Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mengajar Murid Sekolah Dasar !?, Rasanya Saya Tidak Sanggup deh..!
dokpri

Mengajar Murid Sekolah Dasar !?, Rasanya Saya Tidak Sanggup deh..!

“Mengajar Murid Sekolah Dasar !?, Rasanya Saya Tidak Sanggup deh..!”

Oleh : E.A.Wahyudiono

Itulah kalimat yang saya ucapkan pada diri saya sendiri saat diberitahu bahwa semua peserta delegasi dari seluruh negara Asia Pacific yang tergabung dalam event Global Youth Summit (GYS) di Siem Reap, Kamboja akan mengunjungi salah satu sekolah dasar dan mengajar di sana.

Kegiatan yang disponsori oleh Hemisphere Foundation, Singapura dan didukung oleh Kementerian Pendidikan dan juga Kementerian Lingkungan Hidup seluruh negara di Asia Pacific khususnya ASEAN harus menggiatkan program kelestarian lingkungan pada semua anak didik sejak usia dini melalui lomba inovasi pengolahan limbah, air, sampah dan energi. Kali ini yang menjadi tuan rumah adalah Negara Kamboja.

Tidak pernah terlintas atau mempunyai bayangan sebelumnya bahwa saya harus mengajar murid sekolah dasar lagi. Sekali, saya pernah mempunyai pengalaman yang unik dan lucu saat mengajar di Sekolah Dasar di Nagasaki, Jepang saat praktek mengajar dengan menggunakan bahasa pengantar bahasa Jepang dan bahasa Inggris. Saat di Kamboja, saya hanya menggunakan bahasa Inggris. Hal itu dikarenakan saya tidak memahami bahasa Khmer, yaitu bahasa Kamboja kecuali untuk salam dan perkenalan saja atau menanyakan kabar.

Pada hari Senin pagi di akhir bulan Agustus 2018, dengan ditemani Firjatullah Apta, murid SMA 1 Magetan yang mengikuti event lomba di Kamboja, saya segera berkumpul di lobi hotel untuk menerima pengarahan singkat dan pembagian tugas mengajar di sekolah yang ditentukan dari panitia. Setelah itu, berombongan kami semua memasuki bus yang sudah disediakan dan melewati jalanan yang cukup padat di saat semua masyarakat Kamboja di Kota Siem Reap memulai aktivitas sehari-hari.

Perjalanan dari hotel menuju sekolah dasar yang sudah dijadwalkan memerlukan waktu sekitar 15 menit. Begitu bus memasuki pintu gerbang sekolah dasar negeri yang lumayan megah juga menurut ukuran saya, kami semua diterima oleh kepala sekolah dan para guru serta beberapa perwakilan komite sekolah tersebut.

Setelah perkenalan seperlunya, semua dipersilakan untuk naik ke lantai dua dan mengamati kegiatan sekolah yang akan dimulai. Ternyata, Senin pagi itu, kegiatannya sama seperti di Indonesia, yaitu upacara bendera, namun belum terlihat banyak murid di halaman sekolah tersebut.

Tiba-tiba terdengar bunyi terompet yang ditiup oleh salah satu siswa seperti suara terompet militer. Saat terompet selesai ditiup, dengan segera para murid sekolah dasar itu segera berlarian menuju halaman sekolah dan berbaris rapi tanpa ada perintah dari komandan upacara. Juga tidak ada laporan dari komandan upacara, hanya kepala sekolah maju sebagai Pembina upacara.

Kemudian korps musik dengan alat musik yang sebenarnya, apa murid sekolah dasar itu memainkan lagu kebangsaan rakyat Kamboja. Luar biasa !. Bukannya melalui kaset atau rekaman, tapi musik live. Saya kagum dengan kegiatan itu. Kegiatan upacara ditutup dengan menaikkan bendera Kamboja dengan penghormatan sama seperti sekolah di Indonesia.

Setelah prosesi upacara selesai. Kami diminta turun dan dipersilakan untuk memasuki aula sekolah dasar sambil didampingi oleh para guru. Sedangkan para murid, berjajar sambil menyanyikan lagu yang menurut saya adalah lagu selamat datang untuk menyambut tamu karena mereka melakukan itu sambil bertepuk tangan. Sungguh penyambutan yang luar biasa dan mengesankan.

Setelah saling memberikan sambutan antara perwakilan delegasi dan pihak sekolah serta tukar menukar cendera mata, saya segera menuju ruang kelas yang sudah ditentukan untuk mengajar. Betapa mengejutkan, ternyata anak-anak sekolah dasar di Kamboja relatif bisa berbahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan lancar sehingga saya tidak menemukan permasalahan yang berarti dalam menjelaskan materi tentang betapa pentingnya menjaga kelestarian lingkungan pada kelas saya.

Saya jadi termenung, negara yang menurut saya masih terbelakang kenapa bahasa Inggris juga diajarkan di sekolah dasar di Kamboja. Juga menjadikan perenungan, kenapa pembelajaran bahasa Inggris di sekolah dasar di Indonesia justru dihapus. Jika pun ada hanya sebagai muatan lokal saja, bukan sebagai mata pelajaran wajib. Apalagi jam pelajaran bahasa Inggris di tingkat SMA di negara kita justru dikurangi dari 4 jam pelajaran menjadi 2 jam per kelas per minggunya.

Adakah yang bisa menjelaskan? Mengapa jam bahasa Inggris yang diajarkan di sekolah kita dihapus atau juga jam pertemuannya dikurangi? Apakah anak didik kita sudah hebat semua penguasaan bahasa Inggrisnya sehingga tidak perlu untuk belajar pelajaran itu di sekolah lagi? Ataukah sudah dianggap sebagai mata pelajaran yang tidak penting? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang selalu ada di benak saya sampai saat ini.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post