HANYA GEDUNG SEKOLAH YANG TIDAK ROBOH SAAT DI BOM ATOM
HANYA GEDUNG SEKOLAH YANG TIDAK ROBOH SAAT DI BOM ATOM
Oleh : E.A.Wahyudiono
Seminggu pertama selama saya tinggal di Kota Nagasaki, Jepang, hal yang harus saya kerjakan adalah menyelesaikan semua urusan adminstrasi. Dengan dibantu oleh pihak kampus, saya menyiapkan dokumen pribadi untuk pembuatan kartu ATM Bank, kartu mahasiswa, kartu perpustakaan dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Kota Nagasaki.
KTP yang hanya ditunggu selama 20 menit, ternyata sudah bisa langsung saya terima hari itu juga. Saat mengamati KTP Nagasaki, di situ tertulis bahwa saya sebagai Alien ID Card dengan status mahasiswa. Wow, jadi ingat film Alien, makhluk ganas luar angkasa. Setelah saya memastikan bahwa data nama saya dan lainnya yang dicetak dalam huruf Jepang sudah benar, saya diberikan kesempatan untuk bertanya oleh pegawai di balai kota Nagasaki tersebut tentang ID Card saya yang baru itu.
Hal pertama yang saya tanyakan adalah pada KTP yang baru saya terima tertulis bahwa Refugee Area tertulis Sekolah Dasar Nishimachi yang terletak di belakang asrama mahasiswa internasional tempat dimana saya tinggal. Sesuai dengan penjelasan dari pegawai tersebut bahwa di Nishimachi yang artinya kota sebelah barat,ternyata mempunyai tempat untuk mengungsi jika terjadi bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, kebakaran dan banjir dan diingatkan bahwa tempat saya mengungsi adalah di aula SD Nishimachi tersebut.
Ternyata manajemen bencana di Jepang sudah tertata secara sistematis bagi semua warganya. Pada umumnya, tempat untuk mengungsi bila ada bencana, ternyata di aula semua sekolah yang ada di daerah atau wilayah di mana warganya tinggal. Setiap kota, pasti dibagi berdasarkan penjuru mata angin dan minimal ada 5 wilayah, yaitu Nishi (barat), Higashi (timur), Chu atau Naka (tengah), Kita (Utara) dan Minami (Selatan). Sedangkan machi artinya kota. Higashimachi artinya kota sebelah timur juga ada Kitamachi, Minamimachi dan seterusnya
Kenapa banyak gedung sekolah di Nagasaki tidak roboh saat bom atom dijatuhkan sekutu?
Ternyata, gedung di sekolah di Jepang, semuanya dibangun untuk banyak tujuan dengan fasilitas yang sangat lengkap. Salah satunya adalah refugee shelter (tempat perlindungan atau tempat pengungsian) baik dalam situasi bencana ataupun perang. Bangunannya sangat kokoh dan hampir semua desain dari gedung seluruh negeri Jepang pasti sama. Gedung SD,SMP ataupun SMA mempunyai 3 tingkat dan bangunan tengah dibuat bujursangkar yang ternyata untuk tempat helipat (pendaratan helikopter) untuk mengirim bahan makanan bagi pengungsi bila ada bencana.
Bangunan sekolah di Jepang terletak di tempat atau tanah yang agak tinggi dibanding bangunan lainnya. Bilamana terjadi bencana banjir, sekolah adalah tempat pengungsian yang paling aman termasuk juga tahan gempa dan bom sekalipun. Bila terjadi peristiwa bencana, warga harus mengetahui di mana wilayah tempatnya berdasarkan KTP nya. Jangan pergi pada shelter yang tidak seperti tertera di KTP, karena akan mengacaukan sistem penanganan bencana.
Hal itu dikandung maksud untuk memudahkan petugas untuk mengetahui berapa warga yang sudah melapor dan selamat sehingga dengan cepat bisa diketahui data para korbannya. Semua catatan itu sudah ada dengan data nama, serta alamat sesuai manifest data pengungsi yang sudah ditentukan sebelumnya oleh pemerintah setempat. Juga, saat mengungsi tidak perlu membawa apa-apa, karena semua sudah disediakan di dalam aula sekolah mulai dari obat-obatan, makanan kering, lampu, selimut dan banyak lainnya.
Sebagai misal, di SD Nishimachi yang mampu menampung 500 warga, nama mereka sudah ditentukan di sana. Juga bahan bantuan makanan, akan bisa dikirim sesuai jumlah pengungsi yang ada di shelter pengungsian tersebut. Bila tidak memungkinkan lewat jalur darat, bahan makanan akan dikirim lewat helikopter dan mendarat di atas gedung sekolah tersebut.
Tidak kalah pentingnya lagi, secara berkala semua anak sekolah dan warga Jepang tidak terkecuali siapapun harus mengikuti dan melakukan simulasi gempa atau kebakaran termasuk juga para mahasiswa asing yang tinggal di asrama. Sehingga saat bencana datang, semua sudah tertib sesuai dengan prosedur latihan yang pernah dilakukan. Sungguh pembelajaran bagaimana penanganan bencana yang luar biasa,
Akhirnya, saya bisa memahami kenapa rata-rata gedung sekolah di Jepang tahan gempa dan juga bom atom sekalipun. Semua warga juga disiplin dan patuh serta tahu tugas pokok dan kewajibannya selama ada bencana. Hal seperti ini sebetulnya bisa kita tiru agar masyarakat dan anak sekolah tidak gagap bencana, melainkan tanggap bencana.
Satu pertanyaan yang mengusik saya adalah pernahkah sekolah kita di sini melakukan kegiatan simulasi gempa atau kebakaran?.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
