Komedi Hidup Pak Guru Yudi dan Kisah Asamaranya Part 3
BISIKAN RAHASIAKU PADANYA
Oleh : E.A.Wahyudiono
Dipusingkan dengan proses ijab kabulku yang digagalkan oleh seorang penghulu, demi kewarasan dan ketenangan pikiran, terpaksa aku memilih traveling untuk healing ke Sulawesi dan Kalimantan pada waktu ada liburan semester meskipun sebagai guru PNS, sebetulnya juga harus tetap masuk dinas.
"Persetan dengan itu! Wong jelas libur dan nggak ada murid, kok saya disuruh masuk sekolah, emang mau ngajar siapa juga?" Mulutku bergumam untuk melampiaskan kekesalan di hatiku.
Begitu pesawatku mendarat di Bandara Sepinggan, Balikpapan untuk transit menuju Bandara Juanda, dengan segera aku turun dengan seluruh penumpang dan segera masuk di ruang tunggu. Sambil menunggu waktu 2 jam untuk ganti pesawat, aku amati beberapa penumpang yang ada di situ.
Akhirnya, mataku tertuju pada seorang wanita cantik yang memang sudah sepesawat denganku saat berangkat dari Bandara Palu, Sulawesi Tengah. Rasanya tak jemu memandangi dia. Ternyata beberapa penumpang laki-laki juga terpana melihat dia yang sedang bermain dengan gawainya.
Tiba-tiba, seorang bapak yang tampaknya tidak bisa menahan diri, berpura-pura menanyakan sesuatu pada wanita itu dan segera duduk di sampingnya. Sesekali aku lirik mereka berdua saat berbicang-bincang dan mencuri dengar.
Ternyata namanya Nana, seorang perawat yang bekerja di rumah sakit terkenal di Surabaya. Dari wajah wanita cantik itu tampak jika dia tidak berkenan dengan godaan dari bapak genit yang mengaku bernama Pak Alwy.
Aku amati Nana berusaha untuk menghindari pembicaraan dengan pak Alwy sambil menatapku saat aku mencuri pandang padanya. Namun, Pak Alwy tersebut sepertinya nekat dan sering menggoda Nana dengan nada merayu serta menyombongkan dirinya. Saat aku amati, Pak Alwy tersebut dari gaya bicara, bahasa, penampilan dan cara berpakaiannya sepertinya orang kurang cerdas, pergaulan dan pendidikan.
Saat ada panggilan bahwa semua penumpang disilakan masuk ke pesawat yang menuju Surabaya untk segera masuk ke Gate 3. Aku pun juga berdiri dan berjalan di belakang Nana. Cara jalannya saja sudah membuat semua pria yang ada di situ terpana. Tak terkecuali pak Alwy juga. Dengan setengah memaksa, dia berusaha membantu Nana dengan membawakan kopernya masuk ke kabin pesawat.
Begitu di dalam pesawat, seperti dugaanku terhadap pak Alwy, dia memaksa untuk duduk di samping Nana meskipun nomer kursinya berbeda. Sedangkan aku duduk di kursi nomor 3C berseberangan dengan Nana yang ada di kursi 3E. Pak Alwy tetap ngotot untuk duduk di samping Nana, meskipun pemilik kursi sudah memintanya untuk pindah, dia tetap bergeming.
Dia merasa semua penumpang bebas untuk memilih kursi dan duduk dimanapun suka-suka. Sebetulnya, ke-ngototan dia duduk di sebelah Nana itu karena sepertinya dia takut karena beberapa kali, aku dan Nana saling berpandangan dan tersenyum.
Akhirnya, seorang pramugari dan pramugara meminta dengan sopan pada pak Alwy untuk pindah ke kursi belakang karena nomor tempat duduknya adalah 37F.
Sepertinya bujukan beberapa orang penumpang dan pramugari di dalam pesawat sudah tidak mempan bagi pak Alwy karena hatinya sudah terlanjur kesengsem pada si cantik Nana, seorang perawat yang menjadi salah satu penumpang pesawat ke Surabaya ini.
Karena jengkel, aku dekati pak Alwy dan aku ajak bicara lirih setengah berbisik,”Bapak mau kemana kok duduk di sini?” Pak Yudi, dengan berbisik juga di telingaku menjawab,”Ke Juanda, Surabaya, mas”.
Setelah aku amati nomer kursi di tiketnya, aku bisiki lagi,”Pak, kalau ke Juanda, Surabaya, itu duduknya di kursi 37F. Semua penumpang di sana tujuannya Surabaya. Untuk kursi yang bagian depan ini tujuannya ke Singapura, Pak! Nah, bapak, mau ikut ke luar negeri?”
Seketika, pak Alwy berdiri dan pindah ke belakang sambil bermuka masam, apalagi setelah dia tahu bahwa kursi yang dia duduki sebelah Nana itu sekarang aku tempati karena penumpang sebelumnya tadi bersedia saat aku tawari untuk duduk di kursiku sebagai bentuk balasan atas bantuanku.
Sedangkan para penumpang lain masih mengamati aku dengan bengong daan berusaha menebak kalimat apa yang aku bisikan sehinggap pak Alwy mau pindah untuk duduk dikursinya di belakang.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
