AUBADE MASA SMA (Part 1- Aku dan Vina)
AUBADE MASA SMA (Part 1-Aku dan Vina)
Oleh : E.A.Wahyudiono
Pagi saat masih berkabut, aku masih berdiri mematung di depan pintu gerbang sekolahku. SMA negeri yang terkenal favorit di kotaku. Aku hanya mampu melihat serombongan teman-temanku putri yang berjalan memasuki pintu gerbang sekolah sambil bercanda dengan bahagia.
Aku cari sosok gadis tinggi semampai berambut pendek yang selalu mencuri hatiku. Dia berada di kelas IPA 4 sedangkan aku ada di kelas IPA 2. Sampai akhirnya, dari kejauhan aku melihatnya dengan seragam abu-abu putih yang menawan dan berjalan dengan santai di atas sepatu hitamnya yang kecil.
Untuk sesaat, mataku dan dia beradu pandang dan setelah itu kami berdua saling tersenyum tanpa bicara apa-apa atau saling menyapa. Itulah kegiatan yang aku lakukan setiap pagi sebelum memasuki kelasku. Dia adalah penyemangat hidupku dan semangat belajarku. Aku tahu nama gadis yang aku suka itu adalah Vina, namun aku tidak tahu di mana tempat tinggalnya.
“Adri. Apa yang kamu lakukan setiap pagi di depan pintu gerbang sekolah? Sepertinya kamu sedang menunggu seseorang ya? Jujur aja deeh!” itulah pertanyaan Rendy, temanku sebangku. “ Ah ,kamu ini mau tahu saja!” jawabku singkat sambil mengeluarkan buku pelajaran untuk jam pertama, yaitu Bahasa Inggris.
Temanku memang sering memanggilku dengan nama tengahku itu, padahal sebenarnya aku lebih suka dipanggil dengan nama pertamaku. Semua itu gara-gara Pak Yunus guru bahasa Inggrisnya memanggilku begitu, akhirnya semua temanku juga ikut-ikutan memanggil nama tengahku.
Aku dan Rendy sudah bersahabat sejak masih sekolah dasar di kotaku. Kami berdua juga menyelesaikan di SMP yang sama, bahkan SMA pun juga sekelas lagi. Dia anak yatim setelah ditinggal ibunya meninggal saat masih berada di SD. Sedangkan aku, anak tentara. Ayahku berpangkat rendahan dalam arti prajurit. Sedangkan ibuku hanya ibu rumah tangga biasa.
Aku anak pertama dengan 2 adik yang masih duduk di SMP dan SD. Sungguh berat rasanya tinggal di kota besar dengan kondisi seperti itu. Aku harus sering bekerja membantu orang tuaku selepas pulang sekolah dengan berjualan es mambo (es lilin) dan menjual kertas bekas seperti koran atau buku untuk menambah uang saku ke sekolah.
Aku segera tersadar dari lamunanku saat Pak Yunus guru Bahasa Inggris memasuki kelasku dengan mengucapkan salam, " Good morning, class? How are you today?" sambil mengamati seluruh kelas kemudian menatapku dengan penuh arti.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
