Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
HATI-HATI JIKA MAKAN BERSAMA DENGAN ORANG JEPANG

HATI-HATI JIKA MAKAN BERSAMA DENGAN ORANG JEPANG

HATI-HATI JIKA MAKAN BERSAMA DENGAN ORANG JEPANG

Oleh : E.A.Wahyudiono

Saat acara perkuliahan sore usai, teman-teman satu kelas di fakultas pendidikan Universitas Nagasaki, mengajakku untuk makan malam bersama di salah satu restoran terkenal di dekat kampus di Bunkyo machi.

Biasanya, aku tidak mau diajak atau pergi dengan mereka, karena ingat akan pesan seniorku yang selalu menasehati untuk bisa menjaga diri selama kuliah di Jepang. Beliau adalah Prof. DR. Abdul Jabarsyah Ibrahim, M.Sc. (Mantan Rektor Universitas Borneo, Tarakan).

Masih ingat pesannya untuk jangan sesekali makan malam berdua dengan teman wanita satu kampus, karena itu aku akan dianggap menyukai dia. Jika hanya makan siang bersama tidak menjadikan masalah. Hal itu tidak mempunyai makna apa-apa, apalagi jika tempatnya di kantin kampus.

Nah, untuk pertama kalinya setelah tinggal 3 bulan di Jepang, rasanya aku sungkan jika menolak ajakan teman sekelas untuk makan bersama, apalagi dengan jumlah sekitar 10 orang yang terdiri dari beberapa mahasiswa dan mahasiswi. Jadi seru dan ramai suasananya. Itulah tipikal orang Jepang, yaitu pendiam saat di kelas dan ramai saat di rumah makan.

Sebelum masuk restoran semua rapat sebentar dan diputuskan bahwa makan malam kali ini adalah dengan sistem Isyoni (berombongan). Karena aku tidak tahu kebiasaan di situ, terpaksa hanya diam dan mengikuti mereka saja.

Dengan segera, kami semua mendapatkan tempat yang luas dan bisa duduk bersila di atas tatami (tikar Jepang). Dengan hati-hati, aku memilih menu kesukaanku. Yaitu harus mencari makanan yang halal. Begitu ketemu seafood, dengan tidak ragu, aku lihat harganya cukup murah untuk ukuran kantongku. Itu hanya sekitar 800 Yen (sekitar 100 ribu Rupiah). Sedangkan semua temanku memilih menu besar dan mahal serta dengan porsi yang banyak.

Segera kami semua berdiskusi dan bercanda tentang perkuliahan serta sedikit membicarakan para dosen yang dianggap kibishii (kaku) bagi mahasiswa dalam mata kuliahnya. Setelah hampir 2 jam menikmati hidangan, kami semua beranjak ke kasir untuk membayar. Ternyata makanan yang harus aku bayar adalah 5.000 Yen atau sekitar 600 ribu Rupiah.Setiap dari kita yang makan di situ tadi harus membayar sama, yaitu 5 ribu Yen.

Karena mahal, akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya kenapa saya harus membayar sebegitu banyak. Salah satu teman yang mengajakku mengatakan bahwa tadi sudah disepakati sistem isyoni (bersama). Jadi siapa saja boleh memesan makanan apa saja dan menu makanan harga berapa saja nanti semua dijumlah serta dibagi semua mereka yang makan. Itu artinya aku harus membayar makanan yang mereka makan juga.

Aku hanya bengong dan berkata pada diriku sendiri, “Bodohnya diriku. Ini dampaknya jika belum menguasai bahasa Jepang sepenuhnya. Jika tahu begini, aku tadi memesan makanan yang mahal dan ukuran besar. Waduh, sudah terlanjur memilih menu makanan yang hanya seharga 800 Yen tadi. Alamat jatah makan seminggu jadi hilang deh. Awas ya, kalau mengajakku makan malam bersama lagi lain kali”

Salam

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post