AUBADE MASA SMA (Part 2- Vina menyapaku)
AUBADE MASA SMA (Part 2- Vina menyapaku)
Oleh : E.A.Wahyudiono
Setelah bertanya jawab dan menyapa beberapa murid termasuk diriku dalam Bahasa Inggris di kelas, Pak Yunus memberikan evaluasi hasil dari ulangan harian Minggu lalu. Beliau juga membagikan lembar jawaban dengan nilai yang tertera di atasnya. Saat aku terima hasil ulanganku dan aku amati nilaiku 100, Pak Yunus dengan pandangan sejuk memintaku yang diucapkan dalam Bahasa Inggris untuk menemuinya sepulang sekolah di ruang guru.
“Aye aye, Sir!, I will be there for sure” Aku jawab dengan penuh semangat seperti biasanya karena senang nilaiku tertinggi di kelas. Saat kembali ke bangkuku , Rendy dan teman-temanku yang lain meledekku bahwa aku pasti anaknya Pak Yunus. Aku hanya tertawa saja dengan candaan mereka.
Tak terasa waktu cepat berlalu dan bel istirahat sudah berbunyi. Setelah merapikan buku di dalam tas dari kain warna putih buatanku sendiri, Aku segera berjalan dengan Rendy menuju kantin untuk mencari bakso. Saat melewati kelas IPA 4 di ujung gedung, darahku sedikit berdesir begitu aku lihat Vina sedang keluar dari kelas sambil menoleh ke arah kami berdua.
Siku tangan Rendy secara reflek menghantam perutku dengan pelan, “ Ssst, itu Vina, gadis paling cantik di sekolah kita, kulitnya putih dan tinggi langsing, tapi itu menurutku sih. Kalau menurutmu gimana? Bisik Rendy tanpa melihatku. Aku cuma tersenyum tanpa mengatakan apa-apa dan hanya menganggukkan kepalaku saja.
“Kalian berdua pasti mau ke kantin ya?" Tanya Vina pada kami berdua. Lidahku kelu dan tidak mampu untuk menjawab karena kaget kami disapa terlebih dahulu. “Betul, mau gabung dengan kami?” Ajak Rendy pada Vina dengan nada bercanda. Vina melihat Rendy sambil tersenyum berkata, “ Maaf, Rendy, jika boleh, aku mau minta tolong pada Adri. Kamu nggak keberatan jika ke kantin sendirian kan?"
Untuk sesaat Rendy kaget dan Aku kaget juga saat mendengar Vina berkata seperti itu, tapi aku bisa menguasai diri dan berpura-pura bahwa tidak ada perubahan apa-apa pada diriku. Rendy menoleh dan wajahnya mendekat ke telingaku setengah berbisik,”Ternyata, Vina naksir kamu tuh!”. Siku tanganku segera kutonjokan pada perutnya. Rendy berlari samba tertawa menuju kantin sekolah.
“Adri, aku mau minta tolong. Sepulang sekolah ini, aku dipanggil oleh wali kelasku untuk membantunya di ruang guru. Karena kita berdua searah dalam perjalanan pulang ke rumah, maukah kamu menungguku dan menemaniku pulang nanti?” pinta Vina dengan senyum di bibirnya yang mungil itu.
Tanpa menunggu sedetik atau dua detik, Aku pun segera menjawab,” Iya, mau…hmm..tapi maaf, aku tidak bawa sepeda motor” Hatiku sangat menyesal selepas mengatakan tidak membawa sepeda motor pada Vina, padahal yang benar adalah aku tidak mempunyainya. Hanya ada sepeda pancal kuno, namun Aku malu menaikinya ke sekolah. Aku takut jika ditertawakan seluruh temanku di sekolah
“Aku juga tidak. Tadi Aku diantar kakakku, kita nanti jalan kaki barengan saja waktu pulang” sahut Vina dengan tersenyum. Melihat senyum manis dan giginya yang rapi akhirnya Aku hanya menganggukkan kepala saja. Dalam perjalanan kembali ke kelas, Aku tiba-tiba heran dengan diriku kenapa mendadak tidak merasakan lapar lagi.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
