AUBADE MASA SMA (Part 11- Hatiku dan hati Vina)
AUBADE MASA SMA (Part 11- Hatiku dan hati Vina)
Oleh : E.A.Wahyudiono
Entah kenapa Pak Heriyanto guru seni di kelas akhirnya menunjukku sebagai salah satu pemain gitar di tim folksong sekolah untuk lomba minggu mendatang. Sedangkan , Yusli sang ketua OSIS menunjuk Widyas sebagai sebagai penyanyi utama karena dia berpendapat bahwa Widyas anak dari Menado, pasti mempunyai kemampuan vokal dan suara yang bagus.
Saat kami semua sudah berkumpul di aula sekolah, pak Heriyanto menyilakan 4 siswa termasuk aku untuk memilih gitar akustik yag tersedia di situ dan meminta kami untuk menyetem dan menyelaraskan nada satu gitar dengan lainnya agar harmoni. Sambil melakukan hal itu, aku mengamati 4 siswi sebagai penyanyi tim folksong yang sedang berlatih vokal dengan Pak Heriyanto.
Kulihat Vina yang dengan serius berlatih sebagai backing vocal dan Widyas sebagai lead vocalist-nya. Aku amati mereka berdua dari kejauhan. “Hmm, benar rupanya, dua gadis itu cantik semua. Makanya banyak cowok yang berusaha merebut hatinya” aku berpikir seperti itu sambil tersenyum. Jika aku disuruh memilih, pastilah Vina, namun sayang dia sudah punya kekasih yang Taruna Akmil itu. Saat itu, senyumku menjadi hilang.
“Adri, kok kamu melamun, ayo kita cocokan nada senar gitar kita” Tiba-tiba Yusli sudah menggeser kursinya dan duduk di depanku. Aku pun segera mengerjakan seperti apa dia minta. Di tengah kita berdua menyetem masing-masing gitar, Yusli bertanya yang membuatku tersenyum,”Eh, kamu kenal dekat dengan Widyas nggak? Jika iya, carikan info, dia sudah punya kekasih apa belum, gitu ya? Kamu kan temanku baik, aku minta tolong nih”.
Aku hanya mengangguk saja sambil mengatakan untuk mencari tahu hal itu. “ Kamu suka pada dia ya?” tanyaku penuh selidik padanya. “Ada deh, nanti aku ceritakan saat ada waktu luang ya” janji Yusli padaku. Setelah Pak Heriyanto guru seni melatih 4 anak putri, kini giliran kami berempat para pemain gitar diberi arahan. Yusli sebagi lead guitarist, aku di melodi, dan kedua temanku lainnya adalah masih adik kelasku, yaitu Edi dan Arga dari kelas X IPS sebagai gitar pengiring.
Sambil duduk di kursi untuk mengatur nafas setelah berlatih vokal yang melelahkan, Vina mengambil minuman air mineral dan menawarkannya pada Widyas sambil mengenalkan dirinya. Widyaspun menyambut perkenalan itu. Vina mengagumi siswi baru anak Pangdam ini. Itu artinya ayah Widyas adalah atasan dari ayah Vina, apalagi pangkat ayahnya adalah Letnan Jenderal dan itu bukan orang sembarangan di dunia militer. Vina merasakan bahwa perkenalan dengan Widyas rasanya masih kaku,"Apa aku cemburu padaWidyas ya. Huuh, .tapi aku gak berhak dan nggak boleh begitu, Adri bukan pacarku meskipun sejujurnya aku mencintai Adri" Vina berusaha menenangkan hatinya.
Vina minum perlahan sambil memperhatikan Adri yang serius menerima arahan dan latihan dari guru seni tersebut. “Adri kapan juga latihan bermain gitar ya, kok perasaan aku belum pernah melihatnya bermain gitar, tapi kok bisa ya? Hebat tuh!” Rasa penasaran di hati Vina muncul. Vina sangat menyukai Adri yang bisa bermain gitar karena hal itu dianggap sebagai cowok yang romantis dan penuh kasih sayang.
Untuk Sesaat Vina merasa hatinya sangat sedih dan jengkel saat teringat dan mendengar dari bibir Adri yang mengatakan belum punya kekasih dan hanya mau konsentrasi belajar. Kalimat itu dia dengar sendiri saat mamanya menanyakan pada Adri pada waktu diundang ke rumah beberapa pekan yang lalu. “Seandainya Adri tahu, aku sangat menyukai dia" desahnya lirih. "Aku ini wanita, rasanya malu jika mengatakan bahwa aku menyukai dia terlebih dahulu. Sebaiknya aku menunggu dia yang mengatakannya”.
Apalagi dia mendengar rumor bahwa Widyas, murid baru dari Menado itu juga dekat dengan Adri. Vina merasa bahwa dirinya pasti akan kalah bersaing dengan gadis cantik anak dari seorang Jenderal. Melihat baju, sepatu, pakaian dan tas yang dipakai Widyas sudah menunjukkan bahwa dia adalah anak dari orang yang berpunya. Hatinya kembali pilu. Vina juga merasa bahwa akhir-akhir ini Adri cuek pada dirinya.
Begitu acara latihan folksong sesi pertama selesai, pak Heriyanto meminta latihan selanjutnya akan diadakan pada hari minggu di rumah Widyas. Beliau tadi mendapat tawaran dari Widyas untuk berlatih di sana yaitu rumah dinas Panglima Kodam di daerah perumahan militer dekat rumahku dan rumah Vina juga.Beliau menyampaikan bahwa jika sering berlatih pada jam pelajaran ditakutkan anggota tim folksong akan ketinggalan pelajarannya. Kami semua menyatakan kesanggupan untuk datang, terutama Yusli yang terlihat paling senang.
“Adri, maukan kamu menemaniku pulang berjalan kaki bersama denganku? Ada yang mau aku bicarakan denganmu” tiba-tiba Vina sudah berdiri di sampingku dan mengajakku saat aku berkemas-kemas merapikan semua peralatan musik di aula. Aku menoleh dan menganggukkan kepala saja sambil melihat sorot matanya yang masih tajam menusuk hatiku. "Vina mau bicara apa ya?" hatiku menduga-duga. Aku sempat mengamati Widyas yang juga berkemas pulang berusaha mencuri dengar pembicaraan kami berdua.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
