Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
AUBADE MASA SMA (Part 4- Ayah Vina)
ilustrasiceritadari.id.pinterest.com

AUBADE MASA SMA (Part 4- Ayah Vina)

AUBADE MASA SMA (Part 4- Ayah Vina)

Oleh : E.A.Wahyudiono

Dalam perjalanan pulang dari sekolah bersama Vina, jantungku berdegup cepat. Hal itu bukan karena begitu senangnya diminta untuk menemani dia pulang bersama, namun setelah dia menyebutkan nama ayahnya dan pekerjaannya membuatku banyak terdiam selama di sebelahnya.

“Adri, kamu kok gak pernah naik sepeda motor ke sekolah?” tanyanya untuk memecahkan keheningan. Akhirnya dengan jujur kukatakan bahwa aku tidak mempunyai sepeda motor, bahkan orang tuaku juga tidak punya. Hanya sepeda butut di rumah dan sering dipakai oleh ayahku. “Wah, bagus itu, makanya saya dengar kamu pintar di kelas, jadi bisa fokus belajar, lagian kita para murid SMA juga dilarang naik sepeda motor ke sekolah kan?” kata Vina setengah menghiburku.

Tiba-tiba baru separuh perjalanan menuju rumah, hujan mengguyur dengan deras. Kami berdua segera berlarian untuk berteduh di bawah pohon flamboyan besar yang berjajar rapi ada di sepanjang tepi jalan menuju rumah. “Aduuh, kita tetap basah kena air hujan nih!” teriak Vina mengimbangi suara gemuruh curah hujan. “Kamu berani berhujan-hujan apa tidak?” belum sempat dia menjawab segera aku tambahi “ Jika berani, ayo jalan terus sambil hujan-hujan toh besuk seragam kita juga harus ganti warna yang lain”.

Dia pun menganggukkan tanda setuju. Segera aku buka tasku sekolahku yang terbuat dari kain karena itu buatanku sendiri. Aku keluarkan dua tas kresek plastic. Satu aku berikan Vina untuk membungkus buku pelajaran di dalam tas agar tidak rusak kena air hujan. Aku pun juga melakukan hal yang sama. Tidak terasa, suasana perjalanan menjadi semakin menyenangkan karena kami sesekali bermain genangan air di jalan.

Namun saat ingat siapa ayah Vina. Hatiku kembali menciut. Perasaaan bahagia dan takut teraduk menjadi satu saat menemani Vina dalam perjalanan pulang. Akhirnya, sampailah kami berdua di depan rumahnya Vina. Rumah yang besar dengan 2 mobil ada di dalam garasi rumahnya. Satu mobil jelas adalah mobil dinas, sedangkan satu lagi pasti adalah mobil keluarganya.

Aku segera melanjutkan perjalanan di deretan rumah di blok yang berbeda paling belakang. Dalam derasnya air hujan yang dingin sambil mendekap tas sekolahku, bara cinta dan rasa suka ku pada Vina harus segera aku padamkan. “Adri, kamu itu harus tahu diri. Kamu anaknya siapa sampai berani menyukai Vina? Mau cari masalah? ” Itulah kata-kata yang ada di dalam kepalaku terus-menerus.

Begitu tiba di rumah, ibuku segera membukakan pintu dan menegur “Kok pulang sekolah sore dan malah kehujanan begini?” Beliau bergegas membuatkan teh madu hangat untukku agar aku tidak sakit flu. Aku amati ibuku yang kurus dan renta, namun masih tergurat kecantikan dari masa mudanya. “ Maafkan anakmu ini, Ibu” kataku dalam hati. Ibu memahami alasanku pulang terlambat karena dipanggil salah satu guru di sekolah untuk berdiskusi tapi tidak bercerita tentang Vina.

Ayahku ternyata belum pulang ke rumah karena masih ada tugas. Setelah mandi dan menikmati teh buatan ibuku, pikiranku terngiang kata-kata Vina. Ayahnya ternyata seorang tentara dengan pangkat perwira menengah. Ayah Vina adalah Letkol Inf. Sugeng. Jabatannya adalah komandan Bataliyon di satuan di mana ayahku berdinas sebagai tentara dengan pangkat Bintara atau prajurit.

Hilang sudah tunas cinta dalam diriku saat menyadari akan hal itu. Untungnya, aku belum sampai mengatakan suka pada Vina secara langsung. Lamunanku tentang Vina terhenti saat terdengar ada ketukan di pintu rumah dinas tentara yang kecil itu. Ibuku segera bergegas membuka pintu.

Ternyata seorang tentara dengan berseragam lengkap langsung menghormat tegap pada ibuku dan mengatakan bahwa dirinya adalah Letda Inf. Dion, ajudan Letkol Inf. Sugeng. Hatiku berdesir saat ajudan itu mengatakan bahwa kedatangannya ke rumahku karena diperintah oleh Komandan Bataliyon untuk menjemputku agar sekarang berangkat ke rumah dinas Komandan bersama mobil dinas yang terparkir di depan rumah ayahku. Seketika badanku menjadi panas dingin karena aku tahu bahwa itu artinya aku harus ke rumah Vina sekarang.

Bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post