Pentigraf, DIA MEMANGGILKU OTOSAN
Pentigraf, DIA MEMANGGILKU “OTOSAN”
Oleh : E.A.Wahyudiono
Saat kulihat namaku di selembar ijazah S2 ku yang baru saja aku terima dan tertulis nama lengkap dengan gelarku “Almer Zaini, M.Sc.” dari kampusku di Okayama University, Jepang, itu artinya aku harus segera pulang ke tanah air. Rasanya waktu cepat berlalu dan mau tidak mau, meskipun berat, aku harus berpisah dengan semua teman-temanku se-tanah air dan orang tua asuhku orang Jepang. Namun, perpisahan yang paling berat adalah saat harus berpisah dengan temanku yang sudah aku anggap sebagai teman tapi mesra selama kuliah. Dia adalah gadis cantik yang bernama Seiko Moriyama. Selama 3 tahun belajar di Jepang, kami berdua sering menghabiskan waktu baik di asrama dan di kampus serta beberapa tempat saat akhir pekan di daerah Kansai, yaitu Kota Kyoto, Osaka dan Nara. Kota yang terkenal eksotis. Sama sekali tidak pernah terucap bahwa aku mencintainya akan tetapi hanya sangat menyukainya saja.
Begitu kusampaikan bahwa masa belajarku untuk Program Master sudah selesai dan besok malam aku harus balik ke tanah air lagi dengan penerbangan terakhir, Seiko langsung menangis dan memelukku. Dia merasa sedih dan tidak mau kehilangan diriku. Bahkan dia selalu bertanya berulang kali apakah kelak kita bisa bertemu lagi. Aku pun tidak bisa menjanjikan apa-apa karena kita semua tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Hanya aku berikan alamatku di Indonesia bila dia ingin berkunjung suatu hari. Karena, besok malam adalah jadwalku kepulanganku ke Indonesia, dia memintaku untuk menghabiskan malam itu bersamanya dengan berjalan–jalan dan menikmati keindahan kota Okayama dari atas bukit. Di bangku yang ada di taman itu, kami berdua bercerita tentang kesan-kesan selama kami berteman selama 3 tahun. Sungguh malam itu kami habiskan dengan bercengkrama berdua dengannya.
Tidak terasa, tepat tanggal di hari ini pada 20 tahun yang lalu adalah tanggal kepulanganku di tanah air dari Jepang. Seperti pada umumnya, selepas lulus kuliah S2 dari Jepang, aku kembali mengajar di salah satu universitas negeri di Surabaya. Aku pun sudah menikah dan istriku adalah dosen juga di kota yang sama. Aku hidup bahagia dan dikarunia anak-anak yang luar biasa cerdasnya. Selepas mengajar pada sore hari itu, aku segera pulang seperti biasa dan bersantai di ruang tamu. Istriku masih mengajar mahasiswa pasca sarjana sampai malam karena ada perkuliahan kelas ekslusif untuk para guru yang menjadi mahasiswanya. Tiba-tiba ada ketukan di pintu rumah, dengan setengah ragu-ragu aku buka pintu perlahan dan kulihat ada 2 orang yang berdiri di depanku. Seketika aku mengenali senyum di wajah yang sekian lama aku kenal dan masih cantik, “ Seiko san !? Honto desu ka?” ( Nona Seiko !, benarkah ini anda?!). Belum sempat dia menjawab, anak laki-laki yang berusia belasan yang berdiri disebelahnya, tiba-tiba memanggilku, “Otosan !” (Ayah). Begitu kudengar suara panggilan itu, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi karena semua menjadi gelap.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
