Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
You are classified as very important person, (VIP), Sir !, so

You are classified as very important person, (VIP), Sir !, so

“You are classified as very important person, (VIP), Sir !, so…”

Saat liburan musim panas selama satu bulan tiba pada akhir bulan Juli 1999, kesempatan itu tidak mau saya lepaskan untuk segera mempersiapkan semua dokumen dan tiket pulang liburan ke Indonesia.

Namun, perencanaan yang sudah tersusun matang, mengalami perubahan karena adanya perintah dari Inage Itsurou, Profesor Linguistik saya di fakultas pendidikan Universitas Nagasaki, Jepang. Itu adalah kampus di mana saya sudah belajar kurang lebih satu tahun lamanya. Perintah dari dosen saya itu juga karena adanya surat rekomendasi dekan dan dosen lainnya di fakultas pendidikan.

Pada akhir Juli 1999, selama sepekan lebih, saya bersama rombongan satu fakultas dari kampus yang terdiri dari 3 mahasiswa dan 7 mahasiswi harus berangkat ke Kota Tsukuba, kota yang terletak di sebelah utara Tokyo untuk mengikuti World Englishes Conference. Saya juga harus segera menyiapkan materi presentasi pada kegiatan konferensi tingkat Internasional tersebut.

Kegiatan konferensi World Englishes itu berjalan dengan lancar dan bahkan kami bisa menyempatkan diri untuk mengelilingi kota Ibaraki dan Tokyo. Kota yang terkenal sebagai kota yang paling mahal untuk hidup dibandingkan dengan kota lain di seluruh dunia. Rasanya selama tugas dari kampus di konferensi itu, pikiran saya sudah tidak sabar untuk segera kembali ke Nagasaki dan segera berkemas pulang untuk liburan ke tanah air.

Setelah penerbangan yang melelahkan selama 2 jam dari Bandara Haneda,Tokyo ke Bandara Nagasaki, kami berombongan masih harus naik bus untuk kembali ke kampus Nagasaki karena sudah ditunggu oleh para dosen di fakultas pendidikan. Mereka sengaja datang untuk merayakan kedatangan kami setelah bertugas dan semua terlihat gembira dalam menyambut kami sepulang dari tugas presentasi di konferensi Internasional itu. Itulah tipikal masyarakat Jepang dan hal itu menurut saya sebagai satu hal yang patut ditiru dalam pembelajaran karena suatu bentuk saling menghargai dan mengapresiasi di antara mereka yang bertugas ke luar kota atau ke luar negeri sebagai satu tim dari satu fakultas dan kampus.

Begitu acara seremonial di fakultas usai, dengan segera saya kembali ke asrama mahasiswa di daerah Nishimachi. Asrama saat itu tampak sepi, karena semua mahasiswa asing dari seluruh dunia sudah berangkat ke negaranya masing-masing untuk liburan musim panas. Teman sebelah kamar, Hernandez, sudah pulang ke Mexico, Muhammad Samsur, pulang ke Serawak Malaysia, dan Park san, bahkan sudah lebih awal pulang ke Korea Selatan. Tinggal beberapa mahasiswa asing termasuk saya yang belum segera berkemas untuk liburan dikarenakan masih ada tugas dari fakultasnya masing-masing.

Setelah beristirahat semalaman dengan tidur di kamar dengan suasana yang sangat sepi dari riuh ramai para mahasiswa seperti biasanya, keesokan harinya dengan tidak menunda waktu, saya segera pergi ke biro perjalanan untuk memesan tiket. Pegawai di agen tiket itu adalah seorang gadis Jepang yang cantik dan beruntungnya saya sudah kenal baik berkat rekomendasi dari adik kelas saya yaitu Wayan Sudiana, mahasiswa Jurusan Ekonomi di kampus yang berbeda di Nagasaki. Saya juga sangat bersyukur karena mempunyai kartu mahasiswa asing, sehingga bisa mendapatkan tiket pulang pergi (p.p) dengan potongan harga. Perlu diketahui, sangatlah sulit untuk mendapatkan tiket di musim panas saat itu karena itu adalah peak season , musim di mana semua orang akan bepergian untuk liburan demi menghindari musim panas yang sangat menyengat di Jepang.

