AUBADE MASA SMA (Part 5- Ada di rumah ortu Vina)
AUBADE MASA SMA (Part 5- Ada di rumah ortu Vina)
Oleh : E.A.Wahyudiono
Setelah Letda Inf. Dion, ajudan Letkol Inf. Sugeng menyampaikan maksud kedatangan kepada ibuku, aku pun dipanggil oleh beliau tentang hal itu. Ajudan Dan Yon itu disilakan duduk, namun dia menolak dan tetap berdiri di teras depan dengan sikap istirahat.
Ibu menyusulku ke kamar saat Aku sedang berganti baju yang lebih sopan dan rapi. “ Nak, ini ada apa sih, kok tiba-tiba kamu dipanggil Komandan Bataliyon ke rumah dinasnya? Kamu telah melakukan apa? Ibu jadi takut ini?” tanya ibuku dengan penuh selidik. Kedua adikku yang penasaran juga ikut menyusul ke dalam kamarku sambil mendengarkan pembicaranku dengan ibu.
“Aku juga nggak tahu bu, doakan saja yang terbaik untukku. Insyaallah tidak ada apa-apa. Nanti saat pulang baru bisa cerita selengkapnya” jawabku sambil tersenyum untuk menenangkan hati ibuku. Aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku diminta datang bahkan dijemput ke rumahnya Vina, namun aku tidak bercerita jika tadi pulang sekolah bersamaVina, anak Letkol Inf. Sugeng Dan Yon di mana ayahku berdinas.
Dalam perjalanan ke rumah Vina, aku terdiam dan merenung, apalagi ajudan Pak Letkol Inf. Sugeng ini tidak tersenyum sama sekali. Sejujurnya, aku juga tidak tahu bahwa Vina itu adalah anak dari komandannya ayahku. Jika tahu mungkin aku akan berpikir dua kali untuk mendekatinya. Tak terasa, mobil dinas tentara warna hijau tua itu memasuki pekarangan rumah Vina.
Hujan sudah reda beberapa saat yang lalu tapi air masih menggenangi jalan depan rumahnya Vina. Saat aku turun dari mobil, ajudan itu menyuruhku langsung masuk rumah. Aku berjalan ragu-ragu menuju teras rumah dinas perwira yang besar itu, apalagi saat kulihat ayahnya Vina sedang duduk di kursi teras sambil membaca harian sore. “Assalamualaikum” sapaku dengan ramah. Pak Sugeng menurunkan korannya dan menjawab salamku tanpa tersenyum sama sekali.
“Kamu yang namanya Adri ya? Anaknya sersan Atmaja?” tanya ayah Vina dengan nada dingin namun sudah terdengar seperti suara rentetan senapan mesin di telingaku. “Benar, pak” jawabku dengan nada sopan. “Oh, jadi kamu ini Adri yang sering diceritakan Vina pada mamanya”. Belum sempat menjawab apa-apa karena bingung, tiba-tiba beliau berdiri dan menyuruhku masuk ke ruang tamu.
“Haduuh, ini ada apa? Kenapa perasaanku jadi tidak enak begini. Kok rasanya aku seperti berada di sidang militer gini" hatiku gelisah tak menentu. Aku ditinggal sendirian di sofa ruang tamu karena Ayah Vina masuk ke dalam ruang tengah. “Kemana juga Vina ya? Kok tidak ada?” Pikiranku kesana kemari mencari-cari apa kesalahan yang telah aku buat pada Vina.
Tak berapa lama, seorang wanita yang anggun dan berwibawa keluar dari ruang tengah bersama Vina. Beliau tersenyum padaku, “Halo, nak Adri ya? kenalin , saya mamanya Vina” sambil menjabat tanganku erat. Aku lihat Vina di sebelah ibunya hanya tersenyum sambil menggelayut manja di tangan mamanya. Aku hanya bisa menahan rasa bingung karena tidak tahu ini sebenarnya ada apa.
“Begini nak Adri, Mama mohon maaf telah memanggilmu ke sini sore ini yang padahal kamu baru pulang sekolah dan kehujanan” kata mamanya Vina padaku dengan ramah. “Tadi Vina cerita jika kamu menemaninya pulang sekolah saat hujan tadi. Mama sangat berterimakasih sekali pada kebaikanmu. Maaf ya jika Vina sudah merepotkan nak Adri. Sejujurnya, Vina nggak pernah pulang jalan kaki jika berangkat dan pulang sekolah. Dia selalu diantar oleh ajudan bapak, itu orangnya sedang di teras” kata mamanya Vina sambil menunjuk seseorang di teras luar rumah dinas.
