Sebenarnya mau menyapa, tapi saya takut karena tidak bisa berbahasa Jepang...!
“Sebenarnya mau menyapa, tapi saya takut karena tidak bisa berbahasa Jepang...!”
Oleh : E.A.Wahyudiono
Setelah diantar oleh mobil milik Hotel Niagara ke Bandara Internasional Gimpo, Seoul, Korea Selatan, siang itu juga, saya segera menuju anjungan Korean Airlines untuk check in menuju penerbangan ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Indonesia.
Begitu koper yang saya bawa diterima oleh petugas anjungan tiket KAL untuk dimasukkan dalam bagasi pesawat terbang, saya diberi tiket dan sudut mata saya menangkap bahwa saya masih dapat tiket kelas ekonomi. Sejujurnya saya masih mengharap dapat kelas eksekutif lagi seperti saat penerbangan dari Fukuoka Jepang ke Seoul, Korea Selatan. Sungguh pengalaman yang tidak bisa saya lupakan dan saya kenang akan hal itu.
Dengan tidak membuang waktu, saya berjalan menuju ke ruang tunggu di Gate 4 seperti yang tertera di tiket. Begitu melewati tempat screening check untuk jaminan keamanan semua penumpang, saya mencari kursi yang menghadap ke landasan atau run way hanya untuk menikmati pesawat yang sedang mendarat atau tinggal landas.
Lama-lama pemandangan itu membosankan juga. Akhirnya, saya mengamati para penumpang yang saling duduk berjauhan. Semua terlihat mencari kesibukan masing-masing. Ada yang sedang bermain gawai mereka, namun jangan harap itu adalah android. Saat itu semua produk handphone masihlah standar dengan ukuran yang rata-rata besar.
Sedangkan di bangku yang saya duduki, dari 4 kursi berjajar, hanya ada saya dan satu pemuda yang juga tidak terlihat menikmati suasana di ruang tunggu Bandara Gimpo itu. Saya amati pemuda itu dengan teliti. Dugaan saya, sepertinya orang dari Thailand atau dari Singapura. Dia rasanya juga sadar jika saya amati. Terkadang dia melihat saya juga. Walaupun duduk bersebelahan, kami berdua tidak bicara satu sama lain.
Saya amati handphone yang dipegangnya adalah buatan Korea yang terkenal saat itu. Dia juga sepertinya mengamati handphone yang saya pegang dengan tulisan TUKA DoCoMo. Saya yakin dari situ, dia bisa menebak bahwa itu adalah buatan Jepang. Untuk membunuh waktu, saya keluarkan buku pelajaran kuliah saya untuk menghabiskan waktu sambil menunggu panggilan boarding ke pesawat terbang untuk menuju Jakarta.
Tampaknya, pemuda disebelah saya tidak mau ketinggalan, dia juga mengeluarkan buku yang saat saya lirik semua hurufnya adalah Hangul Korea. Sedangkan buku yang saya pegang semua dalam huruf hiragana, katakana dan kanji Jepang. Kami berdua hanya saling lirik saja tanpa memulai untuk menyapa. Saya enggan untuk memulai menegur dia lebih dahulu karena pengalaman buruk yang saya alami. Saat melakukan itu ternyata orang tersebut tidak berkenan dan saya dianggap telah mengganggu privacy-nya. Hal itu membuat saya semakin lebih berhati-hati untuk menyapa orang yang tidak saya kenal di tempat umum.
Tiba-tiba setelah menunggu kurang lebih 3 jam dengan penundaan terbang, ada pengumuman bahwa semua penumpang diminta bersiap untuk masuk gate 4 menuju kabin pesawat untuk penerbangan yang menuju Jakarta, Indonesia. Dengan serempak, semua orang terlihat sibuk membuka tas dan mengambil paspor serta tiket termasuk saya. Pemuda di sebelah saya juga melakukan hal yang sama.
Saat kami berdua melakukan hal itu, secara tidak sengaja, kami saling mengamati gambar di sampul paspor yang dipegang, yaitu lambang Burung Garuda dan tertulis Paspor Indonesia. Saya secara tidak sadar menyeletuk. “ Lho, Anda ternyata orang Indonesia juga? Saya kira orang Singapura atau Thailand tadi “. Pemuda itu dengan tertawa mengatakan, “ Lha, bapak malah saya kira orang Jepang, dari handphone dan bukunya huruf Jepang semua ,gitu!”
“Bisa aja, mana ada orang Jepang berkulit hitam seperti saya”, tukas saya sambil berdiri menuju gate 4. “Kok kita 3 jam lebih duduk bersebelahan sama sekali tidak bicara apa-apa, ya pak. Sebenarnya tadi saya mau nyapa bapak, tapi saya takut karena gak bisa berbahasa Jepang, jadi saya diam saja” kata pemuda itu. “ Lah, sama, saya juga gak bisa bahasa Korea”, jawab saya tapi dalam hati saja sih.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
