Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
AUBADE MASA SMA (Part 12- Aku Mencintaimu)
ilustrasicritadari.beautynesia.id

AUBADE MASA SMA (Part 12- Aku Mencintaimu)

AUBADE MASA SMA (Part 12- Aku Mencintaimu…)

Oleh : E.A.Wahyudiono

 

Melihat Widyas yang tersipu karena tertangkap mencuri dengar pembicaraanku dengan Vina, dia pura-pura segera megikat tali sepatunya.Aku pun, juga berpura-pura tidak tidak tahu akan hal itu. Agar suasana tidak kaku, aku pamit pada Widyas untuk pulang terlebih dahulu. Aku berjanji dan berusaha datang  pada hari minggu di rumahnya untuk gladi bersih lomba folksong .

Juga agar tidak diketahui oleh guru dan teman-temanku lainnya, Aku segera menuju pintu gerbang sekolah dan menunggu Vina di situ. Aku tidak mau terlihat keluar dari aula bersama dengan Vina. Itu semata menjaga agar tidak ada rumor tentang Vina yang berteman dekat dengan anak dari anak buah ayah Vina di sekolah.

Saat menunggu Vina datang, tiba-tiba ada mobil dinas tentara warna hijau daun tua. Aku amati pelat nomer mobil ada simbol bintang tiga. Itu berarti mobil dinas milik perwira tinggi atau setingkat Jenderal. Pintu mobil terbuka dan seorang tentara dengan pangkat Kapten keluar dari pintu yang masih tetap terbuka. Dia menuju ke arahku,”Maaf, dik, apakah anak-anak yang berlatih folksong untuk lomba sudah pulang?” tanyanya padaku. Aku hanya menduga-duga saja. Dia pasti ajudan Pangdam yang bertugas menjemput Widyas.

Belum sempat aku menjawab pertanyaan Kapten tadi, Widyas menepuk punggungku sambil berteriak, “Hayo, nunggu aku ya?” Aku tidak tahu kapan dia muncul di belakangku. “Ayo, ikut pulang bersamaku dengan mobil dinas ayahku!" ajak Widyas dan menarik tanganku untuk ikut masuk ke mobil yang menjemputnya. Dengan sopan, aku pun menolaknya dan mengatakan bahwa aku sedang menunggu seseorang untuk pulang bersama.

Seketika wajahnya berubah, “Pasti kamu nunggu Vina, ya?” tanyanya dengan nada menebak. Aku mengangguk dan tersenyum padanya. “Ya sudah, nggak mau diajak pulang bareng, ya sudah!” kata Widyas padaku dengan nada ketus dan dia segera masuk mobil. Kaget juga Widyas melihat dia yang biasanya  ramah bisa menjadi judes gitu. Mobilnya belum juga berangkat dan kaca pintu sedan dinas itu bergerak turun, “Adri, kamu yakin nggak ikut aku pulang bareng? Aku antar sampai rumahmu lho?” teriak Widyas lagi.

“Lain kali saja ya!, terimakasih tawarannya” jawabku sambil melambaikan tangan padanya. Mobil itu pun segera berlalu pergi. “Vina, kok lama ya?" desahku lirih. Tiba-tiba dari balik dinding pintu gerbang muncul Vina dengan wajah cemberut. “Diajak pulang bersama Widyas kok gak mau, kenapa?” Aku kaget juga Vina berkata begitu. Ternyata dia dari tadi mendengar ajakan Widyas padaku untuk pulang bersamanya dengan mobil sedan dinas ayahnya. “Lho, aku khan sudah janji untuk pulang denganmu. Katanya ada yang mau dibicarakan denganku” tukasku sedikit penasaran.

Selama berjalan kaki dari sekolah menuju rumah, kami melewati lapangan Kodam yang sangat luas dan dipinggir jalan yang lebar itu berjejer pohon flamboyan yang sangat indah bila berbunga. “Sebetulnya mau bicara masalah apa sih?” tanyaku memulai kebekuan selama kami berdua berjalan kaki.

Vina bercerita bahwa dia merasakan keanehan pada diriku semenjak kakak sepupunya, yang Taruna Akmil Tingkat 2 itu datang ke rumah, aku jadi berubah. Dia merasa sedih karena dia menganggap aku menjauhinya. “Haah, jadi Taruna Akmil itu ternyata bukan kekasih Vina? Dia kakak sepupunya? Ya Tuhan, kenapa aku bodoh sekali. Aku kira dia pacarnya” Hatiku langsung berdebar dan tersenyum bahagia mendengar dia bercerita hal itu. Aku tidak menjawab ceritanya atau mengatakan apa-apa akan hal itu.

Secara reflek aku gandeng jemari tangannya dan menyebrang jalan menuju rumahnya. Vina diam saja dan wajahnya tersipu kaget saat aku melakukan hal itu. Sampai di depan pagar rumahnya, aku tatap wajahnya yang cantik itu. “Kali ini aku harus memberanikan dia untuk menyatakan bahwa aku mencintainya. Jika tidak sekarang, nanti keburu ada yang menembak dia” hatiku mendesak bibirku  untuk mengucapkan kalimat itu.

“Vina, ada yang mau aku katakan padamu sejak lama, sebenarnya sejak kelas 1 SMA, aku…hemmm,..” Aku terdiam sejenak karena gemetar. Vina menundukkan wajahnya sambil memainkan sepatunya di tanah. “Aku sungguh men….” Tiba-tiba kalimatku terpotong oleh suara keras, "Nak Adri!, Vina!?, kenapa masih berdiri di luar? Ayo masuk rumah!” teriak mama Vina sambil menuju ke arah kami di pagar rumah. Secara reflek, aku lepaskan tangan Vina. Aku takut bila ketahuan.

Bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post