Pada tanggal 5 Agustus 1999, setelah menyiapkan koper kecil, saya segera menuju ke terminal bus antar kota di Nagasaki untuk mengambil penerbangan dari bandara Fukuoka. Perjalanan yang ditempuh selama 3 jam sungguh membuat terasa sangat lama. Mungkin perasaan itu muncul mengingat sudah terlalu lama saya menunda keinginan libur di tanah air. Saat berada di dalam bus dan menikmati perjalanan, saya membayangkan betapa serunya bisa hadir saat perayaan kemerdekaan Indonesia bila berada di kota tercinta, yaitu Magetan, Jawa Timur, juga membayangkan bisa menikmati hidangan nasi hangat, sambal terasi dan teri serta lauk ikan asin. Sudah tidak sabar rasanya untuk segera tiba di Indonesia.

Sesuai jadwal penerbangan yang tertera di tiket, dari bandara Fukuoka, siang pukul 14.30 waktu Jepang, saya harus ikut penerbangan transit ke kota Busan Korea selatan terlebih dahulu baru kemudian ke bandara GimPo, Seoul dan stay over night di Korea Selatan. “Wah, bagus juga tuh, bisa seharian untuk jalan-jalan di Kota Seoul nih” itulah yang selalu saya pikirkan selama penerbangan itu.

Penerbangan dengan Korean Airlines (KAL) sangatlah nyaman walaupun saya mendapatkan kelas ekonomi. Namun hal itu tidak berlangsung lama karena tiba-tiba setelah sekitar 15 menit pesawat mengudara menuju Korea Selatan, seorang pramugari yang sangat cantik menemui saya dan bertanya sopan dalam bahasa Inggris, “ Excuse me, are you Mr. Adri, Indonesian student who is studying at Nagasaki University?”. Setelah saya jawab bahwa hal itu benar. Pramugari itu meminta saya untuk pindah ke kelas eksekutif di depan.

Kaget juga saat mendengar hal itu. Saya merasa hal itu aneh, karena saya tidak memesan kursi di kelas eksekutif yang terkenal sangat mahal itu. Untuk memastikan lagi, saya pun bertanya dengan sopan kenapa saya harus pindah. Pramugari yang cantik tadi menjawab bahwa penjelasan akan diberikan setelah saya pindah ke depan di kelas eksekutif. Akhirnya, saya pun dengan senang hati menuruti perintah untuk pindah tempat duduk di pesawat itu dan menjadikan perhatian dari para penumpang lain di sekitar tempat duduk saya di kelas ekonomi.

Ternyata penjelasan yang diberikan pramugari itu membuat saya terharu dan mengejutkan. Dia mengatakan,” We are so sorry to disturb you and We are very happy to inform you that couple minutes ago, We got order from our manager of Korean Airlines (KAL) in Seoul that you are classified as very important person (VIP) and we are already instructed to change your class from economy class to executive class for this flight, so please enjoy yourself”.

Sungguh saya sama sekali tidak mengira bisa berada di kelas eksekutif selama penerbangan itu. Untuk mendapatkan kelas ini bisa seharga tiga kali dari harga tiket kelas ekonomi. Apalagi selama penerbangan, menu hidangan makanan dan semua fasilitas sangatlah lengkap. Tempat duduk yang nyaman dan bahkan bisa diluruskan untuk tidur. Televisi dengan pilihan menu banyak untuk film layar lebar terbaru serta pelayanan yang sangat berkelas.

Sampai saat ini, saya tidak tahu dan belum tahu kenapa saat itu ada perintah untuk memindahkan tempat duduk saya dari kelas ekonomi ke kelas eksekutif. Saya juga tidak mengenal siapa General manager dari Korean Airlines atau siapapun pejabat di sana, namun saya selalu bersyukur bahwa semua kenikmatan itu hanyalah karena izin Allah SWT semata.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post