Aku pun menoleh dan baru tahu yang dimaksud adalah Letda Inf. Dion, ajudan Bapaknya Vina. Hatiku sedikit tenang sekarang karena semua menjadi jelas. “Tidak masalah bu, bahkan saya senang sekali bisa menemani dan menjaga Vina saat pulang sekolah tadi” jawabku dengan nada pelan. Vina hanya menatapku dan tersenyum.
Vina menyilakanku untuk menikmati teh jahe hangat yang baru dihidangkan oleh pembantu rumahnya. Sambil kutatap Vina, Aku minum teh itu sedikit agar melegakan tenggorokanku yang tercekat sejak berangkat ke rumah Vina tadi. “Eh, ngomong-ngomong nak Adri sudah punya kekasih apa belum nih?” Tiba-tiba mamanya Vina menanyaiku dengan pertanyaan yang mengejutkan. Secara tidak sadar teh di mulutku tertelan cepat dan hal itu membuatku tersedak dan terbatuk kecil.
Mamanya Vina dan Vina sendiri tertawa bersamaan. Rasanya malu sekali. “Maaf bu, saya tidak punya kekasih dan ingin fokus untuk belajar dengan sungguh-sungguh” kataku spontan. Vina memandangiku dengan wajah kaku dan melotot ke arahku. Aku tidak paham kenapa Vina seperti itu. “Wah, bagus tuh, tapi rasanya tidak mungkin jika nak Adri setampan ini tidak punya kekasih. Kata Vina, kamu juga paling pintar di kelas tuh!. Vina sering cerita lho!” Mamanya Vina meledekku dengan tersenyum.
Aku amati wajah Vina kali ini sangat cemberut tapi aku biarkan saja karena aku lega seperti terlepas dari belenggu pikiran burukku sebelum berangkat ke rumah Vina tadi. Aku pun segera mohon diri untuk pamit karena sebentar lagi sudah menjelang waktunya salat Magrib. Mamanya Vina berteriak memanggil bibi pembantu rumah tangganya. “Ini sedikit oleh-oleh untuk ayah dan ibumu juga adikmu ya sebagai tanda terimakasih telah menjaga Vina saat pulang sekolah tadi. Bilang dari Bu Dan Yon, gitu ya!” kata mamanya Vina padaku.
Sedikit jengah, aku pun mau menerima parcel buah dari mamanya Vina. Tak lupa aku mengucapkan banyak terimakasih dan mohon izin, pulangnya jalan kaki saja karena sudah tidak hujan dan rumah dinas kecil ayahku tidak begitu jauh. Aku lihat wajah Vina yang biasanya ceria, kali ini sangat cemberut padaku. “Aduh, kenapa juga? Kalimat apa tadi dari mulutku yang salah kok Vina terlihat marah begitu?”
Vina dan mamanya mengantarku sampai ke pintu pagar rumah dinasnya. Letda Inf. Dion sudah diberitahu mamanya Vina bahwa kali ini aku pulang jalan kaki saja. Baru selangkah aku keluar pagar, tiba-tiba ada sedan taksi datang dan kulihat seseorang dengan mengenakan seragam Taruna Akademi Militer tingkat 2 keluar sambil membawa tas.
Aku melihat wajah Vina yang tadinya cemberut seketika berubah menjadi ceria. Aku amati Kadet Taruna AKMIL itu menghormat pada mamanya Vina. Satu hal yang membuatku sedikit sakit hati adalah saat Vina menghambur pada pemuda itu dan kulihat Taruna itu mencium pipi Vina. Berdesir darahku serasa mendidih. Vina seperti sengaja melihatku dan menunjukkan kemesraan dengan bergelayut di tangan Taruna yang gagah itu sambil mengajak masuk rumahnya.
Tidak kuat melihat pemandangan itu, Aku pun segera melangkahkan kaki menjauh karena merasa cemburu. “Ahh, kenapa aku cemburu? Vina bukan kekasihku, kan? Tapi, siapa sih Taruna AKMIL itu? Jangan-jangan kekasihnya Vina” Aku pukuli pelan kepalaku sendiri karena tidak tahu kenapa pikiranku jadi kacau begini. “Apa ini yang namanya cemburu?” pikiranku untuk sesaat memberontak.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
