'Kenapa mahasiswa Indonesia kok sedikit yang kuliah di KIT, Jerman?
“Kenapa mahasiswa Indonesia kok sedikit yang kuliah di KIT, Jerman?”
Oleh : E.A.Wahyudiono
Dengan ditemani oleh Ibu Nunung Mintarsih, guru Bahasa Jerman yang mengajar di SMA 1 Maospati, Magetan, Jawa Timur, saya berkesempatan untuk mengikuti seminar internasional tentang pendidikan lanjut bagaimana memasuki jenjang tinggi bagi siswa lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) di KIT (Karlsruhe Institute for Tehnology), Jerman di akhir Maret 2016.
Ibu Nunung Mintarsih pernah menjadi juara seleksi lomba guru berprestasi untuk tingkat Provinsi dan tingkat nasional sekaligus. Saat penugasan diJerman dengan beliau, saya merasa sama sekali tidak banyak mendapat kesulitan karena disamping penguasaan Bahasa Jerman beliau juga seringnya bertugas di luar negeri membuat kami semua bisa mengantisipasi semua permasalahan.
Saat itu adalah akhir musim dingin untuk masuk ke awal musim semi, namun suhu masihlah terasa sangat dingin bagi kami semua. Setelah melalui serangkaian lawatan ke beberapa lembaga pendidikan termasuk lawatan ke lembaga pendidikan bahasa Jerman Alva Aktiv di kota Heidelberg, sampailah kami semua pada acara presentasi yang sangat menarik dalam rangka mendapatkan informasi yang selengkapnya bagi lulusan SMA di Indonesia untuk bisa melanjutkan perkuliahan di Jerman.
Pertama kali dalam awal sambutannya, pihak KIT, menyebutkan bahwa negara Indonesia sangat dikenal di Jerman dan itu semua berkat jasa bapak teknologi kita, yaitu Bapak B.J.Habibie yang juga mantan Presiden Republik Indonesia.
Kegiatan seminar di adakan di ruang pertemuan di lantai dua di kampus tersebut. Kami dipandu dan diterima oleh salah satu Profesor yang bertanggung pada program mahasiswa asing di kampus tersebut. Lebih membanggakan lagi, ternyata selama presentasi, kami juga didampingi oleh beberapa mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan dari berbagai Universitas yang ada di di Jerman. Mereka menyempatkan untuk menemui dan menyambut kami semua karena beberapa dari mereka adalah alumni di SMA 1 Magetan.
Presentasi yang disampaikan dalam Bahasa Jerman selama 2 jam dengan 1 jam sesi tanya jawab berjalan dengan menyenangkan dan menarik. Sama sekali tidak ada kendala bagi kami semua karena presentasi itu secara langsung juga diterjemahkan oleh ibu Nunung serta beberapa mahasiswa yang ada di situ. Bahkan saat acara tanya jawab, Ibu Nunung lebih aktif menanyakan tentang prospek bagi mahasiswa Indonesia untuk bisa kuliah di Jerman dengan dana subisidi dari Pemerintah Jerman termasuk kesempatan bagaimana bisa mendapat part time job (kerja paruh waktu).
“ Mahasiswa Indonesia kok cuma sedikit yang kuliah di KIT, kenapa ya bu?” Itu adalah kalimat yang saya bisikan pada ibu Nunung. Saya dengan ibu Nunung memang sering berdiskusi untuk lebih instensif dalam mengambil peluang bagi alumni dari SMA 1 Magetan dan SMA 1 Maospati, Magetan untuk bisa membantu anak didik jika ingin melanjutkan kuliah S1 (Sarjana) di Jerman. Perkuliahan di Jerman semuanya gratis, termasuk jurusan kedokteran dan teknik penerbangan sekalipun. Jurusan yang sangat disukai untuk dipilih oleh mahasiswa dari Indonesia adalah Fakultas Kedokteran.
Syarat utama untuk bisa meneruskan studi jenjang Sarjana (S1) di Jerman adalah semua calon mahasiswa harus bisa berbahasa Jerman dengan lancar baik tulis maupun lisan. Minimal sertifikat penguasaan bahasa Jermannya adalah A2. Sedangkan untuk level lanjut yaitu B1 dan B2 dapat diambil di Studkol negeri atau swasta yang ada di Jerman sebelum masuk universitas dan jurusan yang diminati.
Namun sayang sekali, saat materi presentasi ditampilkan melalui LCD (Liquid Cristal Display), dapat dilihat bahwa jumlah mahasiswa Indonesia yang mengambil kesempatan kuliah di Jerman tidak ada sepertiganya bila dibandingkan dengan mahasiswa dari negara China. Pada data yang ditampilkan untuk jumlah mahasiswa yang dari seluruh dunia, Indonesia masih termasuk baik, yaitu masuk pada ranking 10 besar negara dari hampir 50 negara di dunia.
Banyak faktor kenapa jumlah mahasiswa Indonesia sedikit. Salah satunya adalah keberanian dalam mengekplorasi diri dan kemampuan berbahasa Jerman. Namun dijelaskan oleh pemateri dari KIT, bahwa peranan orang tua untuk melepaskan anak dalam menempuh studi Sarjana (S1) di Jerman sangatlah berat. Faktor ketakutan akan cuaca, makanan, gaya hidup, agama, budaya dan masih banyak lainnya juga ikut menjadikan bahan pertimbangan dalam mengizinkan putra putri mereka untuk kuliah di Jerman.
Apakah murid anda, putra anda atau siapapun berminat untuk melanjutkan studi ke Jerman dengan program Sarjana (S1) ? Apakah persyaratan yang harus dipenuhi? Kami akan berbagi informasi dan membantu bila ada dari mereka yang berani dan tertantang untuk menaklukkan dunia. Bagaimana dengan anda?
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
