus dilakukan? Sebuah eksplorasi masalah etika untuk kepala sekolah dan konselor sekolah ", Principia: J. Queensland Prinsipal Sekunder 'Assoc. 1: (7-9).
Connely RJ, Light KM (1991). "Sebuah kode etik interdisipliner untuk pendidikan orang dewasa ", Triwulanan Pendidikan Orang Dewasa. 41 (4): 233-240.
Cranston N, L Ehrich, Kimber M (2003). "Keputusan yang 'benar' ? Terhadap pemahaman tentang dilema etika bagi para pemimpin sekolah ", Westminster Studi di Pendidikan. 26 (2): 135-147.
Dempster N, Berry V (2003). "Blindfolded di Minefield: 'Prinsip etika pengambilan keputusan ", Cambridge J. Educ. 33 (3): 457-477.
Dempster N, Freakley M, L Parry (1998). "Sebuah studi pengambilan keputusan yang beretika dari para kepala sekolah ",Diakses 14 November 2008, dari **(censored)**
Glanz J (2006). "Apa kepala setiap orang harus tahu tentang etika dan kepemimpinan rohani ", Thousand Oaks: Corwin Press: California.
Gordon W, Sork TJ (2001). "Etika dan Kode Etik: Views Praktisi Pendidikan Orang Dewasa di Kanada dan Amerika Serikat ", Adult Education Quarterly, 51 (3): 202 - 218.
Harsh S, Casto M (2007). " Kode etik Profesional: dan Prinsip kepala sekolah ", Diakses 1 November 2008, dari The Ohio State Universitas, Itu Kepala Sekolah Kantor Jaringan situs: **(censored)**
Haynes F (1998). "Etika Sekolah ", Routledge: London.
Houle JC, Gimas PC (2006). "Membangun kapasitas untuk kepemimpinan yang beretikadi program pascasarjana untuk persiapan kepemimpinan pendidikan ", Aasa J. Beasiswa dan Praktek. 3 (1): 11-17.
Karaköse T (2007). "Pandangan Guru sekolah tinggi terhadap etika kepemimpinan kepala sekolah di Turki ", Asia Pac. Educ. Rev 8 (3): 464-477.
Karri R, C Caldwell, Antonacopoulou EP, Naegle DC (2005). "Membangun keperpercayaan di bisnis sekolah melalui pelaksanaan yang bertika ", J. Acad. Etika. 3 (2/4): 159-182.
Kizza JM (2007). "Etika dan isu sosial di era informasi", Ketiga Edition. New York, NY: Springer-Verlog. Lashway L (1996). "Etika Kepemimpinan", Diakses 8 November 2008, dari **(censored)**
Messick DM, Bazerman MH (1996). "Etika kepemimpinan dan psikologi dalam pengambilan keputusan ", Sloan Manage. Wahyu 37 (2): 9-22
Nasional Dewan Sekolah Association (NSBA) (1997). "Etika Administrasi Sekolah ", Memperbarui Kebijakan Dewan Sekolah. 28 (2): 3-7.
Rebore RW (2001). "Etika kepemimpinan pendidikan", Upper Saddle River, New Jersey: Merrill / Prentice Hall.
Starrat RJ (1991) "Membangun etika sekolah :. Sebuah teori untuk praktek di kepemimpinan pendidikan ", Educ. Adm Q. 27 (2): 185-202
Strike KA, Emil JH, Jonas FS (2005). "Etika Administrasi Sekolah "Edition, Ketiga, Teachers College Press: New York
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
